Tantangan Berat Menanti PM Baru Jepang
Selasa, 01 September 2020 - 06:35 WIB
loading...
A
A
A
Dengan kondisi kesehatan yang memburuk, Abe telah mengundurkan diri pada akhir pekan lalu atau setahun sebelum masa jabatannya habis pada tahun depan. Pengunduran diri Abe telah membuka persaingan politik di antara para anggota LDP. (Baca juga: Ngamuk di Acara Agustusan, 22 Anggota Ormas Dibekuk)
Abe merupakan pemimpin dengan masa jabatan terpanjang di sejarah pemerintahan Jepang sejak berakhirnya Perang Dunia II. Dia terpilih pada Desember 2012 dengan perolehan suara memuaskan. Popularitasnya tumbuh pesat setelah dia sukses mengeluarkan Jepang dari gelembung resesi.
Perekonomian Jepang sempat terancam ambruk setelah munculnya berbagai masalah serius, seperti rendahnya inflasi, turunnya produktivitas tenaga kerja, dan meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia (lansia). Namun, melalui program pemerintah yang diusung Abe dan kabinetnya, Jepang mampu bertahan tanpa keraguan berarti.
Abe juga menjadi salah satu pemimpin Jepang yang sukses menjalin hubungan bilateral kuat dengan berbagai negara di dunia. Dia bahkan berupaya keras menjaga stabilitas politik kawasan dengan tidak banyak menyinggung China, Korea Selatan (Korsel), dan Korea Utara (Korut), sekalipun sering terjadi ketegangan, terutama di wilayah maritim.
Dengan kepemimpinan tersebut, sebagian orang merasa pesimistis masa depan Jepang akan suram jika Abe mengundurkan diri mengingat situasinya sedang sulit. Sejauh ini Abe tidak mengeluarkan pengumuman resmi akan mundur. Namun, belakangan ini dia telah keluar masuk Rumah Sakit (RS) Keio untuk mengobati penyakit radang usus yang sudah dideritanya sejak lama.
Para ahli menilai alasan kesehatan akan menjadi jalan agung bagi Abe untuk meninggalkan kantor perdana menteri. Tahun ini Jepang telah dilanda wabah virus Covid-19. Selain banyak acara pameran dan olahraga berskala internasional yang dibatalkan atau ditunda, roda ekonomi Jepang juga turut macet. Tantangan ini akan kian berat bagi Abe jika kondisi kesehatannya terus minus.
Kubu oposisi juga tak pernah berhenti memberikan tekanan dan kritikan. Mereka menilai tindakan pemerintah sangat lambat dalam menanggulangi Covid-19. Berdasarkan jajak pendapat Nikkei TV pada Mei, sebanyak 55% responden mengaku tidak setuju dan tidak puas dengan langkah penanggulangan Covid-19 di Jepang. Tapi, menurut NHK, sebanyak 58% responden senang dengan program Abe.
Para pendukung Abe mengatakan pergantian PM saat ini tidak diperlukan, kecuali sudah darurat. Menurut mereka, program yang dirumuskan Abe perlu dilanjutkan agar tidak terjadi kekacauan dan kebingungan di tengah masyarakat yang sedang menghadapi krisis ekonomi dan kesehatan. Kepemimpinan Abe diperlukan dalam situasi saat ini.
Abe merupakan pemimpin dengan masa jabatan terpanjang di sejarah pemerintahan Jepang sejak berakhirnya Perang Dunia II. Dia terpilih pada Desember 2012 dengan perolehan suara memuaskan. Popularitasnya tumbuh pesat setelah dia sukses mengeluarkan Jepang dari gelembung resesi.
Perekonomian Jepang sempat terancam ambruk setelah munculnya berbagai masalah serius, seperti rendahnya inflasi, turunnya produktivitas tenaga kerja, dan meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia (lansia). Namun, melalui program pemerintah yang diusung Abe dan kabinetnya, Jepang mampu bertahan tanpa keraguan berarti.
Abe juga menjadi salah satu pemimpin Jepang yang sukses menjalin hubungan bilateral kuat dengan berbagai negara di dunia. Dia bahkan berupaya keras menjaga stabilitas politik kawasan dengan tidak banyak menyinggung China, Korea Selatan (Korsel), dan Korea Utara (Korut), sekalipun sering terjadi ketegangan, terutama di wilayah maritim.
Dengan kepemimpinan tersebut, sebagian orang merasa pesimistis masa depan Jepang akan suram jika Abe mengundurkan diri mengingat situasinya sedang sulit. Sejauh ini Abe tidak mengeluarkan pengumuman resmi akan mundur. Namun, belakangan ini dia telah keluar masuk Rumah Sakit (RS) Keio untuk mengobati penyakit radang usus yang sudah dideritanya sejak lama.
Para ahli menilai alasan kesehatan akan menjadi jalan agung bagi Abe untuk meninggalkan kantor perdana menteri. Tahun ini Jepang telah dilanda wabah virus Covid-19. Selain banyak acara pameran dan olahraga berskala internasional yang dibatalkan atau ditunda, roda ekonomi Jepang juga turut macet. Tantangan ini akan kian berat bagi Abe jika kondisi kesehatannya terus minus.
Kubu oposisi juga tak pernah berhenti memberikan tekanan dan kritikan. Mereka menilai tindakan pemerintah sangat lambat dalam menanggulangi Covid-19. Berdasarkan jajak pendapat Nikkei TV pada Mei, sebanyak 55% responden mengaku tidak setuju dan tidak puas dengan langkah penanggulangan Covid-19 di Jepang. Tapi, menurut NHK, sebanyak 58% responden senang dengan program Abe.
Para pendukung Abe mengatakan pergantian PM saat ini tidak diperlukan, kecuali sudah darurat. Menurut mereka, program yang dirumuskan Abe perlu dilanjutkan agar tidak terjadi kekacauan dan kebingungan di tengah masyarakat yang sedang menghadapi krisis ekonomi dan kesehatan. Kepemimpinan Abe diperlukan dalam situasi saat ini.
Lihat Juga :