Fisikawan Rusia Desak Putin Mengebom Nuklir Ukraina untuk Percepat Perang

Jum'at, 16 Agustus 2024 - 09:28 WIB
loading...
Fisikawan Rusia Desak...
Presiden Rusia Vladimir Putin didesak mengebom nuklir Ukraina untuk mempercepat perang. Foto/Gavriil Grigorov/Sputnik/Kremlin Pool Photo via AP
A A A
MOSKOW - Fisikawan terkenal Rusia, Anatoly Volyntsev, telah mendesak Presiden Vladimir Putin untuk menyerang Ukraina dengan senjata nuklir.

Tujuannya, untuk mempercepat perang dan memutus rute pasokan bantuan militer dari negara-negara Barat.

Desakan itu disampaikan dalam sepucuk surat. Salinan surat dari fisikawan yang juga profesor di Perm State University itu telah diperoleh surat kabar independen Rusia; Novaya Gazeta.

Media itu kemudian melakukan wawancara langsung dengan Volyntsev tentang isi suratnya.

Baca Juga: Senjata Nuklir Pemusnah Umat Manusia tapi Diberkati Gereja Rusia, Ini Alasannya

Intensitas perang Rusia di Ukraina, yang kini memasuki tahun ketiga, telah meningkat dalam beberapa hari terakhir setelah Kyiv menginvasi balik wilayah Kursk, Rusia pada 6 Agustus.

Serangan balik Ukraina itu berhasil merebut wilayah yang hampir sama luasnya dengan wilayah yang telah direbut Moskow di Ukraina sejak awal tahun.

Panglima Angkatan Bersenjata Ukraina Kolonel Oleksandr Syrsky mengatakan Kyiv kini menguasai sekitar 1.000 kilometer persegi (386 mil persegi) Kursk.

Hubungan antara Washington dan Moskow semakin tegang akibat keputusan Putin untuk melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina pada Februari 2022. Para pejabat Rusia secara rutin menuduh NATO terlibat dalam perang tersebut dengan memberikan bantuan dan senjata kepada Kyiv.

Volyntsev mengatakan kepada Novaya Gazeta bahwa dia meminta Putin untuk mempertimbangkan penggunaan senjata nuklir dalam perang "untuk mencapai semua tujuan lebih cepat", mengingat konflik telah berkecamuk selama tiga tahun.

"Situasi di garis depan telah menjadi sangat macet dan berlarut-larut," katanya, seraya menambahkan bahwa Moskow telah gagal melakukan "tindakan militer terobosan besar."

Baca Juga: Arsip Rahasia Ungkap 32 Lokasi Berbagai Negara Jadi Target Rudal Nuklir Rusia

"Meskipun Rusia memiliki keuntungan, kami bergerak cukup lambat," kata fisikawan itu.

"Orang-orang [Rusia] memiliki pertanyaan: kapan kami akhirnya akan menyelesaikan dan mencapai apa yang kami inginkan?" tanyanya.

"Kedua, kita harus menanggung serangan teroris di tanah Rusia, dan serangan ini sebenarnya diorganisir oleh Barat, dengan bantuan senjata Barat, dengan bantuan sumber daya intelijen mereka, bahkan dengan partisipasi langsung dari kolektif Barat. Dan kita tidak menanggapi. Dan di sini orang-orang punya pertanyaan: mengapa tidak menanggapi dengan benar, kita adalah kekuatan nuklir?"

Volyntsev mengusulkan penggunaan senjata nuklir untuk menyerang Terowongan Beskydy Ukraina, jalur kereta api di wilayah Lviv yang dilaporkan digunakan untuk mengangkut senjata Barat yang digunakan oleh Angkatan Bersenjata Ukraina.

Dia mengatakan akan sangat sulit untuk menghancurkannya dengan senjata konvensional, mengingat terowongan adalah tempat perlindungan bom yang paling dapat diandalkan.

Kekuatan destruktif senjata nuklir jauh lebih besar, kata fisikawan itu.

Volyntsev menyarankan penggunaan "bom hidrogen kecil" untuk melakukan "serangan nuklir ringan" di terowongan untuk memblokir rute pasokan utama.

"Ya, beberapa radioaktivitas akan terjadi. Namun, ini adalah opsi yang tidak meninggalkan kontaminasi radioaktif yang besar di atmosfer dan beban di tanah," katanya. "Ya, akan ada korban...tetapi semuanya dapat dilakukan dengan kerusakan minimal."

Volyntsev menggambarkan konflik tersebut sebagaimana adanya sebagai "perang yang melelahkan."

"Tanpa bantuan Barat, semuanya akan berakhir sejak lama. Bagaimana bantuan Barat ini dapat dihentikan?" tanyanya.

"Penting untuk memblokir aliran senjata, material dan peralatan lain yang memungkinkan rezim Ukraina untuk eksis," imbuh dia, yang dikutip Newsweek, Jumat (16/8/2024).
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Inggris Caplok Armada...
Inggris Caplok Armada Bayangan Rusia, Akankah Picu Perang Besar?
Perseteruan Memanas,...
Perseteruan Memanas, Jet Tempur Swedia Cegat Pesawat Militer Rusia
Jenderal Jerman Duga...
Jenderal Jerman Duga Rusia Bakal Kerahkan Senjata Nuklir ke Luar Angkasa, Bisa Picu Kiamat Satelit
Swedia: Konflik Rusia-NATO...
Swedia: Konflik Rusia-NATO Bisa Pecah dalam Waktu Dekat
Profesor AS: Israel,...
Profesor AS: Israel, Bukan Iran, yang Jadi Ancaman Nuklir Utama di Timur Tengah
10 Negara dengan Rudal...
10 Negara dengan Rudal Balistik Terkuat di Dunia, Juaranya Bukan AS
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
PM Pakistan: Kesepakatan...
PM Pakistan: Kesepakatan AS-Iran Berpotensi Rampung dalam 24 Jam
Menteri Radikal Israel...
Menteri Radikal Israel Smotrich Serukan Penghancuran Gedung-Gedung di Ibu Kota Beirut
Rekomendasi
Huawei, Oppo, vivo,...
Huawei, Oppo, vivo, Xiaomi, dan Honor Dituduh Contek Teknologi iPhone
PBNU Gelar Munas dan...
PBNU Gelar Munas dan Konbes di Ploso Kediri pada 20-23 Juni 2026, Presiden Prabowo Diundang
Ruben Onsu Unggah Video...
Ruben Onsu Unggah Video Giorgio Ngopi di Rumah Sarwendah, Captionnya Bikin Heboh
Berita Terkini
Berlatih di Tijuana,...
Berlatih di Tijuana, Timnas Iran Dikawal 300 Pasukan Elite Meksiko
Jika Dicairkan, Aset...
Jika Dicairkan, Aset Beku Iran Jadi Oksigen Segar untuk Kebangkitan Ekonomi Iran
Militerisasi Jepang...
Militerisasi Jepang dan Bahaya Radiasi Radio Aktif
Drone Hizbullah Hantam...
Drone Hizbullah Hantam Israel, IDF Bombardir Lebanon
Inggris Caplok Armada...
Inggris Caplok Armada Bayangan Rusia, Akankah Picu Perang Besar?
Ini Gaun Emas Termahal...
Ini Gaun Emas Termahal di Dunia! Beratnya 10 Kg, Harganya Rp24 Miliar
Infografis
125 Juta Orang Dapat...
125 Juta Orang Dapat Binasa Akibat Perang Nuklir India-Pakistan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved