Anggota Parlemen Ukraina Ogah Serahkan Wilayah pada Rusia untuk Akhiri Perang

Minggu, 20 Agustus 2023 - 02:01 WIB
loading...
Anggota Parlemen Ukraina...
Anggota parlemen bersidang di gedung parlemen Ukraina. Foto/REUTERS
A A A
KIEV - Pemerintah Ukraina seharusnya tidak pernah menyerahkan wilayah negara mana pun untuk mengakhiri konflik dengan Rusia, menurut sekelompok anggota parlemen Ukraina.

Pernyataan yang diusulkan itu muncul beberapa hari setelah seorang pejabat NATO menyarankan Kiev dapat meninggalkan klaimnya atas wilayah yang memilih bergabung dengan Rusia sebagai imbalan atas keanggotaan dalam aliansi militer pimpinan Amerika Serikat (AS).

Dokumen tersebut, yang diajukan pada Jumat, menyerukan penarikan tanpa syarat pasukan Rusia kembali ke perbatasan Ukraina tahun 1991. Ini harus mencakup penarikan Armada Laut Hitam Rusia dari Crimea, desak anggota parlemen.

“Selain itu, jika dan ketika Ukraina merebut kembali semenanjung itu, warga negara Rusia yang tinggal di sana akan dideportasi,” ungkap pernyataan itu.

Menurut dokumen tersebut, orang Ukraina yang telah "secara otomatis atau paksa" diberikan kewarganegaraan Rusia tidak akan dianggap demikian.

Baca juga: Prajurit Rusia Terlalu Tangguh, Tentara Bayaran Amerika Serikat Menyesal Ikut Berperang di Ukraina

Proposal itu diperkenalkan beberapa hari setelah Stian Jenssen, kepala staf Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg, menyarankan, "Solusinya adalah agar Ukraina menyerahkan wilayahnya, dan mendapatkan keanggotaan NATO sebagai gantinya," seperti dikutip surat kabar VG Norwegia.

Pernyataan Jenssen dengan cepat mendapat kecaman dari pejabat Ukraina dan dia terpaksa mundur, menggambarkan saran awal sebagai "kesalahan".

Pada awal Juni, militer Ukraina melancarkan serangan balasan yang telah lama ditunggu-tunggu dalam upaya merebut kembali wilayah di timur dan tenggara negara itu.

Namun, meskipun mendapat dukungan besar-besaran dari Barat, pasukan Kiev belum mencapai perolehan yang signifikan.

Menurut Kementerian Pertahanan Rusia, operasi tersebut telah menelan korban 43.000 orang Ukraina dan hampir 5.000 perangkat keras militer.

Pejabat tinggi di Kiev dan beberapa ibu kota Barat mengakui dorongan tersebut gagal memenuhi harapan awal yang tinggi dan berkembang lebih lambat dari yang diantisipasi.

Crimea bergabung dengan Rusia setelah kudeta di Kiev pada 2014 menyusul referendum yang melihat mayoritas penduduk setempat mendukung penyatuan dengan Rusia.

Republik Rakyat Donetsk dan Lugansk, serta Wilayah Kherson dan Zaporozhye, bergabung dengan Rusia September lalu setelah referendum.

Ukraina bersama dengan sebagian besar negara lain menolak mengakui hasil referendum tersebut, mencela perubahan perbatasan sebagai aneksasi ilegal.
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
6 Pesawat Pengebom Nuklir...
6 Pesawat Pengebom Nuklir China dan Rusia Manuver Gabungan Dekati Jepang
Finlandia Izinkan Wilayahnya...
Finlandia Izinkan Wilayahnya Jadi Lokasi Pengerahan Senjata Nuklir NATO, Rusia Terancam
Rudal Ukraina Hancurkan...
Rudal Ukraina Hancurkan Pabrik Senjata Rusia
Jet Tempur China dan...
Jet Tempur China dan Rusia Kompak Masuk ke Zona Pertahanan Udara Korsel
Ukraina Berusaha Rebut...
Ukraina Berusaha Rebut Kesempatan Pertama untuk Menang, tapi Kenapa Selalu Gagal?
Tiru Strategi Iran,...
Tiru Strategi Iran, Ukraina Tembakkan 323 Drone ke Wilayah Rusia pada Malam Hari
Jokowi Pede PSI Masuk...
Jokowi Pede PSI Masuk Parlemen Senayan di Pemilu 2029
AS dan Iran Kembali...
AS dan Iran Kembali Saling Serang Pasca-Tandatangani Perjanjian Damai
Dobrak Tradisi, Raja...
Dobrak Tradisi, Raja Charles Ungkap Bayar Tagihan Pajak Rp306 Miliar Setahun
Rekomendasi
JAECOO Catat 20.000...
JAECOO Catat 20.000 Pengiriman J5 EV di Indonesia, Ini Target Selanjutnya
Timnas Iran Pulang Tanpa...
Timnas Iran Pulang Tanpa Kekalahan
Mahasiswa Doktoral UNJ...
Mahasiswa Doktoral UNJ Perkuat Literasi Keuangan bagi Calon Guru Malaysia di UTHM
Berita Terkini
Pembangkang China Ini...
Pembangkang China Ini Kabur ke Korea Selatan dengan Perahu Karet, Sekarang Muncul di Kanada
Iran Tuduh AS Khianati...
Iran Tuduh AS Khianati Perjanjian Damai saat Kedua Pihak Saling Serang
AS Serang 10 Target...
AS Serang 10 Target di Iran, IRGC Balas Bombardir Pangkalan Amerika di Kuwait dan Bahrain
6 Teroris Ditembak Mati...
6 Teroris Ditembak Mati usai Serang Markas Rangers Pakistan, 4 Tentara Juga Tewas
6 Pesawat Pengebom Nuklir...
6 Pesawat Pengebom Nuklir China dan Rusia Manuver Gabungan Dekati Jepang
Xi Jinping dan Akhir...
Xi Jinping dan Akhir dari Narasi Kebangkitan Damai China
Infografis
AS Setujui Penjualan...
AS Setujui Penjualan Peralatan Senilai Rp5 T untuk F-16 ke Ukraina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved