Ingin Bebaskan Sandera, Israel Bakal Kirim Mossad untuk Berunding dengan Hamas

Jum'at, 05 Juli 2024 - 07:31 WIB
loading...
Ingin Bebaskan Sandera,...
Israel akan kirim delegasi yang dipimpin Mossad untuk berunding dengan Hamas terkait pembebasan para sandera di Gaza, Palestina. Foto/REUTERS
A A A
TEL AVIV - Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan pada Kamis bahwa dia telah setuju untuk mengirim delegasi yang dipimpin Mossad untuk berunding dengan Hamas terkait pembebasan para sandera.

Dalam sebuah pernyataan setelah pembicaraan telepon dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden, kantor Netanyahu mengatakan: “Perdana menteri memberi tahu Presiden Biden tentang keputusannya untuk mengirim delegasi yang akan melanjutkan negosiasi untuk membebaskan para sandera.”

Netanyahu mengadakan pertemuan kabinet keamanannya pada Kamis malam untuk membahas proposal yang dikirim oleh Hamas melalui mediator Qatar untuk mengakhiri konflik Gaza.

Baca Juga: Jenderal Israel Tak Sabar Ingin Serang Israel Lagi, Tunggu Perang Zionis-Hizbullah Pecah

Hamas menuntut diakhirinya pertempuran dan penarikan pasukan Israel sebagai awal dari kesepakatan pembebasan sandera.

Israel membalas dengan mengatakan bahwa perang tidak akan berakhir tanpa pembebasan sandera dari Jalur Gaza, Palestina.

Netanyahu juga berulang kali bersumpah bahwa kampanye militer di Gaza tidak akan berakhir sampai kemampuan militer dan pemerintahan Hamas dihancurkan.

Hamas mengatakan pada Rabu malam bahwa mereka telah mengirimkan gagasan baru untuk kemungkinan kesepakatan dan kantor Netanyahu mengatakan pemerintah sedang mengevaluasi ide tersebut.

Qatar, Mesir dan Amerika Serikat telah melakukan mediasi antara kedua belah pihak yang bertikai dan sumber-sumber yang dekat dengan upaya mereka mengatakan ada dorongan baru untuk menjembatani kesenjangan antara kedua belah pihak dalam beberapa pekan terakhir.

Biden mengumumkan jalan menuju kesepakatan gencatan senjata pada bulan Mei yang menurutnya telah diusulkan oleh Israel dan mencakup gencatan senjata enam minggu untuk memungkinkan perundingan dan pada akhirnya sebuah program untuk membangun kembali Gaza yang hancur.

“Ada perkembangan penting dalam proposal terbaru dengan opsi positif bagi kedua belah pihak,” kata seorang diplomat yang menjelaskan proposal terbaru tersebut, seperti dikutip AFP, Jumat (5/7/2024).

“Kali ini Amerika sangat serius mengenai hal ini," ujarnya.

Perang Gaza dimulai dengan serangan Hamas pada 7 Oktober di Israel selatan yang mengakibatkan kematian 1.195 orang, menurut penghitungan AFP berdasarkan angka Israel.

Para militan Hamas juga menyandera 251 sandera, 116 di antaranya masih berada di Gaza termasuk 42 orang yang menurut militer Israel telah tewas.

Israel kemudian meluncurkan perang brutal di Gaza, menewaskan sedikitnya 38.011 orang, sebagian besar adalah warga sipil, menurut angka dari Kementerian Kesehatan Gaza.

Ada peluang nyata untuk mencapai kesepakatan dengan Hamas mengenai pembebasan sandera, kata sumber di tim perunding Israel pada hari Kamis.

“Proposal yang diajukan Hamas mencakup terobosan yang sangat signifikan,” kata sumber tersebut, setelah kelompok militan Palestina tersebut mengajukan revisi proposal kesepakatan, melalui mediator, kepada pemerintah Israel.

“Ini dapat berfungsi untuk memajukan negosiasi. Ada kesepakatan dengan peluang implementasi yang nyata. Meskipun klausulnya tidak mudah, hal itu tidak boleh menggagalkan kesepakatan," paparnya.

Seorang pejabat Israel lainnya membenarkan laporan sebelumnya bahwa delegasi Israel dalam perundingan tersebut akan dipimpin oleh bos Mossad, badan intelijen Israel untuk operasi asing.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Apa Itu Front Kedelapan...
Apa Itu Front Kedelapan Israel? Propaganda Digital terhadap Politikus Pro-Palestina
Tiru Israel, Taiwan...
Tiru Israel, Taiwan Gunakan AI untuk Rekrut Informan dan Whistleblower China
Pemimpin Oposisi Zionis:...
Pemimpin Oposisi Zionis: Kesepakatan Damai AS-Iran Berarti Tak Satu Pun Tujuan Perang Israel Tercapai
Profesor AS: Israel,...
Profesor AS: Israel, Bukan Iran, yang Jadi Ancaman Nuklir Utama di Timur Tengah
Koridor Dagang Ankara...
Koridor Dagang Ankara dan Riyadh Buat Israel Ketar-ketir, Ini 3 Pemicunya
Hamas Peringatkan Israel...
Hamas Peringatkan Israel Perluas Garis Kuning Gaza untuk Gagalkan Perundingan Gencatan Senjata
Siaga di Selat Hormuz,...
Siaga di Selat Hormuz, AS Gunakan Perahu Canggih Tanpa Awak
Pentagon Buka Arsip...
Pentagon Buka Arsip UFO, Ungkap Bola Bercahaya Misterius di Langit AS
Pesawat Militer India...
Pesawat Militer India Jatuh Tewaskan 5 Prajurit AU, Kopilot Selamat
Rekomendasi
Ratusan Kepsek di Sulsel...
Ratusan Kepsek di Sulsel Mundur Buntut Temuan BPK Terkait Dana BOS, DPR Dorong Evaluasi
Mengulik Alasan di Balik...
Mengulik Alasan di Balik Kenaikan Harga Pertamax: Demi Jaga Investor dan Keuangan
Noel Divonis 4,5 Tahun...
Noel Divonis 4,5 Tahun Penjara, KPK Tidak Ajukan Banding
Berita Terkini
Jika Dicairkan, Aset...
Jika Dicairkan, Aset Beku Iran Jadi Oksigen Segar untuk Kebangkitan Ekonomi Iran
Militerisasi Jepang...
Militerisasi Jepang dan Bahaya Radiasi Radio Aktif
Drone Hizbullah Hantam...
Drone Hizbullah Hantam Israel, IDF Bombardir Lebanon
Inggris Caplok Armada...
Inggris Caplok Armada Bayangan Rusia, Akankah Picu Perang Besar?
Ini Gaun Emas Termahal...
Ini Gaun Emas Termahal di Dunia! Beratnya 10 Kg, Harganya Rp24 Miliar
4 Fakta Tempat Tinggal...
4 Fakta Tempat Tinggal Elon Musk, Rumah Sewa dan Ukurannya Mungil
Infografis
Cegah Gencatan Senjata,...
Cegah Gencatan Senjata, Israel Palsukan Penemuan Terowongan Hamas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved