China Kepung Taiwan, AS Kirim Kapal Perang

Senin, 10 April 2023 - 13:47 WIB
loading...
China Kepung Taiwan,...
China mengepung Taiwan selama latihan perang yang telah memasuki hari ketiga pada Senin (10/4/2023). AS menambah ketegangan dengan mengirim kapal perang ke Laut China Selatan. Foto/REUTERS
A A A
TAIPEI - Kapal-kapal perang China mengepung Taiwan selama latihan perang yang telah memasuki hari ketiga pada Senin (10/4/2023). Saat situasi memanas, Amerika Serikat (AS) mengirim kapal perang ke perairan yang diklaim Beijing di Laut China Selatan untuk unjuk kekuatan.

China meluncurkan latihan perang sebagai tanggapan atas pertemuan Presiden Taiwan Tsai Ing-wen dengan Ketua DPR AS Kevin McCarthy pekan lalu, sebuah pertemuan yang telah diperingatkan akan memicu tanggapan yang marah.

Setelah dua hari latihan perang yang mencakup simulasi serangan yang ditargetkan di Taiwan dan pengepungan pulau itu, militer China mengatakan manuver itu juga termasuk "menyegel" pulau tersebut.

Baca Juga: China Simulasikan Serangan ke Taiwan dari Kapal Induk

Militer Beijing mengonfirmasi bahwa salah satu dari dua kapal induk China juga berpartisipasi dalam latihan perang hari ini.

Amerika Serikat, yang telah berulang kali meminta China untuk menahan diri, pada hari Senin mengirim kapal perusak berpeluru kendali USS Milius ke perairan sengketa di Laut China Selatan.

"Operasi kebebasan navigasi ini menjunjung tinggi hak, kebebasan, dan penggunaan laut yang sah," kata Angkatan Laut AS dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip AFP.

Ditambahkan bahwa kapal tersebut telah lewat di dekat Kepulauan Spratly—sebuah kepulauan yang diklaim oleh China, Taiwan, Filipina, Vietnam, Malaysia dan Brunei. Jaraknya sekitar 1.300 kilometer (800 mil) dari Taiwan.

Pengiriman kapal USS Milius segera memicu lebih banyak kemarahan dari China, yang mengatakan kapal itu "secara ilegal menyusup" ke perairan teritorialnya.

Di pulau Beigan, bagian dari kepulauan Matsu Taiwan yang terlihat dari daratan China, koki berusia 60 tahun Lin Ke-qiang mengatakan kepada AFP bahwa dia tidak menginginkan perang.

Baca Juga: Usai Kepung Taiwan, China Bersiap Latihan Tembakan Langsung

"Kami, orang biasa, hanya ingin menjalani kehidupan yang damai dan stabil," kata Lin, menambahkan militer Taiwan bukan tandingan China.

"Jika ada perang yang terjadi, sekarang misil mereka sangat maju, tidak mungkin pihak kita bisa melawan. Sisi ini akan rata dengan tanah."

China dan Taiwan berpisah pada akhir perang saudara pada tahun 1949. China memandang Taiwan yang demokratis sebagai bagian dari wilayahnya dan telah berjanji untuk merebutnya suatu hari nanti.

Amerika Serikat dengan sengaja bersikap ambigu tentang apakah akan mempertahankan Taiwan secara militer.

Tapi selama beberapa dekade telah menjual senjata ke Taipei untuk membantu memastikan pertahanan diri, dan menawarkan dukungan politik.

Presiden Tsai bertemu McCarthy di luar Los Angeles dalam perjalanan pulang dari kunjungannya ke dua negara sekutu Taiwan di Amerika Tengah.

Pada Agustus tahun lalu, China mengerahkan kapal perang, rudal, dan jet tempur di sekitar Taiwan dalam unjuk kekuatan terbesarnya dalam beberapa tahun setelah pendahulu McCarthy, Nancy Pelosi, berkunjung ke Taipei.

Tsai bertemu dengan McCarthy minggu lalu di Amerika Serikat, bukan di Taiwan.

Itu dipandang sebagai kompromi yang akan menggarisbawahi dukungan untuk Taiwan tetapi menghindari ketegangan yang memanas dengan Beijing.

Tetapi China telah berulang kali memperingatkan terhadap pertemuan apa pun, dan memulai latihan perang terbaru segera setelah Tsai kembali ke Taiwan.

"Operasi ini berfungsi sebagai peringatan keras terhadap kolusi antara pasukan separatis yang mencari 'kemerdekaan Taiwan' dan kekuatan eksternal dan terhadap kegiatan provokatif mereka," kata Shi Yin, juru bicara PLA, tentang latihan perang "Joint Sword".

Tsai menanggapi latihan tersebut dengan berjanji untuk bekerja dengan AS dan negara-negara yang berpikiran sama dalam menghadapi ekspansi apa yang dia sebut sebagai "otoriter yang berkelanjutan".
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Trump Marah, Tuding...
Trump Marah, Tuding Iran Bocorkan Detail Kesepakatan Damai
Apa yang Ada dan Tidak...
Apa yang Ada dan Tidak Ada dalam Draf Kesepakatan Damai AS-Iran?
Iran Tegaskan Pengelolaan...
Iran Tegaskan Pengelolaan Selat Hormuz akan Disepakati Melalui Dialog Regional
Iran Tegaskan Belum...
Iran Tegaskan Belum Ada Kesepakatan Akhir dengan AS
Terungkap, Pokemon Go...
Terungkap, Pokemon Go Bantu Militer AS Petakan Dunia
Ayatollah Khamenei Sudah...
Ayatollah Khamenei Sudah Lebih dari 100 Hari Meninggal, Iran Tunda Lagi Penguburannya
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan...
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan China, Ekspor Minyak Iran Merosot 80%
Ledakan di China Selatan...
Ledakan di China Selatan tewaskan Setidaknya 7 Orang
Putri Thailand Bajrakitiyabha...
Putri Thailand Bajrakitiyabha Meninggal Dunia usai Koma 3 Tahun
Rekomendasi
Tegang Sejak Pagi! 32...
Tegang Sejak Pagi! 32 Tim Terbaik Liga Bintang Juara Bersaing Menuju Jakarta
PHEV Indonesia 2026:...
PHEV Indonesia 2026: Tahun Ketika BYD Memangkas Harga, Pasar Berlipat Ganda
Penguatan IHSG dan Rupiah...
Penguatan IHSG dan Rupiah Berlanjut, Pasar Respons Positif Kepastian Posisi Menkeu
Berita Terkini
Trump Marah, Tuding...
Trump Marah, Tuding Iran Bocorkan Detail Kesepakatan Damai
Apa yang Ada dan Tidak...
Apa yang Ada dan Tidak Ada dalam Draf Kesepakatan Damai AS-Iran?
Iran Tegaskan Pengelolaan...
Iran Tegaskan Pengelolaan Selat Hormuz akan Disepakati Melalui Dialog Regional
Netanyahu dan Trump...
Netanyahu dan Trump Bahas Nota Kesepahaman Mendatang dengan Iran
Iran Tegaskan Belum...
Iran Tegaskan Belum Ada Kesepakatan Akhir dengan AS
Terungkap, Pokemon Go...
Terungkap, Pokemon Go Bantu Militer AS Petakan Dunia
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved