Analisis Siapa Menang antara Sistem Rudal S-400 Rusia vs Jet Siluman F-35 AS?
Senin, 29 April 2024 - 12:18 WIB
loading...
Pemenang dalam potensi pertempuran antara sistem rudal S-400 Rusia melawan jet tempur siluman F-35 AS terus menjadi perdebatan. Foto/via EurAsian Times
A
A
A
WASHINGTON - The Washington Post, dalam sebuah laporan, mengakui kemampuan yang luar biasa dari sistem pertahanan udara S-400 Rusia— mengakui potensinya untuk menargetkan jet tempur siluman, termasuk F-35 Lightning II Amerika Serikat (AS) yang kehebatannya telah digembar-gemborkan.
S-400 Rusia menonjol sebagai puncak global dari sistem pertahanan udara, dengan keunggulan yang tak tertandingi.
Di sisi lain, F-35 dielu-elukan sebagai pesawat tempur siluman generasi kelima yang paling sukses dalam mendominasi pasar pesawat tempur global.
S-400 Triumf, oleh NATO dinamai sebagai SA-21 Growler, memiliki berbagai kemampuan yang mengesankan, termasuk kemampuan untuk meluncurkan berbagai misil yang disesuaikan untuk menghadapi ancaman udara yang berbeda.
Dengan jangkauan pertempuran mencapai hampir 400 kilometer dan kemampuan kontra-stealth yang sangat dipuji, S-400 Triumf telah memperoleh reputasi sebagai lawan yang tangguh yang mampu menantang dominasi udara Amerika.
Baca Juga: Iran Luncurkan Senjata Baru yang Diklaim Mampu Lumpuhkan Jet Tempur Siluman F-35
Kemampuan S-400 untuk melawan setiap pesawat telah menjadi faktor signifikan dalam kesuksesan ekspornya. Sebagai contoh, India, yang menandatangani kontrak untuk lima skuadron S-400, telah menaruh kepercayaannya pada sistem pertahanan udara Rusia yang canggih ini untuk melawan jet tempur generasi kelima China, J-20.
Pengakuan Washington Post, yang mengutip para pakar militer, menandakan perubahan dari skeptisisme Barat mengenai kehebatan S-400 dalam menghadapi teknologi pesawat siluman.
Meskipun kemungkinan adanya konfrontasi antara dua sistem senjata yang tangguh ini tampak jauh, kekhawatiran seputar koeksistensi mereka sangat nyata.
Inti dari masalah ini terletak pada ketakutan bahwa S-400 dapat mengompromikan teknologi sensitif dan kemampuan operasional F-35.
Perselisihan diplomatik dari akuisisi S-400 oleh Turki, negara anggota NATO, merupakan contoh yang menggugah kesadaran tentang ketegangan seputar masalah ini.
Sengketa antara Turki dan Amerika Serikat atas pembelian S-400 pada tahun 2019 mengakibatkan pengusiran Ankara dari program F-35, yang efektif menghentikan semua proses pelatihan dan pengiriman yang terkait dengan jet tempur tersebut. Perpecahan ini menggarisbawahi seriusnya Amerika Serikat melihat risiko potensial yang terkait dengan penempatan F-35 di dekat S-400.
Kathryn Wheelbarger, yang saat itu menjabat sebagai pelaksana tugas (Plt) asisten menteri pertahanan AS, dengan tegas merangkum kekhawatiran ini ketika dia secara terbuka mengakui bahwa S-400 secara khusus dirancang untuk menargetkan dan menetralisir pesawat seperti F-35.
"Sulit untuk membayangkan Rusia tidak memanfaatkan peluang pengumpulan intelijen itu," katanya, seperti dikutip EurAsian Times, Senin (29/4/2024).
Sentimen ini juga disuarakan oleh Jenderal Tod Wolters, yang memimpin Komando Eropa AS, dengan menekankan ketidakcocokan mendasar antara F-35 dan S-400.
Dia menyoroti ketidakmampuan sistem ini untuk berkomunikasi satu sama lain dan menekankan risiko yang ditimbulkan oleh upaya S-400 untuk mengeksploitasi kemampuan F-35.
Prospek berbagi data radar dan operasional yang kritis dengan Rusia adalah skenario yang harus dihindari oleh Amerika Serikat dan sekutunya dengan segala cara.
Meskipun kemungkinan rendahnya adanya konfrontasi antara kedua aset militer ini, keberadaan S-400 di daerah di mana F-35 beroperasi menyebabkan tantangan yang kompleks dan banyak dimensi.
Para pakar pertahanan berpendapat bahwa keberadaan S-400 di dekat F-35 dapat meningkatkan kapasitas Rusia untuk meningkatkan deteksi radar pesawat Amerika. Selain itu, dengan akses yang lebih besar ke data F-35, pemilik dan operator S-400 mungkin lebih efektif mengidentifikasi kerentanan dalam pesawat.
S-400 Rusia menonjol sebagai puncak global dari sistem pertahanan udara, dengan keunggulan yang tak tertandingi.
Di sisi lain, F-35 dielu-elukan sebagai pesawat tempur siluman generasi kelima yang paling sukses dalam mendominasi pasar pesawat tempur global.
S-400 Triumf, oleh NATO dinamai sebagai SA-21 Growler, memiliki berbagai kemampuan yang mengesankan, termasuk kemampuan untuk meluncurkan berbagai misil yang disesuaikan untuk menghadapi ancaman udara yang berbeda.
Dengan jangkauan pertempuran mencapai hampir 400 kilometer dan kemampuan kontra-stealth yang sangat dipuji, S-400 Triumf telah memperoleh reputasi sebagai lawan yang tangguh yang mampu menantang dominasi udara Amerika.
Baca Juga: Iran Luncurkan Senjata Baru yang Diklaim Mampu Lumpuhkan Jet Tempur Siluman F-35
Kemampuan S-400 untuk melawan setiap pesawat telah menjadi faktor signifikan dalam kesuksesan ekspornya. Sebagai contoh, India, yang menandatangani kontrak untuk lima skuadron S-400, telah menaruh kepercayaannya pada sistem pertahanan udara Rusia yang canggih ini untuk melawan jet tempur generasi kelima China, J-20.
Pengakuan Washington Post, yang mengutip para pakar militer, menandakan perubahan dari skeptisisme Barat mengenai kehebatan S-400 dalam menghadapi teknologi pesawat siluman.
AS Ragu Kerahkan F-35 Dekat S-400?
Meskipun kemungkinan adanya konfrontasi antara dua sistem senjata yang tangguh ini tampak jauh, kekhawatiran seputar koeksistensi mereka sangat nyata.
Inti dari masalah ini terletak pada ketakutan bahwa S-400 dapat mengompromikan teknologi sensitif dan kemampuan operasional F-35.
Perselisihan diplomatik dari akuisisi S-400 oleh Turki, negara anggota NATO, merupakan contoh yang menggugah kesadaran tentang ketegangan seputar masalah ini.
Sengketa antara Turki dan Amerika Serikat atas pembelian S-400 pada tahun 2019 mengakibatkan pengusiran Ankara dari program F-35, yang efektif menghentikan semua proses pelatihan dan pengiriman yang terkait dengan jet tempur tersebut. Perpecahan ini menggarisbawahi seriusnya Amerika Serikat melihat risiko potensial yang terkait dengan penempatan F-35 di dekat S-400.
Kathryn Wheelbarger, yang saat itu menjabat sebagai pelaksana tugas (Plt) asisten menteri pertahanan AS, dengan tegas merangkum kekhawatiran ini ketika dia secara terbuka mengakui bahwa S-400 secara khusus dirancang untuk menargetkan dan menetralisir pesawat seperti F-35.
"Sulit untuk membayangkan Rusia tidak memanfaatkan peluang pengumpulan intelijen itu," katanya, seperti dikutip EurAsian Times, Senin (29/4/2024).
Sentimen ini juga disuarakan oleh Jenderal Tod Wolters, yang memimpin Komando Eropa AS, dengan menekankan ketidakcocokan mendasar antara F-35 dan S-400.
Dia menyoroti ketidakmampuan sistem ini untuk berkomunikasi satu sama lain dan menekankan risiko yang ditimbulkan oleh upaya S-400 untuk mengeksploitasi kemampuan F-35.
Prospek berbagi data radar dan operasional yang kritis dengan Rusia adalah skenario yang harus dihindari oleh Amerika Serikat dan sekutunya dengan segala cara.
Meskipun kemungkinan rendahnya adanya konfrontasi antara kedua aset militer ini, keberadaan S-400 di daerah di mana F-35 beroperasi menyebabkan tantangan yang kompleks dan banyak dimensi.
Para pakar pertahanan berpendapat bahwa keberadaan S-400 di dekat F-35 dapat meningkatkan kapasitas Rusia untuk meningkatkan deteksi radar pesawat Amerika. Selain itu, dengan akses yang lebih besar ke data F-35, pemilik dan operator S-400 mungkin lebih efektif mengidentifikasi kerentanan dalam pesawat.
Lihat Juga :