Kenapa Mesir Tidak Membantu Rafah Padahal Berbatasan Langsung? Ternyata Ini Alasannya

Kamis, 09 Mei 2024 - 15:01 WIB
loading...
Kenapa Mesir Tidak Membantu...
Warga Palestina mengungsi dengan truk saat melarikan diri dari Rafah setelah pasukan Israel melancarkan operasi darat dan udara di bagian timur kota Gaza selatan, 8 Mei 2024. Foto/REUTERS/Hatem Khaled
A A A
KAIRO - Kenapa Mesir tidak membantu warga Palestina di Rafah padahal negara tersebut berbatasan langsung dengan kota tersebut?

Pertanyaan ini kerap muncul mengingat Mesir merupakan salah satu negara mayoritas Islam yang mengutuk tindakan Israel.

Pada Februari lalu, lebih dari 1,5 juta warga sipil Palestina berlindung di kota Rafah di Gaza selatan setelah berulang kali mendapat serangan dari berbagai sisi dari militer Israel.

Kota Rafah yang awalnya berpenduduk 250.000 jiwa, kini menjadi rumah bagi lebih dari separuh penduduk Gaza. Mereka semua berlindung untuk mempertahankan nyawa dari perang dan kelaparan yang terus menghantui.

Meskipun Rafah merupakan kota yang berbatasan langsung dengan Mesir, rupanya hal ini tak membuat warga Palestina yang mengungsi merasa aman. Sebab pihak mesir enggan membukakan pintunya untuk para pengungsi.

Membuat Mesir menjadi satu-satunya negara selain Israel yang berbatasan dengan Gaza, menolak tekanan untuk menerima pengungsi Palestina yang dipindahkan oleh Israel.

Laporan dari New York Post, mengindikasikan para pejabat Israel telah mencoba melobi dukungan internasional untuk memaksa Mesir menerima pengungsi dari Gaza.

Penyebab Mesir Tidak Membantu Rafah


Salah satu penyebab Mesir tidak memberi bantuan terhadap Rafah adalah kekhawatiran mereka akan terjadinya pengungsian permanen dan meluasnya konflik.

Membuktikan jika Mesir tidak ingin terseret ke dalam perang. Karena jika ada militan yang masuk ke wilayah Mesir tentunya akan membuat Israel memperluas serangannya.

Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi mengatakan pada awal perang bahwa ia yakin Israel berusaha mendorong warga Palestina masuk ke negaranya dengan membatasi pasokan makanan, obat-obatan, bahan bakar, air, dan kebutuhan pokok lainnya di wilayah Rafah.

Namun Pemerintah Israel menentang niatan tersebut, walau beberapa anggota koalisi sayap kanan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang lebih ekstrem telah menyerukan agar warga Palestina diusir.

Ungkapan inilah yang membuat warga Mesir dan Palestina gelisah mengenai apa yang akan terjadi selanjutnya.

Bahkan dalam beberapa pekan terakhir, para diplomat Mesir telah memberi isyarat kepada beberapa rekan mereka di Barat bahwa Mesir dapat menangguhkan perjanjian perdamaian tahun 1979 dengan Israel jika serangan Israel di Rafah mendorong orang-orang ke Sinai.

Selain tidak memberikan akses bagi pengungsi Palestina masuk ke wilayahnya, Mesir diketahui tengah membangun tembok di dekat perbatasan. Hal tersebut terlihat melalui foto satelit belum lama ini menurut NPR.

Ini tentunya hal yang tak wajar ditunjukkan oleh negara tetangga. Mengingat ketika Rusia melancarkan invasi besar-besaran ke Ukraina dua tahun lalu, jutaan warga Ukraina berbondong-bondong datang ke negara tetangga Polandia, yang menyambut kedatangan mereka.

Kemudian ketika Suriah dilanda perang saudara pada tahun 2011, jutaan orang melarikan diri ke negara-negara tetangga.

Baca juga: Serangan Israel ke Rafah Dapat Restu Amerika Serikat
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Komite Administrasi...
Komite Administrasi Gaza Ungkap Prioritas Rekonstruksi Sudah Ditetapkan, Siap Mulai Pekerjaan
Ungkap Kekerasan Obstetri...
Ungkap Kekerasan Obstetri di RS, Dokter Wanita Ini Ditangkap atas Tuduhan Sebar Hoaks
Israel Marah setelah...
Israel Marah setelah Presiden Belarusia Samakan Pembantaian Gaza dengan Holocaust Nazi
Israel Danai Pemukim...
Israel Danai Pemukim Ekstremis, Bayar Rp34 Miliar Per Bulan
Hamas Sambut Baik Kesepakatan...
Hamas Sambut Baik Kesepakatan AS-Iran, Serukan Penghentian Serangan di Gaza dan Lebanon
Israel Tak Akan Mundur...
Israel Tak Akan Mundur dari Suriah, Gaza dan Lebanon
Dewan Pers Minta Pemerintah...
Dewan Pers Minta Pemerintah Tempuh Jalur Diplomatik Bebaskan Jurnalis yang Ditangkap Israel
Suami Divonis 4 Tahun...
Suami Divonis 4 Tahun Penjara karena Paksa Istri Berhubungan Seks dengan 120 Pria
Acuhkan Trump, Israel...
Acuhkan Trump, Israel Tolak Tinggalkan Lebanon meski AS-Iran Berdamai
Rekomendasi
Jawaban untuk Kenyamanan...
Jawaban untuk Kenyamanan Menginap Melalui Pilihan Hotel-Hotel Favorit
Tiga Tahun Program Mangrove...
Tiga Tahun Program Mangrove NHM di Kao Tunjukkan Hasil Nyata bagi Pemulihan Ekosistem Pesisir
BRI KKB Tawarkan Bunga...
BRI KKB Tawarkan Bunga Spesial Mulai 3% Flat untuk Pembiayaan Mobil Listrik
Berita Terkini
Swiss Ungkap Perundingan...
Swiss Ungkap Perundingan AS-Iran Tidak Jadi Digelar, Wapres Vance Batalkan Perjalanan
Jurnalis AS: Trump Tak...
Jurnalis AS: Trump Tak Konsultasi dengan Israel soal Iran untuk Lemahkan Posisi Netanyahu
Taliban Larang Warga...
Taliban Larang Warga Afghanistan Gunakan Ponsel Pintar, Jika Nekat Bakal Dihancurkan
Komite Administrasi...
Komite Administrasi Gaza Ungkap Prioritas Rekonstruksi Sudah Ditetapkan, Siap Mulai Pekerjaan
Kecaman Wapres AS ke...
Kecaman Wapres AS ke Israel Makin Pedas: Senjatamu Dibayar dengan Uang Pajak Amerika!
Penampakan Mengerikan...
Penampakan Mengerikan 'Hujan Minyak Hitam' di Langit Moskow akibat Serangan Terbesar Ukraina
Infografis
Ini Penjelasan Warna...
Ini Penjelasan Warna Singa Putih Ternyata Bukan Albino
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved