Rusia Hendak Kerahkan Senjata Nuklir ke Luar Angkasa, AS Ketakutan

Kamis, 15 Februari 2024 - 08:34 WIB
loading...
Rusia Hendak Kerahkan...
Komite Intelijen DPR Amerika Serikat menyuarakan ketakutan Washington terkait rencana Rusia mengerahkan senjata nuklir ke luar angkasa. Foto/REUTERS
A A A
WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) telah menyuarakan ketakutannya terkait rencana Rusia untuk mengerahkan senjata nuklir ke luar angkasa.

Ketua Komite Intelijen DPR Amerika, Mike Turner, telah meminta pemerintahan Joe Biden untuk mendeklasifikasi informasi tentang apa yang disebutnya sebagai “ancaman keamanan nasional yang serius”, yang berkaitan dengan niat Moskow tersebut.

Dalam pernyataannya, Turner, enggan memberikan rincian tentang ancaman keamanan tersebut.

Berbicara kepada wartawan di Gedung Putih pada hari Rabu, Penasihat Keamanan Nasional, Jake Sullivan, menyatakan keterkejutannya atas pernyataan Turner yang mengatakan bahwa dia akan bertemu dengan “geng delapan” (pemimpin kongres dengan izin keamanan khusus untuk pengarahan rahasia) pada hari Kamis (15/2/2024).

Baca Juga: Jenderal NATO Sebut Polandia Harus Miliki Senjata Nuklir, Muak Diintimidasi Rusia

Namun Sullivan tidak merinci rencana pertemuan tersebut.

ABC News dan New York Times mengutip sumber pemerintah AS—yang tidak disebutkan namanya—yang mengatakan bahwa ancaman keamanan yang dimaksud Turner melibatkan potensi penempatan senjata nuklir anti-satelit Rusia di luar angkasa.

New York Times melaporkan bahwa sekutu AS juga telah diberi pengarahan mengenai intelijen tersebut, yang dianggap tidak mewakili ancaman mendesak, karena dugaan kemampuan Rusia itu masih dalam pengembangan.

Tidak jelas apakah peringatan intelijen baru ini terkait dengan peluncuran roket Soyuz yang dilakukan Rusia pada tanggal 9 Februari yang membawa muatan rahasia Kementerian Pertahanan Rusia.

“Rusia telah melakukan beberapa eksperimen dengan manuver satelit yang mungkin dirancang untuk menyabotase satelit lain,” kata Hans Kristensen, direktur proyek informasi nuklir di Federasi Ilmuwan Amerika, seperti dikutip The Guardian.

Dia menekankan bahwa penyebaran senjata nuklir di luar angkasa akan melanggar Perjanjian Luar Angkasa tahun 1967, yang mana Moskow merupakan salah satu penandatangannya.

“Masalahnya bukan pada peningkatan ancaman senjata nuklir, melainkan peningkatan ancaman terhadap aset komando dan kontrol nuklir berbasis ruang angkasa negara lain. Ini akan sangat mengganggu stabilitas," ujarnya.

Pavel Podvig, pakar kekuatan nuklir Rusia, mengatakan: “Saya sangat skeptis (secara halus). Sayangnya, saat ini tidak mungkin untuk mengesampingkan apa pun secara pasti. Tapi tetap saja, menurut saya itu tidak masuk akal.”

Kristensen berpendapat bahwa ancaman Rusia untuk menempatkan senjata nuklir di luar angkasa, sehingga menghancurkan perjanjian non-proliferasi lainnya, bisa menjadi langkah terbaru dari serangkaian langkah Presiden Vladimir Putin yang dirancang untuk menambah tekanan pada AS dan sekutunya untuk mengakhiri dukungan militer mereka kepada Ukraina.

Daryl Kimball, ketua Asosiasi Pengendalian Senjata, mengatakan senjata anti-satelit nuklir tidak masuk akal secara praktis.

“Anda tidak memerlukan senjata nuklir untuk meledakkan satelit di orbit. Semua objek di ruang angkasa sangat rapuh, sehingga Anda dapat melakukan sesuatu hanya dengan ledakan nuklir yang jauh lebih sedikit,” kata Kimball.

“Ditambah lagi, itu sepenuhnya ilegal.”

Ketua DPR Mike Johnson mengatakan tidak perlu panik atas dugaan ancaman yang tidak disebutkan namanya itu. Dia mengatakan dia tidak diizinkan untuk membahas informasi rahasia tetapi mengatakan kepada wartawan: “Kami hanya ingin memastikan semua orang tetap memegang kendali. Kami sedang mengusahakannya dan tidak perlu ada kekhawatiran.”
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
10 Kali Amerika Serikat...
10 Kali Amerika Serikat dan Iran Duduk di Meja Perundingan, tapi Perang Terus Berlanjut, Ini Penyebabnya
Biden Sebut Trump Pencundang,...
Biden Sebut Trump Pencundang, Narsis, dan Sombong
Langka, Putin Akui Rusia...
Langka, Putin Akui Rusia Krisis Bahan Bakar akibat Serangan Ukraina
Begini Cara Bos FIFA...
Begini Cara Bos FIFA Gunakan Geopolitik di Panggung Piala Dunia
Putin: Barat Coba Kacaukan...
Putin: Barat Coba Kacaukan Rusia karena Tak Mampu Mengalahkannya di Medan Perang
Media Pro-IRGC: Iran...
Media Pro-IRGC: Iran Mutlak Harus Memiliki Bom Nuklir
Toyota dan Nissan Sebut...
Toyota dan Nissan Sebut Mobil yang Diproduksi di AS Berkualitas Lebih Rendah dari Jepang
Gempa Dahsyat Venezuela:...
Gempa Dahsyat Venezuela: 920 Orang Tewas, Hampir 50 Ribu Masih Hilang
Serangan Pembalasan...
Serangan Pembalasan Iran ke Pangkalan Militer AS Makan Korban, 1 Warga Qatar Tewas
Rekomendasi
Tips MotionTrade: 4...
Tips MotionTrade: 4 Langkah Wajib Saat Terindikasi Penipuan Investasi
Kronologi Kecelakaan...
Kronologi Kecelakaan Maut Truk Rem Blong di Bekasi Timur, 1 Orang Tewas dan 5 Luka
IHSG Jeblok Nyaris 1%...
IHSG Jeblok Nyaris 1% ke 5.838 Siang Ini, Ratusan Saham Merana
Berita Terkini
Pakistan Gelar Serangan...
Pakistan Gelar Serangan Darat dan Udara ke Afghanistan, 29 Tentara Taliban Tewas
Israel Akui Genosida...
Israel Akui Genosida Armenia, Dikecam karena Juga Lakukan Genosida Gaza
1.300 Orang Tewas Akibat...
1.300 Orang Tewas Akibat Gelombang Panas di Eropa
10 Kali Amerika Serikat...
10 Kali Amerika Serikat dan Iran Duduk di Meja Perundingan, tapi Perang Terus Berlanjut, Ini Penyebabnya
Pria Misterius Dijuluki...
Pria Misterius Dijuluki 'Batman' Diburu Polisi karena Ikat Para Maling Motor di Tiang Lampu
Biden Sebut Trump Pencundang,...
Biden Sebut Trump Pencundang, Narsis, dan Sombong
Infografis
3 Alasan Greenland Jadi...
3 Alasan Greenland Jadi Kunci AS untuk Perang Nuklir Melawan Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved