Selandia Baru Kembali Menumbuhkan Semangat Toleransi
Jum'at, 28 Agustus 2020 - 12:13 WIB
loading...
A
A
A
Tarrant yang memilih mewakili dirinya sendiri, mengatakan tidak punya pernyataan apa pun. Dia mengangguk ketika ditanya apakah dia paham bahwa dirinya punya hak untuk menyampaikan sesuatu. Seorang pengacara yang disediakan mengatakan, Tarrant bicara kepadanya bahwa dia tidak menentang hukuman dipenjara seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat. (Baca juga: Disebut Hendak Nyapres di 2024, Gatot Nurmantyo Bilang Begini)
Sebelum vonis dijatuhkan, pengadilan menggelar sidang selama empat hari untuk mendengarkan pernyataan hampir 90 orang yang terdiri dari penyintas dan keluarga penyintas serangan di dua masjid Kota Christchurch.
Sidang pada Rabu (26/8) diwarnai derai air mata, pembacaan Alquran, dan foto-foto para korban.
"Nama saya Sara Qasem. Putri dari seorang pria yang bersinar redup... Abdelfattah Qasem - ingatlah nama itu," kata perempuan berusia 24 tersebut. Dia menceritakan saat-saat terakhir ayahnya, dengan mengatakan: "Saya bertanya-tanya apakah ia kesakitan, apakah ketakutan, dan apa yang dipikirkan di saat-saat terakhir. Dan lebih dari apapun di dunia, saya berharap saya bisa berada di sana memegang tangannya dan mengatakan semuanya baik-baik saja. Tapi saya tidak bisa melakukan itu." (Lihat videonya: Dua Kali Ditangkap Warga, Macan Tutul Jawa Dilepas Liarkan ke Habitatnya)
Kemudian Hamimah Tuyan, istri Zekeriya Tuyan, yang berjuang selama 48 hari sebelum meninggal karena luka-lukanya, mengatakan ia merindukan suaminya. "Tidak ada uang sebanyak apa pun yang dapat mengembalikan ayah dari anak-anak saya dan suami saya. Saya merindukan masakan [nya], lelucon tak lucunya yang khas bapak-bapak, dengkurannya. Dia adalah pengawal saya, penghibur saya, penenang saya, sahabat saya," katanya. (Andika H Mustaqim)
Sebelum vonis dijatuhkan, pengadilan menggelar sidang selama empat hari untuk mendengarkan pernyataan hampir 90 orang yang terdiri dari penyintas dan keluarga penyintas serangan di dua masjid Kota Christchurch.
Sidang pada Rabu (26/8) diwarnai derai air mata, pembacaan Alquran, dan foto-foto para korban.
"Nama saya Sara Qasem. Putri dari seorang pria yang bersinar redup... Abdelfattah Qasem - ingatlah nama itu," kata perempuan berusia 24 tersebut. Dia menceritakan saat-saat terakhir ayahnya, dengan mengatakan: "Saya bertanya-tanya apakah ia kesakitan, apakah ketakutan, dan apa yang dipikirkan di saat-saat terakhir. Dan lebih dari apapun di dunia, saya berharap saya bisa berada di sana memegang tangannya dan mengatakan semuanya baik-baik saja. Tapi saya tidak bisa melakukan itu." (Lihat videonya: Dua Kali Ditangkap Warga, Macan Tutul Jawa Dilepas Liarkan ke Habitatnya)
Kemudian Hamimah Tuyan, istri Zekeriya Tuyan, yang berjuang selama 48 hari sebelum meninggal karena luka-lukanya, mengatakan ia merindukan suaminya. "Tidak ada uang sebanyak apa pun yang dapat mengembalikan ayah dari anak-anak saya dan suami saya. Saya merindukan masakan [nya], lelucon tak lucunya yang khas bapak-bapak, dengkurannya. Dia adalah pengawal saya, penghibur saya, penenang saya, sahabat saya," katanya. (Andika H Mustaqim)
(ysw)
Lihat Juga :