Putra Pendiri Hamas yang Murtad dan Membelot ke Israel Buka Suara soal Perang Gaza
Senin, 23 Oktober 2023 - 09:53 WIB
loading...
A
A
A
“Saya lahir di jantung kepemimpinan Hamas...dan saya mengenal mereka dengan sangat baik. Mereka tidak peduli terhadap rakyat Palestina. Mereka tidak menghargai kehidupan manusia,” kata Yousef.
“Saya melihat kebrutalan mereka secara langsung pada tahun 1996 ketika saya menghabiskan sekitar satu setengah tahun di Penjara Megiddo...Mereka membunuh begitu banyak orang Palestina pada saat itu, dan saat itulah saya memutuskan bahwa saya tidak bisa ikut serta dalam gerakan ini," papar Yousef.
“Saya harus jujur pada diri saya sendiri. Meskipun Hamas memberi saya keuntungan. Saya seperti seorang pangeran di dunia itu, tapi saya tidak menyukainya,” lanjut dia.
“Saya bahkan menentang darah saya sendiri...karena saya sangat tidak menyukai Hamas, dan hari ini, 25 tahun kemudian, mereka adalah penguasa Gaza, dan kita lihat apa yang mampu mereka lakukan.”
Pernyataannya muncul hampir dua minggu setelah Hamas meluncurkan serangan "Operasi Badai al-Aqsa" yang mengejutkan terhadap Israel. Serangan pada 7 Oktober itu menewaskan lebih dari 1.400 orang dan ratusan lainnya disandera.
Israel menyatakan perang tak lama kemudian dan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) melancarkan serangan udara ke Gaza nyaris tanpa henti hingga sekarang. Lebih dari 4.000 orang tewas di Gaza sejak perang dimulai.
“Hamas bukanlah gerakan nasional. Hamas adalah gerakan keagamaan yang bertujuan mendirikan negara Islam,” kata Yousef.
"Mereka tidak peduli dengan nasionalisme. Sebenarnya, mereka menentang nasionalisme. Tapi menurut pemahaman saya, mereka menggunakan perjuangan Palestina hanya untuk mencapai tujuan mereka, jadi tujuan jangka panjangnya adalah mentransformasikan Timur Tengah dan dunia menjadi negara Islam," imbuh Yousef.
Namun Yousef mengatakan pelaku sebenarnya di balik layar adalah Iran, yang dikenal sebagai sponsor kelompok Hamas.
“Saya melihat kebrutalan mereka secara langsung pada tahun 1996 ketika saya menghabiskan sekitar satu setengah tahun di Penjara Megiddo...Mereka membunuh begitu banyak orang Palestina pada saat itu, dan saat itulah saya memutuskan bahwa saya tidak bisa ikut serta dalam gerakan ini," papar Yousef.
“Saya harus jujur pada diri saya sendiri. Meskipun Hamas memberi saya keuntungan. Saya seperti seorang pangeran di dunia itu, tapi saya tidak menyukainya,” lanjut dia.
“Saya bahkan menentang darah saya sendiri...karena saya sangat tidak menyukai Hamas, dan hari ini, 25 tahun kemudian, mereka adalah penguasa Gaza, dan kita lihat apa yang mampu mereka lakukan.”
Pernyataannya muncul hampir dua minggu setelah Hamas meluncurkan serangan "Operasi Badai al-Aqsa" yang mengejutkan terhadap Israel. Serangan pada 7 Oktober itu menewaskan lebih dari 1.400 orang dan ratusan lainnya disandera.
Israel menyatakan perang tak lama kemudian dan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) melancarkan serangan udara ke Gaza nyaris tanpa henti hingga sekarang. Lebih dari 4.000 orang tewas di Gaza sejak perang dimulai.
“Hamas bukanlah gerakan nasional. Hamas adalah gerakan keagamaan yang bertujuan mendirikan negara Islam,” kata Yousef.
"Mereka tidak peduli dengan nasionalisme. Sebenarnya, mereka menentang nasionalisme. Tapi menurut pemahaman saya, mereka menggunakan perjuangan Palestina hanya untuk mencapai tujuan mereka, jadi tujuan jangka panjangnya adalah mentransformasikan Timur Tengah dan dunia menjadi negara Islam," imbuh Yousef.
Namun Yousef mengatakan pelaku sebenarnya di balik layar adalah Iran, yang dikenal sebagai sponsor kelompok Hamas.
Lihat Juga :