3 Negara Diinvasi AS karena Minyak, Nomor Terakhir Jadi Perang Paling Lama dalam Sejarah
Senin, 08 Mei 2023 - 14:04 WIB
loading...
A
A
A
Irak diinvasi secara langsung oleh AS pada 2003 hingga 2011. Perang tersebut awalnya dipicu laporan kepemilikan senjata pemusnah massal oleh Presiden Irak Saddam Hussein. Namun, hingga perang tersebut berakhir, tentara AS tidak menemukan senjata pemusnah massal. Saat itu, pemimpin gerakan apartheid di Afrika Selatan, Nelson Mandela, menuding motif utama AS menyerang Irak adalah faktor minyak.
Diakui oleh para mantan jenderal AS, minyak merupakan tujuan utama Perang Irak. "Tentunya, perang itu karena minyak. Kita tak bisa membantahnya," kata pensiunan Jenderal John Abizaid, mantan kepada komando dan operasi militer di Irak pada 2007, dilansir CNN.
Hal senada diungkapkan mantan Gubernur Bank Sentral AS Federal Reserve Alan Greespan. "Saya sedih karena motif politik bukan sebagai penyebab perang Irak. Perang itu dikarenakan minyak," tulisnya dalam memoar yang ditulisnya.
Kebenaran tentang perang Irak dikarenakan minyak karena pada 2013, perusahaan minyak Barat mulai memproduksi dan mengeksplorasi minyak di negara tersebut. AS juga mendapatkan porsi yang konsisten sejak invasi tersebut. Perusahaan minyak berdalih bahwa eksplorasi minyak tersebut juga menguntungkan ekonomi dan masyarakat Irak.
Suriah
AS memiliki keterlibatan langsung dalam perang sipil di Suriah sejak 2014. Mereka membantu pemberontak Suriah dan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) dalam perang sipil tersebut. Dalih AS untuk menyerang Suriah karena alasan untuk menghancurkan ISIS dan Al-Qaeda hanya alasan yang dikemukakan ke publik, tetapi faktor perebutan ladang minyak juga menjadi motivasi utamanya.
Seperti diungkapkan mantan Presiden AS Donald Trump pada November 2019 bahwa pasukan AS harus mengamankan ladang minyak di Suriah Timur. "Pasukan AS yang bertahan di Suriah hanya untuk minyak. AS menginginkan minyak," ungkap Trump saat itu. Berbagai kontrak eksplorasi minyak juga jatuh ke perusahaan AS. Misalnya pada Juli 2020, Pemerintahan Otonomi Suriah Timur dan Utara sepakat menandatangani kontrak kepada perusahaan AS Delta Crescent Energy untuk memproduksi minyak di kawasan tersebut.
Diakui oleh para mantan jenderal AS, minyak merupakan tujuan utama Perang Irak. "Tentunya, perang itu karena minyak. Kita tak bisa membantahnya," kata pensiunan Jenderal John Abizaid, mantan kepada komando dan operasi militer di Irak pada 2007, dilansir CNN.
Hal senada diungkapkan mantan Gubernur Bank Sentral AS Federal Reserve Alan Greespan. "Saya sedih karena motif politik bukan sebagai penyebab perang Irak. Perang itu dikarenakan minyak," tulisnya dalam memoar yang ditulisnya.
Kebenaran tentang perang Irak dikarenakan minyak karena pada 2013, perusahaan minyak Barat mulai memproduksi dan mengeksplorasi minyak di negara tersebut. AS juga mendapatkan porsi yang konsisten sejak invasi tersebut. Perusahaan minyak berdalih bahwa eksplorasi minyak tersebut juga menguntungkan ekonomi dan masyarakat Irak.
Suriah
AS memiliki keterlibatan langsung dalam perang sipil di Suriah sejak 2014. Mereka membantu pemberontak Suriah dan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) dalam perang sipil tersebut. Dalih AS untuk menyerang Suriah karena alasan untuk menghancurkan ISIS dan Al-Qaeda hanya alasan yang dikemukakan ke publik, tetapi faktor perebutan ladang minyak juga menjadi motivasi utamanya.
Seperti diungkapkan mantan Presiden AS Donald Trump pada November 2019 bahwa pasukan AS harus mengamankan ladang minyak di Suriah Timur. "Pasukan AS yang bertahan di Suriah hanya untuk minyak. AS menginginkan minyak," ungkap Trump saat itu. Berbagai kontrak eksplorasi minyak juga jatuh ke perusahaan AS. Misalnya pada Juli 2020, Pemerintahan Otonomi Suriah Timur dan Utara sepakat menandatangani kontrak kepada perusahaan AS Delta Crescent Energy untuk memproduksi minyak di kawasan tersebut.
Lihat Juga :