India Pesan 6 Sistem Roket Multibarel Pinaka untuk Disebar di Dekat China

Selasa, 01 September 2020 - 15:34 WIB
loading...
India Pesan 6 Sistem...
Sistem roket Pinaka yang dioperasikan militer India. Foto/Hindustan Times
A A A
NEW DELHI - India telah memesan enam sistem roket terpandu multibarel Pinaka untuk disebar di dekat perbatasan China di Ladakh. Langkah ini diambil setelah ketegangan kedua negara di perbatasan yang disengketakan kembali memanas.

Sistem roket terpandu multibarel Pinaka mampu menghancurkan target berukuran 900 meter persegi, karena dapat membuang 7,2 ton bahan peledak tinggi ke target yang berjarak 80 km dalam waktu 48 detik, dengan akurasi 25 meter.

Kementerian Pertahanan India mengatakan untuk memberikan daya tembak kepada 1,3 juta tentara India, kementerian telah menandatangani kesepakatan senilai USD380 juta dengan Tata Power Company, Larsen & Toubro dan Bharat Earth Movers Ltd untuk mendapatkan enam sistem roket Pinaka, yang terdiri dari 114 peluncur, untuk digunakan bersama di dekat perbatasan China. (Baca: Para Tentara China dan India Bentrok Tangan Kosong di Pangong Tso )

"Enam resimen Pinaka ini akan dioperasionalkan di sepanjang perbatasan utara dan timur negara kita, yang selanjutnya meningkatkan kesiapan operasional Angkatan Bersenjata kita," bunyi pernyataan yang dikeluarkan oleh kementerian pertahanan, seperti dikutip Sputnik, Selasa (1/9/2020).

Ini adalah pertama kalinya pemerintah mengizinkan perusahaan swasta untuk membuat roket Pinaka, yang secara bertahap akan menggantikan SMERCH Rusia, yang mampu meratakan area seluas 1,1 kilometer persegi.

Angkatan Darat India berniat memiliki 22 resimen Pinaka pada tahun 2026, termasuk 12 resimen peluru kendali Pinaka. Setiap resimen akan terdiri dari tiga baterai dari enam peluncur Pinaka yang dipasang di truk Tatra.

Unit-unit tersebut dirancang dan dikembangkan oleh Organisasi Penelitian dan Pengembangan Pertahanan (DRDO). Pinaka juga dapat mengirimkan hulu ledak nuklir dalam jarak pendek.

Bulan lalu, Menteri Pertahanan India Rajnath Singh telah mengumumkan larangan mutlak atas impor peralatan pertahanan termasuk sistem senjata berteknologi tinggi seperti senjata artileri, senapan serbu, korvet, sistem sonar, pesawat angkut, helikopter tempur ringan, dan radar.

Namun, dalam beberapa hari terakhir ketegangan India dan China di wilayah perbatasan Ladakh yang disengketakan kembali memanas. Para tentara kedua pihak bentrok tangan kosong di Pangong Tso, timur Ladakh, pada malam hari tanggal 29-30 Agustus.

Tak ada korban jiwa dalam bentrokan tersebut. India menuduh tentara China melalukan gerakan militer provokatif untuk mengubah status quo Ladakh. Namun, Beijing telah membantah tuduhan itu dan menuntut New Delhi menarik pasukannya dari Ladakh.(Baca juga: Reaksi Panglima TNI soal Insiden Penyerangan Mapolsek Ciracas )

Tentara kedua negara sebelumnya terlibat bentrok mematikan di Ladakh pada pertengahan Juni. India mengakui bahwa 20 tentaranya tewas dalam pertengkaran itu. Sedangkan China merahasiakan berapa jumlah tentaranya yang kemungkinan tewas.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Tegang dengan NATO,...
Tegang dengan NATO, Pesawat Pengebom Nuklir Rusia Berkeliaran di Arktik
China Tuduh Militer...
China Tuduh Militer Jepang Mengganggu Latihan Tempur Kapal Induk Liaoning
Viral, Robot China Ini...
Viral, Robot China Ini Mengemis di Jalan untuk Bayar Listrik
Tuduh AS Biang Kisruh,...
Tuduh AS Biang Kisruh, Kim Jong-un: Korut Akan Jalankan Posisinya sebagai Negara Nuklir
Tuntut Menteri Pendidikan...
Tuntut Menteri Pendidikan Mundur, Pendukung Partai Kecoa Berkemah di Jalanan
AS Kerahkan Sistem Rudal...
AS Kerahkan Sistem Rudal Canggih Typhon ke Jepang, Dapat Menargetkan China
Standar Keselamatan...
Standar Keselamatan Kendaraan Listrik Baru China Lebih Ketat!
PM Inggris Keir Starmer...
PM Inggris Keir Starmer Umumkan Pengunduran Diri
Catat! Biaya Visa Masuk...
Catat! Biaya Visa Masuk Jepang Naik 5 Kali Lipat, Jadi Rp1,7 Juta
Rekomendasi
Kisah Inspiratif Nasabah...
Kisah Inspiratif Nasabah PNM Warnai Grand Final Pro Futsal League 2026
Nanik S Deyang Bakal...
Nanik S Deyang Bakal Diperiksa di Kasus Dugaan Korupsi MBG? Kejagung: Iya Berpotensi
PT MNC Vision Networks...
PT MNC Vision Networks Tbk Berpartisipasi dalam Jalan Sehat Hari Donor Darah Sedunia 2026 di Monas
Berita Terkini
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
PM Pakistan: AS dan...
PM Pakistan: AS dan Iran akan Bahas Program Rudal Balistik dan Isu Nuklir dalam 60 Hari ke Depan
Awas, AI dalam Beberapa...
Awas, AI dalam Beberapa Bulan Lagi Bisa Lumpuhkan Pemerintahan di Berbagai Negara
Netanyahu Ingin Israel...
Netanyahu Ingin Israel Bebaskan Diri dari Ketergantungan Persenjataan pada AS
Iran Bisa Terima Rp894...
Iran Bisa Terima Rp894 Triliun dalam Bentuk Keringanan Sanksi sesuai Kesepakatan Akhir
AS Mediasi Perundingan...
AS Mediasi Perundingan Lebanon-Israel, Bahas Kemungkinan Penarikan Zionis dari Lebanon Selatan
Infografis
6 Pulau yang Jadi Target...
6 Pulau yang Jadi Target Invasi Darat AS di Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved