Bangladesh Soroti Kualitas Peralatan Militer China yang Berada di Bawah Standar

Kamis, 09 Mei 2024 - 16:15 WIB
loading...
A A A
China dikenal mahir dalam mengkloning produk. Menurut Carlos Sánchez Berzaín, direktur Institut Demokrasi Inter-Amerika yang berbasis di Miami: "Semua yang dijual China adalah teknologi terbelakang yang mereka tiru dari Barat."

Berzaín menambahkan bahwa ketika beberapa teknologi baru muncul di AS, China dengan cepat merekayasa ulang teknologi tersebut dan menyajikan salinan bajakan mereka dalam beberapa bulan.

"Beijing tidak memiliki pengembangan teknologinya sendiri, karena hal itu menghabiskan banyak uang," ucapnya.

Faktor Harga


Akibat dari rendahnya kualitas alutsista yang juga merupakan teknologi duplikat tingkat kedua adalah pada 2020, ekspor China turun menjadi hanya 759 juta TIV—level terendah sejak tahun 2008. Nilai Indikator Tren SIPRI (Stockholm International Peace Research Institute), tidak secara langsung mengukur nilai finansial penjualan senjata dalam mata uang tertentu; sebaliknya, hal ini memungkinkan adanya perbandingan antar negara dan lintas waktu.

Oleh karena itu, dari tahun 2010 hingga 2020, China mengekspor hampir 16,6 miliar TIV senjata konvensional ke seluruh dunia, dengan rata-rata 1,5 miliar TIV per tahun. Namun pada 2020, ekspor China turun menjadi hanya 759 juta TIV—tingkat terendah sejak 2008.

Dalam hal pangsa pasar, ekspor senjata China menyusut dari 5,6 persen menjadi 5,2 persen. Terlepas dari kenyataan bahwa perusahaan-perusahaan China memiliki stigma karena memberikan layanan buruk kepada militer asing, dan produk-produk yang tidak selalu dapat diandalkan atau tidak berfungsi seperti yang diiklankan, mereka terus menarik minat pelanggan karena faktor harga.

Meski klien tahu bahwa helikopter, pesawat tempur, atau tank China mungkin tidak dapat diandalkan dibandingkan helikopter Amerika, mereka yakin harganya pasti jauh lebih murah. AS memberlakukan pembatasan dan peraturan yang jauh lebih ketat dalam hal penjualan senjata. Hal ini, ditambah harga dan politik, sering kali menjadikan China sebagai sumber peralatan militer yang lebih menarik bagi negara-negara lain.

Angkatan Laut Bangladesh dilaporkan telah mengatakan kepada China Vanguard Industry Co Limited mengenai peningkatan biaya produk pertahanan, bahkan ketika harga barang-barang pertahanan yang dibeli dari perusahaan-perusahaan pertahanan Eropa dan AS sedang menurun.

Sejak Dhaka membeli lebih dari 70 persen persenjataannya dari China pada tahun 2014-2018, Beijing khawatir dengan ketidakpuasan Pasukan Pertahanan Bangladesh terhadap kualitas pasokan dan harga peralatan pertahanannya.

Khawatir terhadap Dhaka yang mendiversifikasi pasokan pertahanannya dan memperoleh barang-barang pertahanan berkualitas dari India, Eropa, dan Amerika Serikat, China telah mencoba menghilangkan kekhawatiran pertahanan Bangladesh mengenai kenaikan harga dan rendahnya kualitas barang-barang pertahanan.

Tentara China telah merencanakan untuk mengadakan latihan militer pertamanya dengan tentara Bangladesh bulan ini. China sangat khawatir atas rencana Bangladesh yang hendak membeli produk pertahanan dari India di bawah skema Line of Credit senilai USD500 juta.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AS Gencarkan Serangan...
AS Gencarkan Serangan di Iran, Houthi Izinkan Kapal-kapal China lewat Selat Bab al-Mandeb
Masalah Kualitas dan...
Masalah Kualitas dan Krisis Internal Hambat Ambisi Ekspor Senjata China
Terowongan Runtuh Akibat...
Terowongan Runtuh Akibat Ledakan Pipa Gas di India, 12 Orang Tewas
4 Operasi Militer Berani...
4 Operasi Militer Berani yang Berakhir Bencana, dari Invasi Teluk Babi hingga Cakar Elang
Langka, Kapal Perang...
Langka, Kapal Perang China Latihan Tembak di Dalam ZEE Jepang
China Perluas Pengaruh...
China Perluas Pengaruh di Kirgizstan, Warga Khawatir soal Kedaulatan
Merek-merek China Menguasai...
Merek-merek China Menguasai Sepertiga Penjualan PHEV di Eropa
Perang di Iran Telah...
Perang di Iran Telah Telan Biaya Rp671 Triliun, Menhan AS Minta Dana Tambahan
Wali Kota New York Mamdani...
Wali Kota New York Mamdani Diancam Bunuh gegara Bela Palestina-Kecam Israel
Rekomendasi
Lintasan Tokyo Siap...
Lintasan Tokyo Siap Menguji! Simak Jadwal Lengkap dan Live Streaming di VISION+
Daftar 26 Pemain Timnas...
Daftar 26 Pemain Timnas Indonesia untuk Piala AFF 2026: Persib dan Persija Terbanyak!
Biznet Gio dan IMV Hadirkan...
Biznet Gio dan IMV Hadirkan Solusi Hybrid Cloud, Dukung Transformasi Smart Manufacturing
Berita Terkini
AS Gencarkan Serangan...
AS Gencarkan Serangan di Iran, Houthi Izinkan Kapal-kapal China lewat Selat Bab al-Mandeb
Minyak Mentah Brent...
Minyak Mentah Brent Tembus USD100 setelah Kapal Tanker Diserang di Laut Merah
PBB Murka Masjid Al-Aqsa...
PBB Murka Masjid Al-Aqsa Diserbu Menteri Israel dan 4.000 Massa Yahudi
AS Rugi Besar akibat...
AS Rugi Besar akibat Serangan Iran di Seluruh Negara Arab
Ini Sosok Pangeran Arab...
Ini Sosok Pangeran Arab Saudi yang Tewas di Hotel Mewah usai Konsumsi Narkoba dan Alkohol
IRGC: Serangan Rudal...
IRGC: Serangan Rudal Iran Hancurkan Sistem Pertahanan THAAD, Patriot, dan C-RAM Amerika di Yordania
Infografis
10 Bendera Negara Paling...
10 Bendera Negara Paling Unik di Dunia, Ada yang Bergambar Naga
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved