Misteri Penjara Sednaya, Lokasi Rezim Assad Siksa dan Eksekusi Pejuang Oposisi Suriah
Sabtu, 14 Desember 2024 - 22:25 WIB
loading...
A
A
A
Kondisi berubah di bawah pemerintahan rezim Assad. Fasilitas itu kemudian lebih dikenal sebagai tempat penyiksaan dan pembunuhan penentang pemerintah.
Kelompok hak asasi manusia internasional mengatakan puluhan ribu orang pernah ditahan di Sednaya. Mereka disiksa, dipukuli, bahkan tidak diberi makanan, air, obat-obatan hingga sanitasi dasar.
Laporan Amnesty dan investigasi terpisah oleh PBB menemukan bahwa otoritas Suriah sengaja membasmi tahanan di Sednaya setelah puas menyiksa dan menahan mereka. Kekejamannya bahkan mencapai tahap penyerangan secara seksual seperti dipukul di bagian alat kelamin atau dipaksa memperkosa dan membunuh satu sama lain.
Pada 2017, Amerika Serikat menuduh pemerintah Suriah menggunakan krematorium untuk menyembunyikan pembunuhan massal di Sednaya. Washington juga menyebutkan metode penyiksaan fisik seperti pemukulan, penusukan, penyerangan seksual, sengatan listrik hingga pemotongan telinga serta alat kelamin.
Beberapa orang yang berhasil dibebaskan menggambarkan penjara itu seperti rumah jagal. Para tahanan di sana dibiarkan mati karena luka dan penyakit, serta tidak diobati di sel-sel yang kotor dan penuh sesak. Belum lagi, ada ketentuan tahanan hanya diberi waktu beberapa detik untuk menggunakan jamban dan diberikan makanan basi.
Setiap pagi, para penjaga mengumpulkan jenazah tahanan yang meninggal semalam dan membawanya ke rumah sakit militer untuk dicatat sebagai kasus gagal jantung atau pernapasan. Kemudian, mereka diangkut dengan truk ke kuburan massal di luar Damaskus.
Selain mati karena penyakit atau kelaparan, sebagian tahanan lain juga dieksekusi secara rahasia. Laporan Amnesty pada tahun 2017 menyebut ribuan tahanan digantung setelah pengadilan palsu yang berlangsung hanya beberapa menit.
Kelompok hak asasi manusia internasional mengatakan puluhan ribu orang pernah ditahan di Sednaya. Mereka disiksa, dipukuli, bahkan tidak diberi makanan, air, obat-obatan hingga sanitasi dasar.
Laporan Amnesty dan investigasi terpisah oleh PBB menemukan bahwa otoritas Suriah sengaja membasmi tahanan di Sednaya setelah puas menyiksa dan menahan mereka. Kekejamannya bahkan mencapai tahap penyerangan secara seksual seperti dipukul di bagian alat kelamin atau dipaksa memperkosa dan membunuh satu sama lain.
Pada 2017, Amerika Serikat menuduh pemerintah Suriah menggunakan krematorium untuk menyembunyikan pembunuhan massal di Sednaya. Washington juga menyebutkan metode penyiksaan fisik seperti pemukulan, penusukan, penyerangan seksual, sengatan listrik hingga pemotongan telinga serta alat kelamin.
Beberapa orang yang berhasil dibebaskan menggambarkan penjara itu seperti rumah jagal. Para tahanan di sana dibiarkan mati karena luka dan penyakit, serta tidak diobati di sel-sel yang kotor dan penuh sesak. Belum lagi, ada ketentuan tahanan hanya diberi waktu beberapa detik untuk menggunakan jamban dan diberikan makanan basi.
Setiap pagi, para penjaga mengumpulkan jenazah tahanan yang meninggal semalam dan membawanya ke rumah sakit militer untuk dicatat sebagai kasus gagal jantung atau pernapasan. Kemudian, mereka diangkut dengan truk ke kuburan massal di luar Damaskus.
Selain mati karena penyakit atau kelaparan, sebagian tahanan lain juga dieksekusi secara rahasia. Laporan Amnesty pada tahun 2017 menyebut ribuan tahanan digantung setelah pengadilan palsu yang berlangsung hanya beberapa menit.
Lihat Juga :