Vladimir Putin Disambut Karpet Merah di Vietnam, Amerika Serikat Marah

Kamis, 20 Juni 2024 - 12:32 WIB
loading...
Vladimir Putin Disambut...
Presiden Rusia Vladimir Putin tiba di Vietnam setelah sebelumnya menyambangi Korea Utara. Kunjungan Putin ke Vietnam memicu kemarahan Amerika Serikat. Foto/REUTERS
A A A
HANOI - Presiden Rusia Vladimir Putin telah tiba di Vietnam pada Senin (20/6/2024) untuk melakukan pembicaraan dengan para pemimpin komunis.

Vietnam menjadi perhentian terakhir tur Putin di Asia setelah sebelumnya mengunjungi Korea Utara dan menandatangani pakta pertahanan bersama dengan pemimpin negara tersebut, Kim Jong-un.

Pesawat presiden Rusia mendarat di bandara Hanoi di mana dia disambut di karpet merah oleh Wakil Perdana Menteri Vietnam Tran Hong Ha dan diplomat partai terkemuka Le Hoai Trung.

Kunjungan Putin ke Vietnam ini merupakan yang pertama sejak tahun 2017. Namun kunjungan tersebut telah memicu kemarahan mitra dagang utama Vietnam; Amerika Serikat (AS).

Baca Juga: Rusia-Korut Teken Pakta Pertahanan, Sekjen NATO Kesal

Putin dijadwalkan bertemu dengan pemimpin Partai Komunis Vietnam, Nguyen Phu Trong, Presiden To Lam, dan Perdana Menteri Pham Minh Chinh.

Pemimpin Rusia itu juga dijadwalkan menghadiri upacara peletakan karangan bunga, termasuk di Mausoleum Ho Chi Minh yang menampung jenazah pemimpin pendiri Vietnam yang dibalsem.

Para pejabat Rusia mengatakan kunjungan Putin akan fokus pada masalah ekonomi, pendidikan dan energi.

Perdagangan antara kedua negara hanya mencapai USD3,5 miliar pada tahun 2022—hanya sebagian kecil dari perdagangan Vietnam dengan China senilai USD175 miliar dan USD123 miliar dengan Amerika Serikat.

Namun para pengamat mengatakan bahwa secara pribadi, masalah Ukraina dan kerja sama pertahanan kemungkinan besar akan dibahas.

Rusia dan Vietnam memiliki hubungan erat sejak tahun 1950-an, dan selama beberapa dekade, Moskow adalah pemasok senjata utama Hanoi.

Dalam sebuah artikel opini yang bertepatan dengan kunjungannya, Putin memuji Vietnam karena mendukung cara pragmatis untuk menyelesaikan krisis di Ukraina.

Vietnam secara resmi menerapkan kebijakan luar negeri yang netral dan tidak mengutuk serangan Rusia terhadap Ukraina, sebuah sikap yang dianggap terlalu pemurah oleh beberapa negara Barat terhadap Kremlin.

Selain memuji Vietnam atas sikapnya dalam perang di Ukraina, Putin juga menyebutkan kemajuan dalam pembayaran, energi dan perdagangan antarnegara dalam artikel opini yang diterbitkan di surat kabar Partai Komunis Vietnam, Nhan Dan.

Meskipun Korea Utara dan Rusia menghadapi isolasi internasional, Vietnam telah membangun aliansi yang hati-hati dengan AS dan Uni Eropa.

AS, yang meningkatkan hubungan diplomatik dengan Hanoi tahun lalu dan merupakan pasar ekspor utama Vietnam, menentang kunjungan Putin.

“Tidak ada negara yang boleh memberikan platform kepada Putin untuk mempromosikan perang agresinya dan membiarkan dia menormalkan kekejamannya,” kata Kedutaan Besar AS di Hanoi melalui juru bicaranya, seperti dikutip The Guardian, Kamis (20/6/2024).

Kehadiran presiden Rusia di Vietnam merupakan tindak lanjut dari kunjungan penting ke Pyongyang, di mana dia dan penguasa Korea Utara, Kim Jong-un, menandatangani pakta pertahanan bersama.

Perjanjian tersebut mencakup klausul yang mengharuskan negara-negara tersebut untuk saling membantu jika salah satu negara diserang, sehingga meningkatkan kekhawatiran negara-negara Barat mengenai potensi bantuan Rusia untuk program rudal atau nuklir Korea Utara.

Presiden AS Joe Biden mengunjungi Hanoi pada bulan September untuk mempromosikan hubungan baik ketika pemerintahannya berupaya menjadikan Vietnam sebagai pemasok alternatif komponen-komponen teknologi tinggi utama untuk mengurangi ketergantungan Amerika pada China.

Beijing dengan cepat mengikuti langkah tersebut, dan Presiden Xi Jinping melakukan kunjungan kenegaraannya sendiri tiga bulan kemudian.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Venezuela Umumkan Keadaan...
Venezuela Umumkan Keadaan Darurat setelah Diguncang 2 Gempa Dahsyat, 32 Orang Tewas
Rugi Besar Akibat Kalah...
Rugi Besar Akibat Kalah Perang, Trump Minta Tambahan Dana Rp1.572 Triliun
Demi Lindungi Negara-negara...
Demi Lindungi Negara-negara Arab, AS Janjikan Perdamaian Abadi dengan Iran
Badan Intelijen AS Kehilangan...
Badan Intelijen AS Kehilangan Akses ke Alat AI Mythos 5, Apa Pemicunya?
LineShine Jadi Superkomputer...
LineShine Jadi Superkomputer Tercepat di Dunia, China Mampu Kalahkan AS
Pengaruh Wali Kota Muslim...
Pengaruh Wali Kota Muslim New York Ini Makin Kuat, Siapa yang Didukungnya Menang!
Usai Perang dengan Iran,...
Usai Perang dengan Iran, Trump Janji Ekonomi AS Segera Bangkit
Israel Bom Lebanon,...
Israel Bom Lebanon, Iran Murka Bakal Kembali Tutup Selat Hormuz
Jemaah Umrah Perlu Tahu!...
Jemaah Umrah Perlu Tahu! Ini Waktu Masuk Hijr Ismail untuk Perempuan dan Laki-Laki
Rekomendasi
Bank Mandiri Taspen...
Bank Mandiri Taspen dan PNM Gelar Pelatihan Vokasi untuk Difabel di Brebes
UKM Malaysia Tembus...
UKM Malaysia Tembus Peringkat 7 Dunia THE Sustainability Impact Ratings 2026
Komisi I Bangga TNI...
Komisi I Bangga TNI Ikut Urus Pertanian, Dave Laksono: Ini Bukan Kembali ke Dwifungsi
Berita Terkini
Iran Peringatkan Kapal-kapal...
Iran Peringatkan Kapal-kapal Tidak Melintasi Selat Hormuz Tanpa Izin
Korban Gempa Venezuela...
Korban Gempa Venezuela Bertambah, 164 Orang Tewas, 971 Luka-luka
Menlu Iran Bilang Hamas:...
Menlu Iran Bilang Hamas: Gaza Penting dalam Negosiasi dengan AS
Netanyahu Terpaksa Terima...
Netanyahu Terpaksa Terima Gencatan Senjata, Israel Bersiap Tarik Pasukan
PBB Ungkap Israel Bunuh...
PBB Ungkap Israel Bunuh Lebih dari 20.000 Anak Palestina
Venezuela Umumkan Keadaan...
Venezuela Umumkan Keadaan Darurat setelah Diguncang 2 Gempa Dahsyat, 32 Orang Tewas
Infografis
Rp603 Triliun Milik...
Rp603 Triliun Milik Amerika Serikat Habis Terbakar di Langit Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved