alexametrics

Bomber Sri Lanka Pernah Belajar di Australia dan Inggris

loading...
Bomber Sri Lanka Pernah Belajar di Australia dan Inggris
Tangis kerabat korban bom Sri Lanka pecah saat pemakaman. Foto/Istimewa
A+ A-
KOLOMBO - Pemerintah Sri Lanka mengkonfirmasi bahwa salah satu pelaku bom bunuh diri yang terlibat dalam serangan pada Minggu Paskah sebelumnya pernah belajar di Australia dan Inggris. Hal itu diungkapkan oleh Menteri Pertahanan Junior Sri Lanka, Ruwan Wijewardene.

"Kami percaya salah satu pelaku bom bunuh diri belajar di Inggris dan mungkin, kemudian, menyelesaikan pendidikan pasca sarjana di Australia sebelum kembali untuk menetap di Sri Lanka," ungkapnya seperti dikutip dari SBS, Rabu (24/4/2019).

Wijewardene mengatakan penyelidikan sejauh ini mengungkapkan bahwa banyak dari para tersangka berpendidikan dan berasal dari kelas menengah ke atas sehingga mandiri secara finansial.



Wijewardene mengatakan otoritas keamanan masih menyelidiki sejauh mana hubungan pihak asing dengan bomber.

"Kami mencari semua negara tetangga kami terkait hubungan negara-negara itu dengan radikalisasi. Kami menghubungi rekan-rekan kami di negara-negara tetangga dan mereka membantu kami," terangnya.

Pihak berwenang juga segera menyelidiki klaim oleh kelompok Negara Islam atau ISIS bahwa mereka bertanggung jawab atas salah satu serangan militan terburuk terhadap warga sipil di Asia.

Pihak berwenang di Kolombo telah menunjuk kelompok ekstremis Islam lokal yang kurang dikenal bernama National Thowheeth Jama'ath (NTJ), tetapi mengatakan mereka sedang menyelidiki apakah kelompok tersebut mendapat dukungan internasional.

Pihak berwenang berencana melakukan penangkapan lebih lanjut dalam beberapa hari mendatang karena mereka menyelidiki klaim ISIS bertanggung jawab atas serangan itu.

Sebelumnya 18 tersangka telah ditangkap dalam aksi penggerebekan pada malam hari, sehingga jumlah total penangkapan menjadi 58.
(ian)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak