Khamenei Sebut Saudi Rezim Zalim, Korup dan Bergantung

Jum'at, 22 Maret 2019 - 03:47 WIB
Khamenei Sebut Saudi...
Khamenei Sebut Saudi Rezim Zalim, Korup dan Bergantung
A A A
TEHERAN - Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengecam keras Arab Saudi dalam pidatonya di televisi untuk menandai Tahun Baru Persia. Kecamannya ini berpotensi semakin meningkatkan ketegangan dua negara yang bermusuhan di Timur Tengah tersebut.

"Saya tidak tahu negara bagian di kawasan ini, atau mungkin di mana pun di dunia, lebih buruk daripada rezim Saudi. Ini adalah rezim yang zalim, diktator, korup, tiran dan bergantung," katanya.

Khamenei juga mengecam rencana Riyadh untuk membangun reaktor nuklir dengan bantuan Washington dan untuk membangun pabrik produksi rudal. Kendati demikian, dia khawatir tentang hal itu.

"(AS) menyediakan rezim seperti itu dengan infrastruktur nuklir. Mereka mengumumkan bahwa mereka akan membangun pabrik nuklir untuk itu. Mereka mengumumkan bahwa mereka akan membangun bagian-bagian penghasil rudal. Sekarang bahkan jika mereka membangunnya, saya tidak akan khawatir, karena Saya tahu dalam waktu dekat mereka akan berada di tangan pejuang Islam, Insya Allah," papar Khamenei, dikutip Sputnik, Jumat (22/3/2019).

Riyadh memutuskan hubungan diplomatik dengan Teheran pada 2016 setelah fasilitas diplomatik Saudi di Republik Islam Iran diserang oleh orang-orang yang memprotes eksekusi ulama Syiah oleh otoritas Saudi.

Hubungan kedua negara juga terus memanas, di mana Riyadh berulang kali menuduh Teheran berusaha mempengaruhi kebijakan negara-negara Timur Tengah lainnya dan kelompok yang didukung Teheran dinyatakan sebagai organisasi teroris oleh Kerajaan Arab Saudi.

Ketika berbicara tentang pengadaan infrastruktur nuklir, Khamenei merujuk pada negosiasi AS-Saudi mengenai pembangunan reaktor nuklir di Arab Saudi dengan bantuan Washington. Kedua belah pihak belum mencapai kesepakatan, tetapi masalah ini telah menimbulkan pertanyaan di Senat AS, di mana anggota parlemen telah menyatakan keprihatinan tentang negosiasi yang dilakukan dengan cara yang sangat buram.

Para anggota parlemen juga meminta Presiden AS Donald Trump untuk menunda pembicaraan dengan Arab Saudi mengenai perjanjian nuklir sipil bilateral. Alasannya, otoritas Riyadh diduga memiliki peran dalam pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi. Namun, tudingan itu telah dibantah pemerintah Saudi.
(mas)
Berita Terkait
New York Times: Pembunuh...
New York Times: Pembunuh Khashoggi Terima Pelatihan Paramiliter di AS
Mengurai Pertemanan...
Mengurai Pertemanan Dekat Jamal Khashoggi dengan Osama bin Laden
Tunangan Khashoggi Desak...
Tunangan Khashoggi Desak Putra Mahkota Saudi Segera Dihukum
Media AS: Arab Saudi...
Media AS: Arab Saudi Buka Wilayah Udara ke Israel dengan Imbalan Akses Pegasus
AS: Pangeran Saudi Mohammed...
AS: Pangeran Saudi Mohammed bin Salman Kebal Gugatan Kasus Pembunuhan Khashoggi
Tunangan Khashoggi Peringatkan...
Tunangan Khashoggi Peringatkan Biden: Jangan Letakkan Minyak di Atas Prinsip
Berita Terkini
Militer AS Bangun Pangkalan...
Militer AS Bangun Pangkalan Baru di Dekat Perbatasan Gaza untuk Dukung Rencana Pasca-Perang
51 menit yang lalu
Trump Puji Unggahan...
Trump Puji Unggahan Menlu Iran tentang Kemungkinan Kesepakatan AS-Iran Sangat Positif
1 jam yang lalu
Menlu Iran Ungkap MoU...
Menlu Iran Ungkap MoU dengan AS Mencakup Lebanon dan Blokade Paman Sam
2 jam yang lalu
Trump Marah, Tuding...
Trump Marah, Tuding Iran Bocorkan Detail Kesepakatan Damai
11 jam yang lalu
Apa yang Ada dan Tidak...
Apa yang Ada dan Tidak Ada dalam Draf Kesepakatan Damai AS-Iran?
13 jam yang lalu
Iran Tegaskan Pengelolaan...
Iran Tegaskan Pengelolaan Selat Hormuz akan Disepakati Melalui Dialog Regional
14 jam yang lalu
Infografis
Trade Misinvoicing dan...
Trade Misinvoicing dan Upaya Penguatan Integritas Perdagangan Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved