Finlandia Senang Gabung NATO karena Dilindungi Senjata Nuklir AS
Minggu, 03 Maret 2024 - 07:08 WIB
loading...
A
A
A
Berbicara kepada wartawan setelah upacara pelantikannya, dia menggandakan antusiasmenya terhadap NATO dan senjata nuklir.
“Finlandia harus memiliki alat penangkal nuklir yang nyata, dan itulah yang kami miliki, karena NATO secara praktis memberi kami tiga alat penangkal nuklir melalui keanggotaan kami,” katanya.
“Yang pertama adalah militer yaitu tentara, yang kedua adalah rudal yaitu amunisi, dan yang ketiga adalah penangkal nuklir yang berasal dari Amerika Serikat," paparnya, sebagaimana dilansir RT, Minggu (3/3/2024).
Dalam upacara pelantikan tersebut, dia menyatakan bahwa Finlandia menghadapi era baru.
“Sebagai hasil dari keberpihakan militer dan keanggotaan NATO, kami telah mengambil langkah terakhir menuju nilai-nilai komunitas Barat, yang secara spiritual menjadi bagian republik kami selama kemerdekaannya,” katanya.
Stubb menjabat sebagai perdana menteri Finlandia dari tahun 2014 hingga 2015, dan sebagai menteri luar negeri dari tahun 2008 hingga 2011. Jabatan barunya sebagian besar bersifat seremonial, meskipun presiden Finlandia memiliki peran dalam merumuskan kebijakan luar negeri dan menjabat sebagai panglima tertinggi pasukan bersenjata negara tersebut.
“Finlandia harus memiliki alat penangkal nuklir yang nyata, dan itulah yang kami miliki, karena NATO secara praktis memberi kami tiga alat penangkal nuklir melalui keanggotaan kami,” katanya.
“Yang pertama adalah militer yaitu tentara, yang kedua adalah rudal yaitu amunisi, dan yang ketiga adalah penangkal nuklir yang berasal dari Amerika Serikat," paparnya, sebagaimana dilansir RT, Minggu (3/3/2024).
Dalam upacara pelantikan tersebut, dia menyatakan bahwa Finlandia menghadapi era baru.
“Sebagai hasil dari keberpihakan militer dan keanggotaan NATO, kami telah mengambil langkah terakhir menuju nilai-nilai komunitas Barat, yang secara spiritual menjadi bagian republik kami selama kemerdekaannya,” katanya.
Stubb menjabat sebagai perdana menteri Finlandia dari tahun 2014 hingga 2015, dan sebagai menteri luar negeri dari tahun 2008 hingga 2011. Jabatan barunya sebagian besar bersifat seremonial, meskipun presiden Finlandia memiliki peran dalam merumuskan kebijakan luar negeri dan menjabat sebagai panglima tertinggi pasukan bersenjata negara tersebut.
Lihat Juga :