Filipina Bersumpah Panggil AS jika Kapal Perangnya Diserang China

Jum'at, 28 Agustus 2020 - 00:09 WIB
loading...
Filipina Bersumpah Panggil...
Kawasan Laut China Selatan yang jadi sengketa antara China dan beberapa negara Asia lainnya. Foto/REUTERS
A A A
MANILA - Menteri Luar Negeri Filipina Teodoro Locsin Jr untuk pertama kalinya secara terbuka bersumpah untuk meminta perjanjian pertahanan Manila dengan Washington jika China bergerak untuk menyerang kapal-kapal perang Manila di Laut China Selatan .

Dalam wawancara dengan penyiar ANC pada hari Rabu (26/8/2020), Loscin juga menyatakan bahwa Filipina akan melanjutkan patroli udaranya di atas perairan sengketa di Laut China Selatan meskipun China menolak flyover seperti itu dan menganggapnya sebagai provokasi ilegal.

"Mereka dapat menyebutnya sebagai provokasi ilegal, Anda tidak dapat mengubah pikiran mereka. Mereka telah kehilangan putusan arbitrase," katanya merujuk pada referensi yang jelas terhadap putusan pengadilan internasional pada tahun 2016 yang menyatakan sebagian besar klaim teritorial Beijing di Laut China Selatan tidak sah. (Baca: China Tembakkan Rudal Pembunuh Kapal Induk, Peringatan untuk AS )

"(Tetapi jika) terjadi sesuatu yangdi luar jangkauan tetapi sebenarnya merupakan serangan terhadap, katakanlah kapal Angkatan Laut Filipina....(itu) berarti saya akan memanggil Washington DC," ujar Loscin.

Pernyataan itu muncul setelah Departemen Pertahanan Nasional Filipina mengatakan pada pertengahan Juli bahwa mereka sangat setuju dengan posisi masyarakat internasional bahwa harus ada tatanan berbasis aturan di Laut China Selatan.

Pernyataan itu didahului oleh Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Michael Pompeo yang mengecam klaim China di kawasan itu pada pertengahan Juli sebagai klaim yang sepenuhnya melanggar hukum atau ilegal. Pernyataan Pompeo itu memicu Kedutaan Besar China di Washington untuk menanggapi dengan mengatakan bahwa Beijing dengan tegas menentang pernyataan Pompeo.

Pada bulan Juni, Presiden Filipina Rodrigo Duterte menyatakan keprihatinan atas peningkatan aktivitas Beijing di Laut China Selatan ketika kawasan itu sibuk berjuang melawan pandemi virus corona baru (Covid-19).

"Kami meminta para pihak untuk menahan diri dari meningkatnya ketegangan dan mematuhi tanggung jawab di bawah hukum internasional," kata Duterte.

Dalam perkembangan terpisah pada bulan Juni, Filipina mengumumkan pembalikan dari keputusan sebelumnya untuk mengakhiri Perjanjian Pasukan Kunjungan (VFA) dengan AS, mengacu pada perkembangan politik dan lainnya di kawasan.

Langkah tersebut setelah Duterte menginstruksikan pemerintah pada bulan Februari untuk menghentikan VFA. "Sudah waktunya kita (Filipina) mengandalkan diri kita sendiri," ujar Duterte kala itu.

Kesepakatan VFA, yang ditandatangani pada tahun 1998 dan dipandang sebagai bagian penting dari Perjanjian Pertahanan Bersama kedua negara, menetapkan pelatihan personel militer AS, termasuk Angkatan Laut, Korps Marinir, Angkatan Udara, dan Penjaga Pantai di tanah Filipina. (Baca juga: Situasi Laut China Selatan Menegangkan, Malaysia Tembak Mati Nelayan Vietnam )

Wawancara Loscin pada hari Rabu dilakukan di tengah ketegangan regional yang sedang berlangsung di wilayah Laut China Selatan. Kawasan perairan tersebut diklaim oleh China dan sejumlah negara, termasuk Filipina, Brunei, Malaysia, Taiwan, dan Vietnam.

Meski tidak memiliki klaim atas wilayah tersebut, AS juga aktif ikut campur dalam sengketa tersebut dengan mengirimkan kapal militernya ke Laut China Selatan . Tindakan Washington itu memicu kecaman keras dari Beijing dengan menganggapnya sebagai provokasi.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Gelombang Panas Ganggu...
Gelombang Panas Ganggu Perayaan Kemerdekaan AS ke-250
Siapa Charles Q. Brown...
Siapa Charles Q. Brown Jr? Jenderal AS yang Dipecat Trump Kritik Pemanfaatan Militer untuk Misi Politik
Trump Sebut Iran Ingin...
Trump Sebut Iran Ingin Selesaikan Masalah, AS Beri Waktu untuk Pemakaman Khamenei
China Diduga Berupaya...
China Diduga Berupaya Perluas Ekspansi Senjata ke Timur Tengah via Pakistan
Diduga Bantu Pemberontak...
Diduga Bantu Pemberontak Myanmar, India Tangkap Tentara Bayaran Ukraina dan AS
Diplomat AS Ingin Ubah...
Diplomat AS Ingin Ubah Taiwan Jadi Sarang Lebah Drone
Amran Klaim Teknologi...
Amran Klaim Teknologi Pertanian Papua Setara dengan Jepang dan AS
Gempa Venezuela: Korban...
Gempa Venezuela: Korban Tewas Meningkat Menjadi 1.943 Orang, 10.571 Terluka
Kunjungi Wilayah Ukraina...
Kunjungi Wilayah Ukraina yang Direbut Rusia, Putin: Rusia Akan Menang Perang!
Rekomendasi
Kanada vs Maroko: Mampukah...
Kanada vs Maroko: Mampukah The Canucks Akhiri Kutukan?
Hydroplus Soccer League...
Hydroplus Soccer League All-Stars 2025/2026 Digelar di Kudus, 16 Tim Putri Berebut Gelar Musim Perdana
Pertamina Buka Rekrutmen...
Pertamina Buka Rekrutmen Internship bagi Fresh Graduate, Pendaftaran Hingga 5 Juli 2026
Berita Terkini
Jenderal Paling Ditakuti...
Jenderal Paling Ditakuti Israel dan AS Ini Muncul dari Persembunyian saat Pemakaman Khamenei
Nada Kemenangan Rusia...
Nada Kemenangan Rusia Berubah Drastis ketika Ukraina Terapkan Taktik Asimetris
Gelombang Panas Ganggu...
Gelombang Panas Ganggu Perayaan Kemerdekaan AS ke-250
10 Juta Rakyat Iran...
10 Juta Rakyat Iran Hadiri Pemakaman Khamenei, Bendera Merah Dikibarkan
Houthi Ancam Saudi,...
Houthi Ancam Saudi, Riyadh Janji Beri Respons Keras!
Siapa Charles Q. Brown...
Siapa Charles Q. Brown Jr? Jenderal AS yang Dipecat Trump Kritik Pemanfaatan Militer untuk Misi Politik
Infografis
Bagher Ghalibaf, Negosiator...
Bagher Ghalibaf, Negosiator Iran dan Tangan Kanan Mojtaba yang Mampu Tundukkan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved