10 Tanda Mengkhawatirkan Meningkatnya Kemiskinan di China
Rabu, 16 Oktober 2024 - 09:42 WIB
loading...
A
A
A
Ketiga, bunuh diri sosial. Baru-baru ini, seorang karyawan perempuan dari China International Capital Corporation (CICC) bunuh diri karena tekanan hipotek setelah pasar real estat anjlok. Demikian pula, seorang lulusan terbaik dari universitas bergengsi di Beijing meninggal di sebuah apartemen sewaan di Xi’an setelah berulang kali gagal dalam wawancara pegawai negeri sipil meski berprestasi dalam ujian.
Kasus-kasus ini menggarisbawahi bagaimana pekerjaan sering kali bergantung pada koneksi, suap, atau favoritisme, yang menyebabkan banyak anak muda China yang menghadapi pengangguran jangka panjang memilih bunuh diri sebagai bentuk protes.
Keempat, generasi “rambut perak”. Biro Statistik Nasional China melaporkan 290 juta warga berusia 60 tahun ke atas, diproyeksikan akan melebihi 400 juta di tahun 2035 dan 500 juta pada 2050.
Ketika ekonomi menurun, perawatan lansia menjadi masalah kritis. Song mengkritik sistem kesejahteraan di China sebagai sistem cacat dan tidak adil, yang menguntungkan orang kaya dan meninggalkan orang miskin dengan dukungan minimal.
Di negara-negara Barat, sistem kesejahteraan berpihak pada orang miskin. Di China, kader CCP dan orang kaya menikmati fasilitas, sementara lansia di pedesaan menghadapi perawatan minimal dan usia tua yang suram.
Kelima, runtuhnya industri katering. Data dari Biro Statistik Beijing menunjukkan bahwa pada paruh pertama tahun ini, total laba untuk perusahaan katering di Beijing dengan pendapatan tahunan melebihi 10 juta Yuan adalah 180 juta Yuan. Angka tersebut menunjukkan tajam sebesar 88,8 persen dibandingkan tahun lalu dengan margin laba serendah 0,37% ini, yang mengindikasikan bahwa seluruh industri katering menghadapi krisis keuntungan yang semakin menipis.
Hingga 21 Desember 2023, lebih dari 1,265 juta bisnis katering di China telah dicabut izinnya, lebih dari dua kali lipat jumlahnya dibanding 2022, dan mencetak rekor sejak tahun 2020.
Pada paruh pertama 2024, sebanyak 1,056 juta bisnis terkait katering di China dicabut dari daftar atau izinnya dicabut. Pada kuartal pertama 2024, hampir 460.000 bisnis katering tutup, meningkat 232% dari periode yang sama tahun lalu.
Banyak restoran baru di China tutup dalam waktu satu atau dua bulan, beberapa bahkan dalam waktu tiga hari. Di tengah kemerosotan ini, muncul industri khusus "pengumpul mayat katering”, yang mengkhususkan diri dalam mengumpulkan serta menjual kembali peralatan dapur dan peralatan makan dari bisnis yang tutup.
Sisa dari bisnis katering yang tutup kemudian menjualnya kembali dalam keadaan bekas. Seorang operator Guangzhou mengatakan bahwa sejak Maret tahun ini, industri katering Guangzhou telah terperangkap dalam gelombang penutupan dan diperkirakan 40 hingga 50 set peralatan katering dapat didaur ulang setiap bulan, 70 persen di antaranya berasal dari restoran Hot Pot dan kedai teh susu.
Keenam, persaingan sengit involusional. Karena kelebihan kapasitas, permintaan domestik yang tidak mencukupi, dan penumpukan inventaris, banyak perusahaan China beralih ke persaingan harga rendah dan perang harga yang agresif.
Misalnya, pada Juli 2024, laba perusahaan baja utama secara nasional turun 88 persen year-on-year dan 90% month-on-month, membuat mereka hampir tidak mendapat untung, dengan hanya 1 persen yang menghasilkan laba kecil.
Kasus-kasus ini menggarisbawahi bagaimana pekerjaan sering kali bergantung pada koneksi, suap, atau favoritisme, yang menyebabkan banyak anak muda China yang menghadapi pengangguran jangka panjang memilih bunuh diri sebagai bentuk protes.
Keempat, generasi “rambut perak”. Biro Statistik Nasional China melaporkan 290 juta warga berusia 60 tahun ke atas, diproyeksikan akan melebihi 400 juta di tahun 2035 dan 500 juta pada 2050.
Ketika ekonomi menurun, perawatan lansia menjadi masalah kritis. Song mengkritik sistem kesejahteraan di China sebagai sistem cacat dan tidak adil, yang menguntungkan orang kaya dan meninggalkan orang miskin dengan dukungan minimal.
Di negara-negara Barat, sistem kesejahteraan berpihak pada orang miskin. Di China, kader CCP dan orang kaya menikmati fasilitas, sementara lansia di pedesaan menghadapi perawatan minimal dan usia tua yang suram.
Kelima, runtuhnya industri katering. Data dari Biro Statistik Beijing menunjukkan bahwa pada paruh pertama tahun ini, total laba untuk perusahaan katering di Beijing dengan pendapatan tahunan melebihi 10 juta Yuan adalah 180 juta Yuan. Angka tersebut menunjukkan tajam sebesar 88,8 persen dibandingkan tahun lalu dengan margin laba serendah 0,37% ini, yang mengindikasikan bahwa seluruh industri katering menghadapi krisis keuntungan yang semakin menipis.
Hingga 21 Desember 2023, lebih dari 1,265 juta bisnis katering di China telah dicabut izinnya, lebih dari dua kali lipat jumlahnya dibanding 2022, dan mencetak rekor sejak tahun 2020.
Pada paruh pertama 2024, sebanyak 1,056 juta bisnis terkait katering di China dicabut dari daftar atau izinnya dicabut. Pada kuartal pertama 2024, hampir 460.000 bisnis katering tutup, meningkat 232% dari periode yang sama tahun lalu.
Banyak restoran baru di China tutup dalam waktu satu atau dua bulan, beberapa bahkan dalam waktu tiga hari. Di tengah kemerosotan ini, muncul industri khusus "pengumpul mayat katering”, yang mengkhususkan diri dalam mengumpulkan serta menjual kembali peralatan dapur dan peralatan makan dari bisnis yang tutup.
Sisa dari bisnis katering yang tutup kemudian menjualnya kembali dalam keadaan bekas. Seorang operator Guangzhou mengatakan bahwa sejak Maret tahun ini, industri katering Guangzhou telah terperangkap dalam gelombang penutupan dan diperkirakan 40 hingga 50 set peralatan katering dapat didaur ulang setiap bulan, 70 persen di antaranya berasal dari restoran Hot Pot dan kedai teh susu.
Runtuhnya Kelas Menengah
Keenam, persaingan sengit involusional. Karena kelebihan kapasitas, permintaan domestik yang tidak mencukupi, dan penumpukan inventaris, banyak perusahaan China beralih ke persaingan harga rendah dan perang harga yang agresif.
Misalnya, pada Juli 2024, laba perusahaan baja utama secara nasional turun 88 persen year-on-year dan 90% month-on-month, membuat mereka hampir tidak mendapat untung, dengan hanya 1 persen yang menghasilkan laba kecil.
Lihat Juga :