Diduga Agen Rahasia, Teman Wanita Bos Telegram Durov Angkat Bicara

Sabtu, 07 September 2024 - 08:33 WIB
loading...
Diduga Agen Rahasia,...
Yulia Vavilova memperingatkan para pengikutnya tentang informasi palsu. Foto/instagram/juliavavilova
A A A
PARIS - Influencer berusia 24 tahun yang ditahan bersama pendiri Telegram Pavel Durov di Paris bulan lalu kembali ke media sosial. Wanita bernama Yulia Vavilova itu memperingatkan para pengikutnya tentang "informasi palsu."

Yulia Vavilova yang menyebut dirinya sebagai pelatih kripto dan streamer yang tinggal di Dubai, berada di dalam jet pribadi Durov ketika mendarat di bandara Le Bourget pada 24 Agustus.

Dia dibebaskan tiga hari kemudian tetapi belum membuat pernyataan publik apa pun hingga saat ini.

"Sahabat-sahabat terkasih, teman-teman baru, dan keluarga, saya bersyukur memiliki kalian dalam hidup saya," tulis dia di Instagram pada hari Jumat (6/9/2024).

"Tingkat dukungan yang saya terima tidak terukur. Saya tidak dapat kembali lebih awal, tetapi saya senang memberi tahu Anda bahwa semuanya baik-baik saja. Ada banyak informasi palsu yang beredar, tetapi itu adalah topik untuk masa mendatang…,” papar dia.

Vavilova mengilustrasikan unggahan tersebut dengan foto dirinya dan beberapa gambar bergaya kartu pos Paris, termasuk Menara Eiffel, pemandangan Sungai Seine, dan katedral Notre-Dame.

Sebelum penangkapan Durov, Vavilova telah memasang unggahan di media sosial di lokasi yang sama dengan taipan Telegram tersebut, termasuk Kazakhstan, Kirgistan, dan Azerbaijan, serta bagian dalam jet pribadinya.

Namun, baik Vavilova maupun Durov belum membuat pengumuman apa pun tentang kemungkinan hubungan tersebut.

Hal ini memicu spekulasi bahwa Vavilova bisa jadi adalah agen intelijen jenis "honeypot", dengan misi membawa Durov ke Prancis tempat dia dapat ditangkap.

Salah satu teori konspirasi paling populer menyebutkan bahwa dia bekerja untuk Mossad Israel.

Pendiri Telegram tersebut memiliki paspor Rusia, Prancis, Uni Emirat Arab (UEA), dan St. Kitts dan Nevis.

Dia dilaporkan memberi tahu polisi Prancis yang menahannya bahwa dia akan makan malam dengan Presiden Emmanuel Macron, yang dibantah oleh pemimpin Prancis tersebut.

Durov tidak menyebutkan undangan makan malam tersebut, atau Vavilova, dalam komentar publik pertamanya setelah penangkapan tersebut.

Dalam unggahannya di Telegram dan X pada Kamis, dia menggambarkan tuduhan terhadapnya sebagai "mengejutkan" dan "salah arah" karena menggunakan "hukum dari era pra-ponsel pintar untuk mendakwa seorang CEO atas kejahatan yang dilakukan oleh pihak ketiga pada platform yang dikelolanya."

Pihak berwenang Prancis telah mendakwa Durov dengan belasan pelanggaran, mulai dari penolakan untuk bekerja sama dengan pihak berwenang hingga mengelola platform daring yang diduga digunakan oleh kejahatan terorganisasi untuk tindakan ilegal, seperti perdagangan manusia dan pelecehan seksual anak.

Dia dibebaskan dengan jaminan sebesar 5 juta euro (USD5,5 juta) dan dilarang meninggalkan Prancis sambil menunggu proses persidangan.

Durov dan saudaranya membuat Telegram di Rusia pada tahun 2013. Aplikasi tersebut sejak saat itu telah berkembang hingga hampir satu miliar pengguna di seluruh dunia dan 10 juta pelanggan berbayar.

Telegram menawarkan enkripsi untuk pesan masuk dan keluar, meningkatkan privasi bagi pengirim dan penerima, dan secara umum menolak memberikan data pengguna atau rekaman obrolan kepada penegak hukum.

Durov mengklaim hal ini telah menarik perhatian yang tidak diinginkan dari badan intelijen di seluruh dunia.

Baca juga: Warga Negara AS Ditembak Mati Tentara Israel di Tepi Barat saat Protes Permukiman Ilegal
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
PM Kanada Akui G7 Tidak...
PM Kanada Akui G7 Tidak Lagi Kendalikan Dunia
Inggris, Prancis, Jerman,...
Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia Siap Cabut Sanksi Teheran setelah Kesepakatan Damai AS-Iran
Tiru Israel, Taiwan...
Tiru Israel, Taiwan Gunakan AI untuk Rekrut Informan dan Whistleblower China
Proyek Jet Tempur FCAS...
Proyek Jet Tempur FCAS Prancis-Jerman Gagal, Pukulan Telak bagi Macron
Meski Sekutu Sejati,...
Meski Sekutu Sejati, Mengapa Pentagon Tingkatkan Ancaman Mata-mata Israel ke Tingkat Tertinggi?
Siapa Bill Pulte? Direktur...
Siapa Bill Pulte? Direktur Intelijen Nasional AS yang Tak Pernah Jadi Agen Rahasia
Prancis Naik Pitam!...
Prancis Naik Pitam! Siap Jegal Iran soal Tarif Tol di Selat Hormuz
China Hadapi “Epidemi”...
China Hadapi “Epidemi” Baru, Lonjakan Kematian Usia Muda Picu Kekhawatiran Publik
Macron Rilis Video Trump...
Macron Rilis Video Trump Teken MoU Perjanjian Damai dengan Iran: Langkah Penting!
Rekomendasi
Harga BBM Naik 37%,...
Harga BBM Naik 37%, Saatnya Percepat Adopsi Kendaraan Listrik
Pemprov DKI Gratiskan...
Pemprov DKI Gratiskan Transportasi, Tempat Wisata, hingga Museum pada 22, 27, dan 28 Juni
Haul Akbar Ulama Betawi...
Haul Akbar Ulama Betawi Digelar di Monas Besok, Catat Rekayasa Lalu Lintas dan Rute Alternatifnya
Berita Terkini
AS Ternyata Gunakan...
AS Ternyata Gunakan AI Grok Elon Musk untuk Tembakkan 2.000 Rudal ke Iran
Trump Bilang Israel...
Trump Bilang Israel Tak Berhak Kritik Deal AS-Iran karena Dulu Ogah Bunuh Jenderal Soleimani
Finlandia Buka Pintu...
Finlandia Buka Pintu Jadi Markas Bom Nuklir NATO, Rusia Bisa Marah
Iran Nyatakan Menang...
Iran Nyatakan Menang Perang Melawan AS dan Israel
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Ada yang Hanya Rp427 Per Liter
Arab Saudi Kebut Pembangunan...
Arab Saudi Kebut Pembangunan Jeddah Tower 1.000 Meter, Gedung Tertinggi di Dunia Kalahkan Burj Khalifa
Infografis
10 Kapolda Lulusan Akpol...
10 Kapolda Lulusan Akpol 1994, Teman Satu Angkatan Kepala BNN
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved