Ketegangan Meningkat, China Tahan Pembawa Acara TV Asal Australia

Selasa, 01 September 2020 - 14:32 WIB
loading...
Ketegangan Meningkat,...
Cheng Lei pembawa acara stasiun TV milik China asal Australia ditahan di Beijing. Foto/Al Jazeera
A A A
CANBERRA - Seorang pembawa acara stasiun televisi (TV) China asal Australia ditahan di Beijing. Penahanan tersebut terjadi saat ketegangan antara kedua negara meningkat.

Menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh Menteri Luar Negeri Australia, Marise Payne, Canberra menerima "pemberitahuan resmi" tentang penahanan Cheng Lei pada 14 Agustus. Pejabat konsuler telah berbicara dengannya melalui video call pada 27 Agustus lalu.

Payne mengatakan kepada stasiun radio Sydney 2GB bahwa Cheng ditahan di China tanpa dakwaan dan dapat ditahan selama berbulan-bulan.

"Proses dalam sistem China tidak memerlukan peletakan dakwaan pada saat ini, tetapi kami akan terus mencari informasi tentang itu dan berapa lama dia bisa ditahan tanpa tuduhan yang dikenakan di bawah sistem China," katanya kepada stasiun radio seperti dinukil dari CNN, Selasa (1/9/2020).

Dalam sebuah pernyataan, keluarga Cheng mengatakan mereka sedang berkonsultasi erat dengan pemerintah Australia.

"(Kami) melakukan semua yang kami bisa sebagai keluarga untuk mendukung Cheng Lei," bunyi pernyataan itu.

"Di China, proses hukum akan dipantau dan kami mengharapkan kesimpulan yang memuaskan dan tepat waktu untuk masalah ini," sambung pernyataan itu.

Cheng adalah pembawa berita bisnis di CGTN, cabang internasional dari CCTV stasiun televisi milik negara China. Sejak penahannya, pihat stasiun TV telah menghapus semua referensi tentangnya dari situs web dan media sosialnya.(Baca: Mata-mata Asing Ingin Curi Rahasia Militer Australia, China Jadi Tersangka )

Menurut profilnya yang dihapus, Cheng bergabung dengan penyiar yang berbasis di Beijing pada tahun 2012, setelah sembilan tahun bertugas di jaringan berita keuangan Amerika Serikat (AS) CNBC. Dia adalah salah satu pembawa berita utama CGTN, memandu acara "Bisnis Global" harian, melakukan wawancara profil tinggi, serta mendorong "inovasi konten" serta mengambil bagian dalam proyek khusus.

Di waktu senggangnya, Cheng aktif di komunitas Australia di Beijing, mengikuti acara di Kamar Dagang Australia dan bertindak sebagai "duta alumni" untuk kedutaan negara.

Postingan terakhirnya di WeChat, aplikasi jejaring sosial China, menunjukkan dirinya menghadiri pembukaan gerai Shake Shack di Beijing pada 12 Agustus, restoran pertama yang dibuka di China oleh jaringan makanan asal AS. Berpose dengan gaun hijau cerah, Cheng memberi caption pada foto-foto tersebut dengan tagar "buat goyang, bukan perang."

Alasan penahanan Cheng masih belum jelas. CGTN dan Kementerian Luar Negeri China tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Hubungan antara Australia dan China telah memburuk dalam beberapa bulan terakhir. Setelah Australia menyerukan penyelidikan tentang asal-usul pandemi virus Corona, Beijing menargetkan Negeri Kanguru itu atas perdagangan, menangguhkan beberapa impor daging sapi, dan memberlakukan tarif tinggi pada jelai. China juga mengatakan pada Senin kemarin akan menyelidiki apakah ekspor anggur Australia telah disubsidi secara tidak adil.(Baca: Bukan Gertak Sambal, China Realisasikan Ancamannya pada Australia )

Minggu lalu, Australia secara efektif memblokir penjualan bisnis susu ke sebuah perusahaan China, mengklaim akuisisi tersebut "akan bertentangan dengan kepentingan nasional."
(ber)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Menipu hingga Rp17,8...
Menipu hingga Rp17,8 Triliun untuk Hidup Mewah, Miliarder Ini Dipenjara 30 Tahun
Media Pemerintah China:...
Media Pemerintah China: Jepang Benar-benar Simulasikan Serangan terhadap Kapal Induk Liaoning
Pembangkang China Ini...
Pembangkang China Ini Kabur ke Korea Selatan dengan Perahu Karet, Sekarang Muncul di Kanada
6 Pesawat Pengebom Nuklir...
6 Pesawat Pengebom Nuklir China dan Rusia Manuver Gabungan Dekati Jepang
Xi Jinping dan Akhir...
Xi Jinping dan Akhir dari Narasi Kebangkitan Damai China
China Selidiki Insiden...
China Selidiki Insiden Pesawat Tabrak Gedung Tertinggi, Pilot Tewas, 13 Orang Luka
Masyarakat Indonesia...
Masyarakat Indonesia Bangun Islamic Centre Pertama dan Terbesar di Melbourne dari Eks Kantor Polisi
Korban Tewas Gempa Dahsyat...
Korban Tewas Gempa Dahsyat Venezuela Mencapai 920 Orang, Pencarian Korban Masih Berlangsung
Janggal, Jubir Angkatan...
Janggal, Jubir Angkatan Laut Garda Revolusi Iran Tewas akibat Kecelakaan
Rekomendasi
Perkuat Industri Maritim,...
Perkuat Industri Maritim, BKI Dorong Kolaborasi PIKKI Bersama PT PAL
Kejutan! Maroko Singkirkan...
Kejutan! Maroko Singkirkan Belanda Lewat Drama Adu Penalti
Betrand Peto Ungkap...
Betrand Peto Ungkap Momen Canggung Ruben Onsu Bertemu Sarwendah Sebelum Berangkat Umrah
Berita Terkini
Rusia dan Ukraina Makin...
Rusia dan Ukraina Makin Jauh dari Perdamaian, Apa Pemicunya?
Iran Ngamuk, Luncurkan...
Iran Ngamuk, Luncurkan Serangan Siber 3 Kali Lipat terhadap Israel
Trump Ingin Beri Turki...
Trump Ingin Beri Turki Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kongres Siap Blokir dengan Alasan S-400 Rusia
5 Momen Penyelamatan...
5 Momen Penyelamatan Korban Gempa Venezuela yang Mengharukan
Menipu hingga Rp17,8...
Menipu hingga Rp17,8 Triliun untuk Hidup Mewah, Miliarder Ini Dipenjara 30 Tahun
5 Alasan Putin Menolak...
5 Alasan Putin Menolak Perjanjian Batasan Serangan Jarak Jauh dengan Ukraina
Infografis
Kronologi Kasus Perdagangan...
Kronologi Kasus Perdagangan 25 Bayi Asal Jabar ke Singapura
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved