alexametrics

Rusia: Kebijakan AS Saat Ini Berbahaya bagi Dunia

loading...
Rusia: Kebijakan AS Saat Ini Berbahaya bagi Dunia
Asisten Presiden Rusia, Yuri Ushakov mengatakan Moskow melihat kebijakan yang diambil AS memberikan ancaman serius terhadap keamanan dan stabilitas global. Foto/Istimewa
A+ A-
MOSKOW - Asisten Presiden Rusia, Yuri Ushakov mengatakan, Moskow melihat kebijakan yang diambil Amerika Serikat (AS) saat ini memberikan ancaman serius terhadap keamanan dan stabilitas global.

Ushakov mengatakan, kebijakan yang diambil oleh kepemimpinan AS didasarkan pada ilusi kebebasan di bidang konstruksi militer, dan dampak dari kebijakan ini untuk keamanan internasional bisa sangat berbahaya.

"Runtuhnya sistem perjanjian, memastikan aturan perilaku di wilayah militer dan strategis, dapat memicu peningkatan risiko militer dan proliferasi senjata pemusnah massal," ucap Ushakov, seperti dilansir Tass pada Senin (10/6).



Dia ingat bahwa pada tahun 2002, AS menarik diri dari Perjanjian Rudal Anti-Balistik dan pada tahun 2018 AS memutuskan untuk keluar dari Perjanjian Pasukan Nuklir Jangka Menengah (INF).

"Pertanyaannya adalah apakah "New START" (Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis), yang akan berlaku hingga Februari 2021, akan diperpanjang selama lima tahun. Pertanyaan ini mengemuka," ucapnya, seraya mencatat bahwa Rusia telah berulang kali mengkonfirmasi kesiapan untuk membahas perpanjangan perjanjian ini.

"Apa yang dibutuhkan sekarang bukanlah penghancuran elemen sisa dari stabilitas strategis, tetapi sebaliknya, pelestarian dan penguatan sistem pelucutan senjata," ungkap Ushakov.

Menurutnya, Rusia terus-menerus dipaksa untuk menanggapi langkah Washington yang terus bergerak menuju penghancuran sistem keamanan internasional. "Kepemimpinan kami telah berulang kali menyatakan bahwa kami tidak akan membiarkan situasi ketika negara akan tidak berdaya dan keamanannya akan lemah, kami tidak akan tetap tak berdaya," tukasnya.
(esn)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak