Apa Itu MQ-9 Reaper AS, Drone Rp494 Miliar yang Dijatuhkan Jet Tempur Rusia?

Kamis, 16 Maret 2023 - 09:22 WIB
loading...
Apa Itu MQ-9 Reaper...
Drone MQ-9 Reaper Angkatan Udara Amerika Serikat. Militer AS tuduh jet tempur Su-27 Rusia telah jatuhkan drone MQ-9 Reaper ke Laut Hitam. Foto/REUTERS/Janis Laizans
A A A
WASHINGTON - Militer Amerika Serikat (AS) mengatakan drone mata-mata MQ-9 Reaper miliknya telah ditabrak dan dijatuhkan jet tempur Su-27 Rusia di atas Laut Hitam.

Rusia membantah jet tempurnya menjatuhkan drone Reaper Amerika, menegaskan bahwa drone itu jatuh sendiri ke Laut Hitam karena bermanuver tajam.

Seperti apa drone mata-mata canggih itu sehingga menimbulkan kekhawatiran akan eskalasi konflik Ukraina?

Menurut laporan Fox News, drone MQ-9 Reaper Amerika harganya mencapai USD32 juta atau lebih dari Rp494 miliar per unitnya.

Baca Juga: Menegangkan, Jet Tempur Rusia Tabrak dan Jatuhkan Drone MQ-9 Reaper AS

Konfrontasi jarak dekat antara pesawat Barat dan Rusia bukanlah hal yang aneh, tetapi insiden pada Selasa pagi lalu menimbulkan pertaruhan karena menyebabkan pejabat AS harus merelakan pesawat tak berawak itu jatuh ke laut.

Penggunaan drone atau kendaraan udara tak berawak (UAV) di dalam dan sekitar zona perang telah berlangsung selama beberapa dekade. Inilah informasi yang dirangkum Sindonews.com tentang drone MQ-9 Reaper dan bagaimana itu digunakan secara militer.

Apa Itu MQ-9 Reaper?


MQ-9 Reaper adalah pesawat tak berawak besar yang diproduksi oleh kontraktor militer General Atomics.

Ini dioperasikan dari jarak jauh oleh tim dua orang, yang terdiri dari pilot dan anggota awak pesawat yang mengoperasikan sensor dan memandu senjata.

Pesawat ini memiliki panjang 11 meter dengan lebar sayap lebih dari 22 meter. Angkatan Udara AS mengatakan penggunaan utamanya adalah sebagai "aset pengumpulan intelijen". Namun, drone ini juga memiliki kemampuan unik, yakni dapat melakukan serangan presisi terhadap target bernilai tinggi.

Baca Juga: Lindsey Graham: AS Harus Balas Tembak Jatuh Jet Tempur Rusia!

Reaper dapat membawa sebanyak 16 rudal Hellfire, setara dengan kapasitas muatan helikopter Apache.

Reaper, seperti UAV lainnya, mampu terbang di ketinggian 50.000 kaki (15 km) dan dapat berkeliaran di atas target selama sekitar 24 jam, menjadikannya berguna untuk misi pengawasan.

Yang terpenting, semua ini terjadi dengan awak pesawat yang tetap berbasis di daratan Amerika Serikat, jauh dari bahaya.

Selama tahun kalender 2018, MQ-9 Reaper terbang total 325.000 jam untuk Angkatan Udara AS, 91% di antaranya untuk mendukung operasi tempur.

Sejak Kapan Penggunaan Drone Militer?


UAV telah digunakan secara reguler sejak 1995, ketika pendahulu Reaper, Predator, dikerahkan untuk mendukung serangan udara NATO di Serbia.

Predator mendapatkan ketenaran selama perang Irak dan Afghanistan, di mana ia memperoleh reputasi karena menimbulkan banyak korban sipil dalam apa yang disebut "serangan presisi".

Predator telah pensiun pada tahun 2017, ketika Reaper menjadi pesawat tak berawak utama Angkatan Udara AS.

Penggunaan UAV sekarang begitu meluas sehingga pada tahun 2017, di mana Angkatan Udara AS memiliki lebih banyak pekerjaan untuk operator drone daripada jenis pilot lainnya. Saat itu ada 1.000 pilot drone dibandingkan dengan 889 penerbang yang mengemudikan pesawat angkut C-17 dan 803 penerbang F-16.

Bagaimana Drone MQ-9 Reaper Digunakan?


Drone MQ-9 Reaper yang dikerahkan oleh AS ke wilayah Laut Hitam hanya digunakan untuk mata-mata. Namun, tahun lalu media AS melaporkan bahwa Angkatan Udara AS sedang mempertimbangkan untuk menjual drone Reaper tua ke Ukraina.

Kekhawatiran atas transfer teknologi sensitif, dan bahaya bahwa beberapa akan ditembak jatuh, menyebabkan pembicaraan tentang penjualan tersebut terhenti.

Penggunaan UAV di luar zona perang—yang dipercepat di bawah mantan presiden AS Barack Obama—telah menjadi kontroversi.

Menurut Biro Jurnalisme Investigasi (BIJ), ada total 563 serangan, sebagian besar oleh drone, di Pakistan, Somalia dan Yaman selama dua periode Obama, dibandingkan dengan 57 serangan di bawah George W Bush. BIJ memperkirakan antara 384 dan 807 warga sipil tewas.

Pada tahun 2019, presiden AS saat itu Donald Trump mencabut kebijakan era Obama yang mengharuskan intelijen AS untuk mempublikasikan jumlah serangan pesawat tak berawak di luar zona perang, tetapi penggunaan pesawat tak berawak semakin dipercepat selama masa kepresidenannya.

Penelitian oleh BIJ menemukan ada 2.243 serangan drone dalam dua tahun pertama pemerintahan Trump, dibandingkan dengan 1.878 selama delapan tahun kepresidenan Obama.

Negara Mana yang Gunakan Drone Reaper?


AS sejauh ini merupakan pembeli terbesar drone Reaper. Menurut US Congressional Research Service, Angkatan Udara Amerika telah mengontrak 366 Reaper sejak 2007, dengan biaya rata-rata USD28 juta.

Inggris juga telah mengerahkan Reaper, dan pendahulunya Predator, untuk mendukung operasinya selama beberapa tahun. Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) saat ini memiliki sembilan Reaper aktif, dengan lebih banyak dalam proses pemesanan.

Seperti AS, Inggris telah mempercepat penggunaan drone Reaper selama dekade terakhir. Dalam empat tahun perang melawan ISIS di Irak dan Suriah dari 2014-2018, Inggris mengerahkan drone Reaper di lebih dari 2.400 misi—hampir dua kali sehari.

Prancis, Italia, Spanyol, India, Jepang, dan Belanda semuanya juga mengoperasikan drone Reaper.

Banyak negara lain telah mengerahkan UAV dengan desain berbeda.

Pakistan dan Turki telah mengembangkan program mereka sendiri, di mana Turki menggunakan pesawat tak berawak untuk melawan kelompok Kurdi di negaranya sendiri dan Irak utara.

China telah mulai memasok berbagai negara dengan dronenya sendiri, termasuk Uni Emirat Arab, Mesir, Nigeria, Arab Saudi, dan Irak, meskipun tidak setiap negara dapat menyebarkan apa yang telah dibelinya.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rudal Ukraina Hancurkan...
Rudal Ukraina Hancurkan Pabrik Senjata Rusia
Jet Tempur China dan...
Jet Tempur China dan Rusia Kompak Masuk ke Zona Pertahanan Udara Korsel
Ukraina Berusaha Rebut...
Ukraina Berusaha Rebut Kesempatan Pertama untuk Menang, tapi Kenapa Selalu Gagal?
Lebih dari 50.000 Orang...
Lebih dari 50.000 Orang Dilaporkan Hilang akibat Gempa Venezuela
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan...
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan di Teluk yang Rusak Akibat Serangan Iran ke Israel
Lebanon dan Israel Tandatangani...
Lebanon dan Israel Tandatangani Kesepakatan Kerangka Kerja untuk Akhiri Perang
AS Sesumbar Siap Fasilitasi...
AS Sesumbar Siap Fasilitasi Iran jika Lolos 32 Besar Piala Dunia 2026
Update Korban Gempa...
Update Korban Gempa Venezuela: 235 Orang Tewas dan 70.000 Keluarga Terdampak
Harga Minyak Dunia Turun...
Harga Minyak Dunia Turun usai Selat Hormuz Dibuka Lagi, Dekati Level Sebelum Perang AS-Iran
Rekomendasi
Transisi Net Zero Ubah...
Transisi Net Zero Ubah Peran CFO Menjadi Penggerak Transformasi Bisnis
Aroma Konspirasi Mencuat:...
Aroma Konspirasi Mencuat: Gol Dianulir Wasit, Iran Gagal Lolos Otomatis ke Fase Gugur
Raih Penghargaan Infobank,...
Raih Penghargaan Infobank, MNC Guna Usaha Indonesia Catat Kinerja Unggul Selama 10 Tahun Berturut-turut
Berita Terkini
Penasihat Mojtaba Khamenei:...
Penasihat Mojtaba Khamenei: Iran Akan Selalu Cepat dan Tegas Setiap Serangan AS
Rudal Ukraina Hancurkan...
Rudal Ukraina Hancurkan Pabrik Senjata Rusia
UEA Keluarkan Alarm...
UEA Keluarkan Alarm Rudal Iran, Beberapa Detik Kemudian Dicabut, Pemerintah Minta Maaf
Pesawat Tabrak Gedung...
Pesawat Tabrak Gedung Tertinggi di China, 1 Jam Setelahnya Tampak Normal
Jet Tempur China dan...
Jet Tempur China dan Rusia Kompak Masuk ke Zona Pertahanan Udara Korsel
Balas Serangan AS, Iran...
Balas Serangan AS, Iran Gempur Bahrain
Infografis
9 Keunggulan Kapal Selam...
9 Keunggulan Kapal Selam Mini Iran yang Membuat Kapal Induk AS Menjauh
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved