AS Kesal China Terus-menerus Dukung Putin dalam Perang Ukraina
Jum'at, 17 Mei 2024 - 07:41 WIB
loading...
A
A
A
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS itu mengatakan Rusia akan bersusah payah melanjutkan perangnya melawan Ukraina tanpa dukungan China.
“Tidak ada negara yang boleh memberikan platform kepada Putin untuk mempromosikan perang agresi terhadap Ukraina,” katanya.
“Kita tidak bisa kembali menjalankan urusan seperti biasa atau menutup mata terhadap pelanggaran hukum internasional yang jelas-jelas dilakukan Rusia di Ukraina. Perlu ada akuntabilitas bagi mereka yang bertanggung jawab atas kejahatan perang," paparnya.
Jonathan Ward, peneliti senior di lembaga think tank Hudson Institute yang berbasis di Washington, D.C., mengatakan kepada Newsweek bahwa kunjungan Putin mencerminkan hubungan yang semakin erat antara Rusia dan China.
“Pada titik ini, poros Rusia-Cina telah terbentuk, dan Amerika Serikat serta Eropa telah sepenuhnya memanfaatkan dukungan China terhadap upaya perang Rusia di Eropa,” katanya.
“Jadi jika kedua negara otoriter tersebut terus melanjutkan keterlibatan dan ‘koordinasi strategis’ mereka, bahkan ketika AS dan sekutunya menyadari hal ini, menunjukkan bahwa ini adalah kemitraan yang mendalam dan ada aktivitas yang lebih jahat di masa depan," paparnya.
“Tidak ada negara yang boleh memberikan platform kepada Putin untuk mempromosikan perang agresi terhadap Ukraina,” katanya.
“Kita tidak bisa kembali menjalankan urusan seperti biasa atau menutup mata terhadap pelanggaran hukum internasional yang jelas-jelas dilakukan Rusia di Ukraina. Perlu ada akuntabilitas bagi mereka yang bertanggung jawab atas kejahatan perang," paparnya.
Jonathan Ward, peneliti senior di lembaga think tank Hudson Institute yang berbasis di Washington, D.C., mengatakan kepada Newsweek bahwa kunjungan Putin mencerminkan hubungan yang semakin erat antara Rusia dan China.
“Pada titik ini, poros Rusia-Cina telah terbentuk, dan Amerika Serikat serta Eropa telah sepenuhnya memanfaatkan dukungan China terhadap upaya perang Rusia di Eropa,” katanya.
“Jadi jika kedua negara otoriter tersebut terus melanjutkan keterlibatan dan ‘koordinasi strategis’ mereka, bahkan ketika AS dan sekutunya menyadari hal ini, menunjukkan bahwa ini adalah kemitraan yang mendalam dan ada aktivitas yang lebih jahat di masa depan," paparnya.
Lihat Juga :