AS: Palestina Harus Memerintah Gaza setelah Perang Israel-Hamas Berakhir

Jum'at, 10 November 2023 - 00:30 WIB
loading...
AS: Palestina Harus...
Amerika Serikat ingin Otoritas Palestina memerintah Gaza setelah perang Israel-Hamas berakhir. Foto/REUTERS
A A A
GAZA - Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengatakan orang-orang Palestina harus memerintah Gaza setelah Israel mengakhiri perangnya melawan Hamas.

Washington menolak gagasan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bahwa Israel akan bertanggung jawab atas keamanan tanpa batas waktu atas Gaza usai perang berakhir.

Meskipun rencana tersebut belum muncul, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken pada Rabu lalu menguraikan komentar paling komprehensif mengenai masalah ini mengenai garis merah dan ekspektasi Washington terhadap wilayah pesisir Palestina yang terkepung tersebut.

“Tidak ada pendudukan kembali di Gaza setelah konflik berakhir. Tidak ada upaya untuk memblokade atau mengepung Gaza. Tidak ada pengurangan wilayah Gaza,” kata Blinken pada konferensi pers di Tokyo.

Baca Juga: Petinggi Hamas: Saya Tantang Israel Catat Pencapaian Militer Lapangan Selain Bunuh Warga Sipil

Blinken mengatakan mungkin diperlukan “masa transisi” di akhir konflik, namun pemerintahan pasca-krisis di Gaza harus mencakup suara-suara Palestina.

“Ini harus mencakup pemerintahan yang dipimpin Palestina dan Gaza yang bersatu dengan Tepi Barat di bawah Otoritas Palestina,” ujarnya.

Pada hari Senin, Netanyahu mengatakan kepada ABC News bahwa Israel untuk jangka waktu yang tidak terbatas akan memikul tanggung jawab keamanan di daerah kantong tersebut setelah perang berakhir.

Komentarnya tampak bertentangan dengan para pejabat AS yang mengatakan Israel tidak ingin mengelola Gaza pasca-Hamas.

“Saya pikir Israel, untuk jangka waktu yang tidak ditentukan, akan memikul tanggung jawab keamanan secara keseluruhan karena kita telah melihat apa yang terjadi jika kita tidak memiliki tanggung jawab keamanan tersebut,” kata Netanyahu.

Para pejabat Israel sejak itu mencoba mengklarifikasi bahwa mereka tidak bermaksud menduduki Gaza setelah perang, namun mereka belum menjelaskan bagaimana mereka dapat menjamin keamanan tanpa mempertahankan kehadiran militer.

Sekadar diketahui, Israel menarik pasukannya dari Gaza pada tahun 2005.

Otoritas Palestina (PA), yang menjalankan pemerintahan sendiri secara terbatas di beberapa bagian Tepi Barat yang diduduki Israel, mengatakan Gaza—yang dikuasai Hamas sejak tahun 2007—merupakan bagian integral dari apa yang mereka impikan untuk negara Palestina di masa depan.

Namun para pejabat tinggi, termasuk Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas, mengatakan kembalinya PA ke Gaza harus disertai dengan solusi politik yang mengakhiri pendudukan Israel atas wilayah yang direbutnya dalam perang Timur Tengah tahun 1967.

“(Kami) tidak akan pergi ke Gaza dengan tank militer Israel,” kata Perdana Menteri PA Mohammad Shtayyeh kepada PBS. ”Kami akan pergi ke Gaza sebagai bagian dari solusi yang berkaitan dengan masalah Palestina, yang berkaitan dengan pendudukan.”

Hamas mengambil alih Gaza setelah perang saudara singkat pada tahun 2007 dengan partai Fatah pimpinan Abbas. Pembicaraan rekonsiliasi selama bertahun-tahun antara kedua pihak yang bersaing gagal mencapai terobosan untuk melanjutkan pemerintahan PA di Gaza. PA masih membayar listrik, air dan sebagian gaji pegawai negeri di Gaza.

Perang di Gaza saat ini dipicu oleh serangan besar Hamas ke Israel selatan pada 7 Oktober lalu, menewaskan lebih dari 1.400 orang dan ratusan lainnya diculik.

Israel merespons dengan mendeklarasikan perang melawan Hamas. Sejak itu, militer Zionis membombardir Gaza nyaris tanpa henti. Sudah lebih dari 10.000 warga Palestina telah terbunuh, kata pejabat kesehatan Palestina di Gaza. Sekitar 40 persen dari mereka yang terbunuh adalah anak-anak.

Negara-negara Arab, yang memberikan bantuan keuangan kepada PA, telah menganjurkan gencatan senjata segera tetapi menunjukkan keengganan untuk membahas status Gaza pascaperang. Mereka mengatakan fokusnya harus tetap pada penghentian permusuhan.

Namun Blinken mengatakan pembicaraan tentang masa depan harus dilakukan sekarang.

“Karena mengidentifikasi tujuan jangka panjang dan jalur untuk mencapainya akan membantu membentuk pendekatan kita untuk mengatasi kebutuhan mendesak,” katanya.

Sejak konflik pecah, pemerintahan Biden telah menegaskan kembali dukungannya terhadap solusi yang didasarkan pada kerja sama antara Israel dan Palestina, namun belum menguraikan jalan untuk menghidupkan kembali perundingan damai yang telah lama terhenti, yang putaran terakhirnya gagal pada tahun 2014.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada hari Rabu mengatakan “skenario terbaik” adalah Otoritas Palestina yang “mudah-mudahan dapat dihidupkan kembali” dengan mengambil kendali politik atas Gaza.

Juru bicara Gedung Putih John Kirby mengatakan Washington dan mitranya masih mendiskusikan seperti apa struktur pemerintahan di Gaza.

“Kami percaya bahwa Palestina harus bertanggung jawab atas masa depan mereka dan mereka harus menjadi suara dan faktor penentu masa depan mereka,” katanya, seperti dikutip Reuters, Kamis (9/11/2023).
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Netanyahu Ingin Israel...
Netanyahu Ingin Israel Bebaskan Diri dari Ketergantungan Persenjataan pada AS
Aktivis Zionis: 15 Tahun...
Aktivis Zionis: 15 Tahun Lagi, Israel Akan Perang dengan Mesir
Menteri Zionis Tolak...
Menteri Zionis Tolak Gencatan Senjata: Lebanon Seharusnya Jadi Arena Bermain Israel
Penembakan Guncang Lingkungan...
Penembakan Guncang Lingkungan Yahudi Montreal, 3 Orang Tewas, Termasuk Pelaku
Iran Dapat Rp5.360 Triliun...
Iran Dapat Rp5.360 Triliun Jadi Inti Kesepakatan dengan AS, tapi Siapa yang Bayar?
Siapa Ahmed Wishah?...
Siapa Ahmed Wishah? Jurnalis Al Jazeera yang Dibunuh Israel
Israel Temukan Batu...
Israel Temukan Batu Suci Berusia 2.700 Tahun yang Tertulis dalam Alkitab
Mantan Menteri Kehakiman...
Mantan Menteri Kehakiman Korsel Divonis 25 Tahun Penjara Terkait Peran dalam Darurat Militer
Iran Beberkan Alasan...
Iran Beberkan Alasan Walk Out saat Negosiasi dengan AS, Singgung Trump
Rekomendasi
Berkas Perkara 3 Pejabat...
Berkas Perkara 3 Pejabat Bea Cukai Dilimpahkan ke Pengadilan, Segera Disidang
Haul Akbar Ploso, Gus...
Haul Akbar Ploso, Gus Muhaimin: Jangan Hanya Menonton, Santri Harus Jadi Solusi Bangsa
Ferdinand: Pernyataan...
Ferdinand: Pernyataan Tiyo Soal Teror Alat Penyadap Masuk Kategori Penyebaran Hoaks
Berita Terkini
Iran akan Bangun Saluran...
Iran akan Bangun Saluran Komunikasi Langsung Hormuz dengan AS
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
PM Pakistan: AS dan...
PM Pakistan: AS dan Iran akan Bahas Program Rudal Balistik dan Isu Nuklir dalam 60 Hari ke Depan
Awas, AI dalam Beberapa...
Awas, AI dalam Beberapa Bulan Lagi Bisa Lumpuhkan Pemerintahan di Berbagai Negara
Netanyahu Ingin Israel...
Netanyahu Ingin Israel Bebaskan Diri dari Ketergantungan Persenjataan pada AS
Iran Bisa Terima Rp894...
Iran Bisa Terima Rp894 Triliun dalam Bentuk Keringanan Sanksi sesuai Kesepakatan Akhir
Infografis
37 Pesawat AS Hancur...
37 Pesawat AS Hancur dan Rusak dalam Perang Iran, Kerugian Rp28 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved