5 Negara Mayoritas Islam yang Hancur Karena Campur Tangan AS, Nomor 3 Manfaatkan Media untuk Hancurkan Rezim

Sabtu, 07 Desember 2024 - 13:10 WIB
loading...
5 Negara Mayoritas Islam...
Pejuang Taliban di Afghanistan. Foto/anadolu
A A A
KABUL - Terdapat lima negara mayoritas Islam yang hancur karena campur tangan Amerika Serikat (AS). Sebagai negara adidaya, AS memang biasa memberikan bantuan dan dukungan ke negara-negara lain.

Sayangnya bantuan dan dukungan tersebut tidak berlaku untuk kelima negara mayoritas Islam ini.

Di mana negara-negara ini justru mengalami kehancuran, yang membuat mereka harus membangun kembali negaranya dari awal.

5 Negara Mayoritas Islam yang Hancur Karena Campur Tangan Amerika

1. Afghanistan


Selama Perang Dingin, baik AS maupun Uni Soviet berusaha mendapatkan pijakan di Afghanistan, pertama melalui investasi infrastruktur dan kemudian intervensi militer.

Amerika Serikat sudah mulai menjalin hubungan dengan Afghanistan sejak tahun 1950-an, di mana negara tersebut sedang menjalani serangkaian proyek modernisasi, dan berupaya untuk benar-benar membangun negara-bangsa modern di bawah pimpinan Raja Zahir Shah, dan kemudian diikuti sepupunya Presiden Mohammad Daoud Khan.

Ada banyak uang yang mengalir dari AS maupun Soviet ke Afghanistan, dan itu benar-benar menjadi landasan bagi apa yang akhirnya menjadi hubungan militer yang lebih formal dengan dua negara tersebut.

Namun perlahan AS justru mulai menyalurkan uang secara perlahan kepada beberapa kelompok perlawanan setelah Daoud Khan secara resmi digulingkan dan mulai mendirikan pemerintahan Marxis-Leninis.

Dari sinilah kesalahan AS mulai terlihat, di mana mereka justru bersekutu dengan elemen-elemen yang lebih reaksioner yang berujung pada semakin meluasnya konflik di negara tersebut.

Hingga setelah Perang Dingin, Taliban berhasil berkuasa di Afghanistan diikuti dengan AS dan Uni Soviet yang meninggalkan negara tersebut.

Tidak cukup sampai di situ, AS justru kembali datang dengan cara menginvasi Afghanistan setelah tragedi 9.11, tanpa tujuan yang jelas.

Dari sinilah Taliban yang secara tidak langsung dibentuk oleh AS, lenyap dan terbagi menjadi kelompok pemberontak kecil.

2. Irak


Amerika Serikat juga ikut campur ketika sedang terjadi perang Iran dan Irak, dimana Negeri Paman Sam memainkan politik dua kaki. Mereka menyuplai persenjataan untuk kedua negara yang berperang.

Tidak cukup sampai di situ, AS juga melakukan invasi terhadap Irak, yang berlangsung selama kurang lebih satu bulan, pada tahun 2003. Sebanyak 150.000 pasukan AS menduduki negara tersebut secara paksa.

Menurut para sejarawan, kekuasaan Saddam Hussein dapat berlangsung lama karena diyakini bekerjasama dengan AS, tepatnya para agen CIA.

Akan tetapi, pada 2003, AS justru melakukan invasi kepada Irak setelah pengaruh Saddam Hussein mulai memudar.

Selama Saddam Hussein berkuasa, AS menganggap Irak berpotensi untuk menjadi ancaman bagi kepentingannya di kawasan Teluk.

AS juga berdalih jika negara tersebut memiliki senjata pemusnah massal.

3. Libya


Sebelum rezim Muammar Khadafi runtuh, sebenarnya Libya adalah negara yang menjanjikan dengan besarnya tambang minyak bumi mereka.

Namun kala itu Khadafi enggan untuk bekerja sama dengan Barat dalam hal sumber daya alam mereka.

Hal ini membuat media-media AS memberitakan keburukan pemerintahan Khadafi yang menyebabkan terjadinya perang saudara di wilayah tersebut.

Pada perkembangannya, perang saudara di Libya dicampuri negara-negara barat yang tergabung dalam NATO.

Pada tahun 2011, pasukan NTC yang didukung NATO berhasil melumpuhkan pasukan Khadafi di Sirte. Dalam penyerangan tersebut, Khadafi tewas dengan luka tembak di kepala.

Keberhasilan penggulingan rezim Khadafi tidak dibarengi dengan munculnya kesejahteraan masyarakat Libya, namun malah menghasilkan konflik baru yang semakin rumit.

Di antaranya adalah konflik antargolongan yang berebut kekuasaan pasca kejatuhan Khadafi, dan instabilitas harga minyak dunia.

4. Palestina


Sebenarnya AS tidak memiliki campur tangan secara langsung terhadap perkembangan negara Palestina. Namun bantuan Negeri Paman Sam ke sekutu dekat Israel membuat Palestina harus mengalami kehancuran secara perlahan.

Tanpa adanya dukungan AS tidak akan mungkin Israel berani untuk berbuat sesuka hatinya dan membombardir Gaza.

Jika mundur ke belakang, sebenarnya sudah cukup banyak perang yang terjadi di Timur Tengah akibat perebutan wilayah Palestina oleh Israel.

Namun dalam sejarahnya, negara-negara mayoritas Muslim memang belum pernah sekalipun menang menghadapi Israel. Persenjataan modern Negeri Yahudi yang dipasok AS kemungkinan besar menjadi penyebab utamanya.

Meskipun tidak pernah turun tangan secara langsung, keputusan-keputusan AS dalam PBB memang selalu memberatkan Palestina. Mulai dari memerdekakan Israel hingga menjadikan Yerusalem jadi Ibu Kota Israel.

5. Suriah


AS mulai ikut campur dalam urusan negara ini ketika terjadi perang saudara di Suriah. Dari situ AS membuat dua kelompok bersenjata yang awalnya bertujuan untuk meredam pemberontakan yang dilakukan oleh ISIS.

Dua kelompok yang diciptakan AS adalah The Syrian Democratic Forces (SDF) dan The Syrian Free Army (SFA). Bukannya menyelesaikan masalah, dua pasukan itu justru membuat masalah baru dengan Turki.

Keberadaan kelompok itu ditentang Turki, yang mengklaim kelompok tersebut memiliki hubungan langsung dengan PKK, yang diakui sebagai kelompok teroris.

Hingga saat ini kata perdamaian sekaan semakin jauh dari negara Suriah setelah keikutsertaan AS. Bahkan Syrian Observatory for Human Rights mengumumkan jika di tahun 2017, 80% kawasan permukiman dan infrastruktur Kota Raqqa hancur akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) melawan ISIS.

Baca juga: Kesepakatan Keamanan Baru akan Tempatkan Rudal Oreshnik Rusia di Belarusia
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Setelah Saling Serang,...
Setelah Saling Serang, AS dan Iran Sepakat Menahan Diri, Ternyata Ini Pemicunya!
Pakistan Gelar Serangan...
Pakistan Gelar Serangan Darat dan Udara ke Afghanistan, 29 Tentara Taliban Tewas
10 Kali Amerika Serikat...
10 Kali Amerika Serikat dan Iran Duduk di Meja Perundingan, tapi Perang Terus Berlanjut, Ini Penyebabnya
Biden Sebut Trump Pencundang,...
Biden Sebut Trump Pencundang, Narsis, dan Sombong
Begini Cara Bos FIFA...
Begini Cara Bos FIFA Gunakan Geopolitik di Panggung Piala Dunia
Media Pro-IRGC: Iran...
Media Pro-IRGC: Iran Mutlak Harus Memiliki Bom Nuklir
Penembakan di Fan Zone...
Penembakan di Fan Zone Piala Dunia 2026, Satu Orang Tewas dan Satu Kritis
AS Lancarkan Serangan...
AS Lancarkan Serangan Baru ke Iran, Sasar Pertahanan Udara hingga Fasilitas Drone
Pengadilan Kriminal...
Pengadilan Kriminal Internasional Bekukan Uang Eks Presiden Filipina Duterte
Rekomendasi
Pajak JHT Diminta Hapus,...
Pajak JHT Diminta Hapus, Begini Janji Menkeu Purbaya
Brasil Lolos ke 16 Besar...
Brasil Lolos ke 16 Besar usai Comeback Dramatis Singkirkan Jepang
Kawal Kedaulatan Energi...
Kawal Kedaulatan Energi di Jatim, Komut Pertamina Mochamad Iriawan Cek Kesiapan SAF hingga B50
Berita Terkini
3 Alasan Malaysia Lanjutkan...
3 Alasan Malaysia Lanjutkan Pencarian MH370, Operasi Termahal di Dunia
Merasa Dikucilkan di...
Merasa Dikucilkan di NATO, Erdogan Minta Turki Dimasukkan dalam Struktur Keamanan Eropa
Kekurangan Uang, Ukraina...
Kekurangan Uang, Ukraina Terpaksa Bersekongkol dengan Kartel Narkoba Meksiko
Hanya Iran yang Bisa...
Hanya Iran yang Bisa Membuka Selat Hormuz, Ini 3 Alasannya
Aset Iran yang Dibekukan...
Aset Iran yang Dibekukan Rp107 Triliun Segera Cair, Perundingan Digelar di Qatar
Rusia Alami Krisis BBM...
Rusia Alami Krisis BBM Akibat Serangan Efektif Drone Ukraina, Ini 4 Faktanya
Infografis
3 Taktik Cerdas Iran...
3 Taktik Cerdas Iran untuk Kalahkan AS-Israel, Salah Satunya Perang Ala Vietnam
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved