5 Alasan NATO Waswas Jika Donald Trump Terpilih Jadi Presiden AS Lagi

Jum'at, 05 Juli 2024 - 13:51 WIB
loading...
5 Alasan NATO Waswas...
NATO waswas jika Donald Trump (kiri) terpilih kembali menjadi presiden AS. Foto/REUTERS
A A A
JAKARTA - Pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) selalu menjadi perhatian global, tidak terkecuali bagi NATO (Organisasi Traktat Atlantik Utara).

Jika tak ada perubahan, pemilihan presiden AS yang akan digelar 5 November 2024 akan menjadi ajang pertarungan antara mantan presiden Donald Trump sebagai calon presiden Partai Republik melawan Presiden Joe Biden sebagai calon presiden Partai Demokrat.

Sebagai aliansi pertahanan internasional utama, NATO memiliki kepentingan besar terhadap kestabilan politik Amerika Serikat (AS).

Maka dari itu, potensi kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden AS mengundang sejumlah kekhawatiran bagi NATO.

Baca Juga: PM Negara NATO: Uni Eropa Ingin Berperang dan Mengalahkan Rusia

5 Alasan NATO Waswas Donald Trump Jadi Presiden AS Lagi

1. Ancaman bagi Komitmen AS terhadap NATO

5 Alasan NATO Waswas Jika Donald Trump Terpilih Jadi Presiden AS Lagi

Foto/REUTERS

Donald Trump telah mengungkapkan skeptisisme terhadap NATO selama kampanye tahun 2016 dan masa jabatannya sebagai presiden AS.

Dia mempertanyakan kewajiban finansial anggota NATO dan menyerukan agar negara-negara anggota membayar lebih banyak untuk pertahanan mereka sendiri.

Hal itu dapat mengancam solidaritas dan komitmen kolektif NATO, yang merupakan pondasi dari kekuatan aliansi tersebut.

2. Potensi Pengambilan Keputusan Tak Terduga

5 Alasan NATO Waswas Jika Donald Trump Terpilih Jadi Presiden AS Lagi

Foto/REUTERS

Kebijakan luar negeri Trump sering kali didasarkan pada pertimbangan politik domestik yang tidak terduga, yang dapat menyebabkan keputusan-keputusan yang tidak konsisten atau bahkan impulsif dalam konteks hubungan internasional.

Ini bisa menciptakan ketidakpastian dan ketegangan di antara sekutu-sekutu NATO, yang mengandalkan kestabilan dan prediktabilitas dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat.

3. Potensi Pengurangan Keterlibatan Militer AS di Eropa

5 Alasan NATO Waswas Jika Donald Trump Terpilih Jadi Presiden AS Lagi

Foto/REUTERS

Trump telah menunjukkan keinginan untuk mengurangi keterlibatan militer Amerika Serikat di luar negeri dan memperkuat "America First" dalam kebijakan luar negerinya.

Hal ini dapat mengarah pada penarikan pasukan AS dari Eropa atau pengurangan komitmen militer mereka di kawasan tersebut.

Jika hal itu terjadi, maka akan meninggalkan negara-negara NATO Eropa dengan beban pertahanan yang lebih besar dan mengurangi pencegahan NATO terhadap agresi asing.

4. Pembaruan Hubungan Transatlantik

5 Alasan NATO Waswas Jika Donald Trump Terpilih Jadi Presiden AS Lagi

Foto/REUTERS

Hubungan transatlantik yang kuat adalah kunci untuk keberhasilan NATO.

Trump telah menantang prinsip-prinsip ini dengan mempertanyakan manfaat keanggotaan NATO bagi Amerika Serikat dan menekankan pada negosiasi biaya dalam hubungan transatlantik.

Ini mengakibatkan ketegangan diplomatik dan ekonomi antara Amerika Serikat dan sekutu-sekutu Eropa, yang dapat melemahkan kesatuan NATO secara keseluruhan.

5. Pemecahan Kesatuan Politik di Eropa

5 Alasan NATO Waswas Jika Donald Trump Terpilih Jadi Presiden AS Lagi

Foto/REUTERS

Kebijakan Trump yang kontroversial dan retorika anti-Eropa telah menyebabkan ketidakpercayaan dan ketegangan di antara negara-negara Eropa.

Ini dapat memperkuat gerakan nasionalis dan anti-NATO di beberapa negara anggota NATO, yang pada gilirannya dapat melemahkan solidaritas dan kohesi aliansi.

Contoh terbaru adalah rencana Trump menghentikan bantuan militer AS kepada Kyiv sebagai cara untuk menghentikan perang Ukraina dengan Rusia. Ini bertentangan dengan semangat NATO yang mendorong anggotanya mendukung militer Ukraina untuk mengalahkan Rusia.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pejabat AS Bertemu Hamas...
Pejabat AS Bertemu Hamas Saat Washington Sampaikan Tuntutan Gaza pada Israel
Pertama Kali dalam 20...
Pertama Kali dalam 20 Tahun, Buffett Tunda Donasi ke Gates Foundation karena Kasus Epstein
Pria Ini Bunuh Pacar,...
Pria Ini Bunuh Pacar, tapi Tewas Serangan Jantung saat Buang Mayat Korban
Bagaimana Program Rudal...
Bagaimana Program Rudal Iran Bertahan dari Perang dan Diplomasi? Ini Analisisnya
Trump Ingin Beri Turki...
Trump Ingin Beri Turki Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kongres Siap Blokir dengan Alasan S-400 Rusia
Menipu hingga Rp17,8...
Menipu hingga Rp17,8 Triliun untuk Hidup Mewah, Miliarder Ini Dipenjara 30 Tahun
Penembakan di Fan Zone...
Penembakan di Fan Zone Piala Dunia 2026, Satu Orang Tewas dan Satu Kritis
Gempa Dahsyat Venezuela:...
Gempa Dahsyat Venezuela: 920 Orang Tewas, Hampir 50 Ribu Masih Hilang
Gempa Venezuela: Korban...
Gempa Venezuela: Korban Tewas Tembus 1.700 Orang, 5.000 Lainnya Luka
Rekomendasi
OTT di Kuansing, KPK...
OTT di Kuansing, KPK Minta Bupati dan Sekda Menyerahkan Diri
IHSG Hari Ini Terjun...
IHSG Hari Ini Terjun Bebas 3,05% ke Level 5.643, Transaksi Cetak Rp15 Triliun
Jerman Tersingkir, Klopp...
Jerman Tersingkir, Klopp Masuk Radar Der Panzer
Berita Terkini
Pejabat AS Bertemu Hamas...
Pejabat AS Bertemu Hamas Saat Washington Sampaikan Tuntutan Gaza pada Israel
Pertama Kali dalam 20...
Pertama Kali dalam 20 Tahun, Buffett Tunda Donasi ke Gates Foundation karena Kasus Epstein
Pasukan Keamanan Gaza...
Pasukan Keamanan Gaza Gagalkan Penyelundupan Narkoba Besar-besaran oleh Geng Antek Israel
Media Asing Soroti Nasib...
Media Asing Soroti Nasib Nadiem Divonis 10 Tahun Penjara: Eks Bos Gojek yang Dinyatakan Korupsi
Menteri Israel Usulkan...
Menteri Israel Usulkan Rencana Relokasi Gaza yang Libatkan Mossad
Pria Ini Bunuh Pacar,...
Pria Ini Bunuh Pacar, tapi Tewas Serangan Jantung saat Buang Mayat Korban
Infografis
Melawan Donald Trump,...
Melawan Donald Trump, 7 Kampus Elite AS Kehilangan Dana Miliaran Dolar
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved