Presiden Belarusia: Ancaman Perang Nuklir Global Nyata, Dibutuhkan Negosiasi

Jum'at, 31 Maret 2023 - 20:46 WIB
loading...
Presiden Belarusia:...
Presiden Belarusia Alexander Lukashenko peringatkan bahwa ancaman perang nuklir global nyata. Foto/BelTA/Maxim Guchek/Handout via REUTERS
A A A
MINSK - Presiden Belarusia Alexander Lukashenko memperingatkan bahwa ancaman perang nuklir global itu nyata ketika perang Rusia dan Ukraina terus berkecamuk. Dia menyerukan negosiasi tanpa prasyarat untuk mencegah pertempuran global tersebut.

"Hari ini adalah momen spesial unik yang tidak akan pernah terjadi. Baik dalam sejarah Rusia, Belarusia, dan Ukraina, maupun dalam sejarah dunia, dan terutama Eropa. Satu-satunya pertanyaan adalah apa yang harus dilakukan. Anda semua mengerti dan tahu bahwa hanya ada satu cara—negosiasi. Negosiasi tanpa prasyarat," kata Lukashenko dalam pidatonya kepada rakyat dan anggota Parlemen Belarusia, Jumat (31/3/2023).

Lukashenko, yang dikenal sebagai sekutu Presiden Rusia Vladimir Putin, mengusulkan untuk mendeklarasikan gencatan senjata tanpa pergerakan peralatan militer dari kedua belah pihak—Moskow dan Kiev.

Baca Juga: Kisah Ukraina Imingi Pilot Rusia Rp14,9 M untuk Membelot dengan Jet Su-34

Pemimpin Belarusia itu juga menekankan bahwa ancaman Perang Dunia III dengan penggunaan kekuatan nuklir adalah nyata.

Namun, Lukashenko menyebutkan bahwa dia telah mengintensifkan negosiasi dengan Presiden Putin untuk menempatkan senjata nuklir taktis Rusia ke Belarusia.

“Dalam keadaan saat ini dan situasi militer-politik di sekitar negara kita, saya sangat mengintensifkan negosiasi dengan Presiden Rusia [Vladimir] Putin tentang pengembalian senjata nuklir ke Belarusia. Tentang pengembalian senjata nuklir yang ditarik pada tahun 90-an," kata Lukashenko merujuk pada warisan senjata nuklir Uni Soviet di Belarusia yang ditarik Rusia tak lama setelah Soviet bubar.

Lukashenko menyebutkan bahwa dia tidak ingin mengeluarkan senjata nuklir dari Belarusia pada 1990-an, tetapi dia mengaku ditekan oleh Barat dan mantan pimpinan Rusia.

Alasan di balik langkah itu, kata dia, adalah fakta bahwa Barat siap menginvasi Belarusia untuk menghancurkan negara tersebut.

"Pembentukan resimen tertentu...untuk kudeta berikutnya di Belarusia. Waktunya akan tiba—kami akan menunjukkannya kepada Anda,...mereka [Barat] sedang bersiap untuk menyerang wilayah Belarusia untuk menghancurkan negara kami," tegas Lukashenko, seperti dikutip Sputnik.

Presiden Belarusia itu juga meminta Barat untuk mengakui bahwa mereka gagal mengorganisir revolusi di Belarusia dan menawarkan untuk mulai membangun kembali hubungan.

Selain itu, Lukashenko memperingatkan potensi serangan balik Ukraina. Dia mengeklaim bahwa itu akan membuat pembicaraan damai Kiev-Moskow menjadi tidak mungkin dan akan mengarah pada eskalasi lainnya.

“Sayangnya, sekarang, seperti yang Anda dengar, ada banyak pembicaraan tentang serangan balasan angkatan bersenjata Ukraina. Menurut pendapat saya, ini sangat berbahaya, ini adalah hal terburuk yang mungkin terjadi dalam kondisi saat ini, karena dapat melintasi semua harapan untuk proses negosiasi dan mengarah pada eskalasi konflik yang tidak dapat diubah," kata Presiden Belarusia.

Pada 25 Maret, Vladimir Putin mengatakan bahwa Moskow dan Minsk telah setuju untuk menempatkan senjata nuklir taktis Rusia di Belarusia. Dia menekankan bahwa langkah ini tidak melanggar komitmen Rusia terhadap non-proliferasi senjata nuklir.

Rusia tidak menyerahkan nuklir ke negara sekutu, tetapi hanya menempatkan senjata nuklir taktisnya di wilayah negara sekutu tersebut. Putin mencatat bahwa AS telah mempraktikkan hal itu selama beberapa dekade.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kim Jong-un Janji Kapal...
Kim Jong-un Janji Kapal Perang Korut Dilengkapi Senjata Nuklir, Momok bagi AS
Rusia Klaim Senjata...
Rusia Klaim Senjata Nuklir Jadi Satu-satunya Jaminan pada Perang Global, Ini 3 Alasannya
Tiru Strategi Iran,...
Tiru Strategi Iran, Ukraina Tembakkan 323 Drone ke Wilayah Rusia pada Malam Hari
10 Mata-mata Perang...
10 Mata-mata Perang Dingin yang Tak Pernah Takut Mati
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
Tegang dengan NATO,...
Tegang dengan NATO, Pesawat Pengebom Nuklir Rusia Berkeliaran di Arktik
Teken Kerja Sama Hukum,...
Teken Kerja Sama Hukum, Indonesia dan Rusia Perkuat Mutual Legal Assistance
Gempa Guncang Venezuela,...
Gempa Guncang Venezuela, 18 Orang Diselamatkan dari Reruntuhan
Dobrak Tradisi, Raja...
Dobrak Tradisi, Raja Charles Ungkap Bayar Tagihan Pajak Rp306 Miliar Setahun
Rekomendasi
MNC Sekuritas Hadirkan...
MNC Sekuritas Hadirkan Menu Tools dengan Fitur Screener, Stock Alert, dan Comparison di MotionTrade Lite
THE Sustainability Impact...
THE Sustainability Impact Ratings 2026, Western Sydney University Raih Peringkat 3 Dunia
PNM Mekaar Salurkan...
PNM Mekaar Salurkan Pembiayaan 23,3 Juta Nasabah Prasejahtera
Berita Terkini
Singapura Marah Kapalnya...
Singapura Marah Kapalnya Diserang di Selat Hormuz
Iran Sebut Pernyataan...
Iran Sebut Pernyataan Bersama AS-GCC Provokatif, Serukan Zona Bebas Senjata Nuklir Timur Tengah
Tolak Klaim AS, Iran...
Tolak Klaim AS, Iran Tegaskan Aset yang Dicairkan Tidak untuk Beli Produk Pertanian Amerika
Pemimpin Hizbullah Tegaskan...
Pemimpin Hizbullah Tegaskan Israel Harus Tinggalkan Lebanon Tanpa Syarat
Kim Jong-un Janji Kapal...
Kim Jong-un Janji Kapal Perang Korut Dilengkapi Senjata Nuklir, Momok bagi AS
Awas, Virus Ebola Sudah...
Awas, Virus Ebola Sudah Masuk Prancis, Dibawa Seorang Dokter
Infografis
Jerman Khawatir Bom...
Jerman Khawatir Bom Nuklir AS Tak Bela NATO saat Perang Lawan Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved