alexametrics

Hizbullah Tegaskan Akan Tetap Bercokol di Suriah

loading...
Hizbullah Tegaskan Akan Tetap Bercokol di Suriah
Pemimpin Hizbullah, Sayyid Hassan Nasrallah, mengatakan kelompoknya akan tetap bertahan di Suriah sampai pemberintahuan lebih lanjut. Foto/Ilustrasi
A+ A-
BEIRUT - Pemimpin Hizbullah, Sayyid Hassan Nasrallah, mengatakan kelompoknya akan mempertahankan kehadiran militernya di Suriah sampai pemberitahuan lebih lanjut. Ia juga memuji kesepakatan Rusia-Turki terkait Idlib sebagai langkah menuju solusi politik yang lebih luas.

Namun Nasrallah mengindikasikan jumlah pejuang dari kelompok Syiah itu akan berkurang karena front di Suriah menjadi lebih tenang.

“Kami akan tetap di sana (di Suriah) bahkan setelah pemukiman di Idlib. Kehadiran kami di sana terkait dengan kebutuhan dan persetujuan dari kepemimpinan Suriah,” katanya dalam pidato yang disiarkan televisi kepada ratusan pendukungnya yang bersorak-sorai di Beirut selatan pada malam perayaan Ashura.

"Ketenangan dari front dan berkurangnya jumlah ancaman .. secara alami akan mempengaruhi angka (pejuang Hizbullah) saat ini," tambahnya.

"Suriah sedang menuju ketenangan yang hebat," tukasnya seperti dikutip dari Middle East Monitor, Kamis (20/9/2018).

Hizbullah telah memberikan dukungan penting kepada militer Suriah dalam perang tujuh tahun, membantu memperoleh kembali wilayah negara itu.

"Kami akan tinggal di sana sampai pemberitahuan lebih lanjut," tegas Nasrallah.

Nasrallah memuji hasil diplomasi Iran, Rusia, dan Turki untuk menyelamatkan serangan militer di Idlib yang dapat menyebabkan bencana kemanusiaan.

Pada hari Senin, Rusia dan Turki setuju untuk mengesampingkan solusi militer di wilayah Idlib, pijakan besar oposisi terakhir di Suriah bersama dengan wilayah yang bersebelahan utara Aleppo. Kedua negara itu mendukung menegakkan zona demiliterisasi yang diperlukan untuk menarik pemberontak radikal pada pertengahan bulan depan.

"Hasil (dari upaya diplomatik) adalah baik dan masuk akal tetapi tergantung pada hasil," kata Nasrallah, menggambarkan perjanjian tersebut sebagai langkah menuju mencapai solusi politik untuk konflik di Suriah.

Rusia, pendukung terbesar Presiden Suriah Bashar al-Assad dalam perjuangannya melawan pemberontak, telah mempersiapkan serangan di kota Idlib yang dikendalikan oleh pemberontak.

PBB telah memperingatkan serangan semacam itu akan menciptakan bencana kemanusiaan di provinsi Idlib, tempat sekitar 3 juta orang tinggal.

Assad telah memulihkan sejumlah daerah lain yang pernah dikuasai pemberontak, dengan dukungan militer yang menentukan dari Iran dan Rusia.
(ian)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak