Kalimat Horor Teroris Brenton Tarrant saat Ditangkap Polisi

Kamis, 21 Maret 2019 - 04:22 WIB
Kalimat Horor Teroris...
Kalimat Horor Teroris Brenton Tarrant saat Ditangkap Polisi
A A A
CHRISTCHURCH - Brenton Harrison Tarrant, 28, teroris asal Australia, yang membantai 50 orang di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, melontarkan kalimat horor kepada dua petugas polisi yang menangkapnya dari sebuah mobil. Dia mengatakan, "Saya punya bom" dan meletuskan tembakan.

Menteri Kepolisian Selandia Baru Stuart Nash mengungkap cerita penangkapan tersangka teroris itu yang dia sebut momen luar biasa. Dia memuji dua petugas polisi pemberani yang beraksi cepat menangkap Tarrant.

"Kami berbicara tentang kota besar...untuk menahan orang itu baik dalam 20 atau 35 menit, saya pikir ini luar biasa," kata Nash, dikutip news.com.au, Kamis (21/3/2019).

Nash mengungkapkan lebih detail tentang penangkapan Tarrant.

"Kedua orang (polisi) ini menarik orang ini (Brenton Tarrant), tetapi pada saat yang sama dia berteriak, 'Saya punya bom' dan menembak pada saat yang sama, jadi kita terlalu sering menggunakan kata pahlawan, tetapi tidak dalam kasus ini," kata Nash.

Ditanya apakah dua petugas polisi pemberani itu akan menerima penghargaan, Nash mengatakan dia tidak bisa mencegah apa pun. "Tetapi ada yang tak terlalu banyak tindakan keberanian lebih tinggi dari itu," ujarnya.

Sebuah video berdurasi 12 detik yang menggambarkan penangkapan Tarrant menunjukkan mobil tersangka teroris itu ditabrak dan diapit oleh mobil polisi di Brougham St.

Tarrant yang dikeluarkan dari mobilnya terlihat mengenakan celana kargo berwarna gelap, rompi amunisi, dan helm. Selain itu, tangannya juga diborgol di belakang.

Kamera video itu kemudian bergerak lagi dan dua petugas polisi terlihat berlari di sepanjang jalan.

Teroris asal Australia itu membantai 50 orang di Masjid Al-Noor dan Masjid Linwood, Jumat pekan lalu. Dia beraksi dengan senapan semi-otomatis

Komisaris Polisi Mike Bush mengatakan, "Ini benar-benar penyelidikan internasional".

Menurutnya, penyelidikan cepat tersebut melibatkan polisi Selandia Baru, FBI, polisi Australia, dan mitra intelijen Five Eyes.

Bush mengonfirmasi bahwa sejauh ini tercatat baru ada satu penyerang.

"Fokus (penyelidikan) adalah untuk mencari tahu apakah ada orang lain yang mendukungnya dengan cara apa pun," ujarnya.

Tarrant akan dihadirkan di Pengadilan Tinggi pada 5 April."Tidak diragukan lagi akan ada lebih banyak dakwaan," kata Bush.

"Kami sedang berupaya, seperti yang Anda bayangkan, sejumlah besar tuduhan paling serius," imbuh dia.

Polisi sekarang secara resmi mengidentifikasi 21 korban dan tubuh mereka akan diserahkan kepada keluarga mereka.
(mas)
Berita Terkait
Tsunami Matahari Spektakuler...
'Tsunami Matahari' Spektakuler Terangi Langit Selandia Baru
Jika Ada Selandia Baru,...
Jika Ada Selandia Baru, Apakah Ada Selandia Lama?
Singapura Minta Australia...
Singapura Minta Australia dan Selandia Baru Longgarkan Pembatasan untuk ASEAN
PM Ardern: Kapal Selam...
PM Ardern: Kapal Selam Nuklir Australia Dilarang Masuki Perairan Selandia Baru
Selandia Baru Buka Perbatasan...
Selandia Baru Buka Perbatasan dengan Australia Tahun Depan
Terbukti Lebih Rendah...
Terbukti Lebih Rendah Risiko, Indonesia Bisa Contoh Selandia Baru Dorong Perokok Beralih ke Produk Tembakau Alternatif
Berita Terkini
Tegang dengan NATO,...
Tegang dengan NATO, Pesawat Pengebom Nuklir Rusia Berkeliaran di Arktik
2 jam yang lalu
Iran Klaim 3 Poin Kemenangan...
Iran Klaim 3 Poin Kemenangan dalam Negosiasi dengan AS, Termasuk Aset Senilai Rp214 Triliun
2 jam yang lalu
Dosen Ini Donorkan Organnya...
Dosen Ini Donorkan Organnya untuk Selamatkan 5 Orang, Staf RS Berbaris Beri Penghormatan Terakhir
2 jam yang lalu
Siapa Andy Burnham?...
Siapa Andy Burnham? Kandidat Kuat PM Inggris yang Suka Bermain Bola
3 jam yang lalu
China Tuduh Militer...
China Tuduh Militer Jepang Mengganggu Latihan Tempur Kapal Induk Liaoning
3 jam yang lalu
Gelombang Panas Sengat...
Gelombang Panas Sengat Eropa, 18 Orang Tewas di Prancis
3 jam yang lalu
Infografis
Saat Sekutu Berhenti...
Saat Sekutu Berhenti Menuruti Donald Trump
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved