alexametrics

Laporan SINDOnews.com dari Stanford

Pengamat: Konsep Indo-Pasifik Trump Belum Jelas

loading...
Pengamat: Konsep Indo-Pasifik Trump Belum Jelas
Donald K. Emerson dan Thomas Fingar. Foto/Sindonews/Victor Maulana
A+ A-
STANFORD - Pengamat dari Institut Freeman Spogli untuk Studi Internasioal Universitas Stanford, Donald K. Emerson, menyebut bahwa konsep Indo-Pasifik yang dimiliki pemerintahan Donald Trump belum jelas.

Berbicara saat melakukan pertemuan dengan sejumlah media dari Asia Tenggara, Emerson mengatakan akan adil untuk dikatakan bahwa terkadang dalam ruang lingkup kebijakan luar negeri konsep tidak sejalan dengan realita, dan terasa prematur.

"Ini adalah kategori yang harus diberikan makna, Indo-Pasifik. Ada beberapa orang yang secara sinis menyebut Indo-Pasifik di sini, di Amerika Serikat (AS), yang paling penting dihasilkan oleh keinginan Donald Trump untuk melakukan sesuatu selain Asia Pasifik karena itu berhubungan dengan pendahulunya. Dan juga dalam rangka kembali menyeimbangkan Asia, yang merupakan inovasi dari (Barack) Obama," ujarnya, Selasa (13/8/2019).



Jadi, papar Emerson, bukan ingin menghubungan dengan politik dalam negeri AS, tapi adil untuk dikatakan banyak kebijakan yang dianut Trump adalah menolak kebijakan Obama.

"Jadi, menurut pendapat saya, ketika Indo-Pasifik muncul dalam lingkaran kebijakan AS, itu tidak memiliki makna yang jelas, itu hanyalah sesuatu yang ingin dibuat lain dengan pemerintah sebelumnya. Bahkan kini, ditengah 2019, kita belum memiliki pemahaman bersama mengenai definisi apa ini (Indo-Pasifik)," ucapnya.

Sementara itu, pengamat dari Universitas Stanford lainnya, Thomas Fingar menyebut Indo-Pasifik lebih kepada visi daripada sebuah kebijakan.

"Sebuah kebijakan adalah seperangkat langkah detail yang saling berhubungan untuk dicapai sesuai dengan strategi untuk mencapai sebuah target. Dari kalimat tersebut terlihat bahwa ini (Indo-Pasifik) masih sangat jauh, jika menjadi selain lawan dari pendekatan Obama di kawasan (Asia)," ungkapnya.

Indo-Pasifik, menurutnya, adalah konsep yang sudah dipakai oleh militer AS yang berbasis di Hawaii. "Jadi kami berpikir, bisa dikatakan bahwa sudah 65 persen area di wilayah ini untuk tujuan militer, tapi mengindentifikasi sebuah kotak, kita masih dalam tahap awal dalam hal ini," tukasnya.
(ian)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak