Tolak RUU Agen Asing Gaya Rusia, Demonstran Kepung Parlemen Georgia

Kamis, 09 Maret 2023 - 03:17 WIB
loading...
Tolak RUU Agen Asing...
Tolak RUU Agen Asing gaya Rusia, demonstran kepung parlemen Georgia. Foto/RT
A A A
TBILISI - Ribuan pengunjuk rasa, beberapa mengenakan masker gas dan helm, mengepung gedung parlemen Georgia di Ibu Kota Tbilisi, pada Rabu malam waktu setempat, memprotes undang-undang yang akan mengekang LSM yang didanai asing. Polisi menggunakan gas air mata, meriam air, dan flash-bangs mencoba membubarkan mereka.

Dalam bentrokan terbaru, pengunjuk rasa menggunakan bom molotov dan kembang api untuk melawan polisi, yang memicu respons keras. Menurut media setempat, pihak berwenang berusaha untuk membuka blokir gedung parlemen dan mengusir para demonstran.

Tayangan langsung dari protes tersebut menunjukkan para demonstran berusaha menerobos gerbang dan memasuki gedung parlemen. Beberapa jendela di gedung parlemen pecah. Pada satu titik, suara tembakan terdengar.

Protes dimulai setelah mayoritas parlemen setuju RUU yang mewajibkan organisasi mana pun yang menerima lebih dari 20% pendanaannya dari luar negeri untuk mendaftar sebagai agen asing. Politisi oposisi mengecam proposal tersebut karena meniru undang-undang Rusia dan berpendapat bahwa membahayakan demokrasi Georgia dan integrasi Euro-Atlantik.

Baca Juga: Georgia Rusuh, Demonstran Tolak RUU Agen Asing Gaya Rusia

Polisi berhasil membubarkan kerusuhan di luar gedung parlemen pada Selasa malam, menangkap lebih dari 60 orang karena perilaku tidak tertib. Pada hari Rabu, kelompok oposisi mengeluarkan ultimatum menuntut pembebasan dan pencabutan undang-undang agen asing.

Giorgi Vashadze, yang partainya memiliki tiga kursi di parlemen yang beranggotakan 150 orang, meminta para pengunjuk rasa untuk secara damai dan tanpa kekerasan mengelilingi parlemen.

Amerika Serikat (AS) memberikan suara dukungan kepada para demonstran, dengan kedutaan di Tbilisi mencela pengesahan undang-undang tersebut sebagai "hari gelap bagi demokrasi" di Georgia. Sedangkan Departemen Luar Negeri AS mengatakan Washington mungkin akan menjatuhkan sanksi terhadap pemerintah Georgia atas tindakan keras terhadap aksi protes tersebut.

Presiden Salome Zurabishvili merekam pidato video dari New York pada Selasa malam, juga mencela RUU tersebut dan bersumpah untuk memvetonya. Mantan duta besar Prancis untuk Georgia, Zurabishvili menjadi warga negara Georgia – dan menteri luar negeri – setelah “Revolusi Mawar” yang didukung AS tahun 2003.

Irakli Kobakhidze, pemimpin partai 'Impian Georgia' yang berkuasa, mengecam kelompok oposisi yang berusaha untuk memulihkan revolusi mata-mata yang memberi Georgia sembilan tahun penyiksaan, pemerasan, penyensoran anti-Eropa, dan hilangnya 20% wilayah.

Baca Juga: AS dan Uni Eropa Ancam Georgia karena Ogah Menghukum Rusia

“Masyarakat Georgia cukup dewasa hari ini untuk tidak mengizinkan revolusi baru oleh mata-mata yang sama atau kembali ke masa lalu,” kata Kobakhidze kepada wartawan seperti dikutip dari RT, Kamis (9/3/2023).

Dia meramalkan bahwa pada akhirnya nafsu akan mereda dan undang-undang baru akan memberikan transparansi mengenai siapa yang mendanai organisasi ekstremis yang terlibat dalam “propaganda Bolshevik.”

“Jika kita tidak melindungi negara dari rencana mata-mata, kita tidak hanya tidak akan menjadi anggota Uni Eropa, tetapi kita juga akan kehilangan kedaulatan kita,” kata Kobakhidze.

Beberapa pengkritik undang-undang tersebut mengeluhkan bahwa oposisi merugikan semua orang dengan melabelinya "Rusia", karena proposal yang akhirnya disahkan tidak serepresif alternatifnya, berpola setelah Undang-Undang Pendaftaran Agen Asing diberlakukan oleh AS pada tahun 1938.

Baca Juga: Tolak Kembalikan Senjata Pasokan Ukraina, Georgia Beri Alasan Menohok
(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kekurangan Uang, Ukraina...
Kekurangan Uang, Ukraina Terpaksa Bersekongkol dengan Kartel Narkoba Meksiko
Langka, Putin Akui Rusia...
Langka, Putin Akui Rusia Krisis Bahan Bakar akibat Serangan Ukraina
Putin: Barat Coba Kacaukan...
Putin: Barat Coba Kacaukan Rusia karena Tak Mampu Mengalahkannya di Medan Perang
Inggris Sekarang Tanpa...
Inggris Sekarang Tanpa Kapal Selam Serang Nuklir Aktif, Jadi Tak Berdaya Melawan Rusia
6 Pesawat Pengebom Nuklir...
6 Pesawat Pengebom Nuklir China dan Rusia Manuver Gabungan Dekati Jepang
Finlandia Izinkan Wilayahnya...
Finlandia Izinkan Wilayahnya Jadi Lokasi Pengerahan Senjata Nuklir NATO, Rusia Terancam
Demo Ricuh di Grahadi...
Demo Ricuh di Grahadi Surabaya, Belasan Pendemo Diduga Provokator Ditangkap
Update Gempa Venezuela:...
Update Gempa Venezuela: 1.430 Orang Tewas dan Ribuan Hilang!
Duh, AS-Iran Saling...
Duh, AS-Iran Saling Serang Lagi Gara-Gara Salah Menafsirkan MoU Perjanjian Damai
Rekomendasi
Politikus PDIP Ungkap...
Politikus PDIP Ungkap Anggaran Pelatihan SPPI Lebih Besar untuk Latsarmil ketimbang Substansi Koperasi
Lindungi Bursa Saham...
Lindungi Bursa Saham dari Ancaman Siber, ADIGSI Gandeng APEI
Keamanan Aset Kripto...
Keamanan Aset Kripto Bukan Hanya soal Teknologi, tetapi Kesadaran Pengguna
Berita Terkini
Kekurangan Uang, Ukraina...
Kekurangan Uang, Ukraina Terpaksa Bersekongkol dengan Kartel Narkoba Meksiko
Hanya Iran yang Bisa...
Hanya Iran yang Bisa Membuka Selat Hormuz, Ini 3 Alasannya
Aset Iran yang Dibekukan...
Aset Iran yang Dibekukan Rp107 Triliun Segera Cair, Perundingan Digelar di Qatar
Rusia Alami Krisis BBM...
Rusia Alami Krisis BBM Akibat Serangan Efektif Drone Ukraina, Ini 4 Faktanya
Setelah Mundur, PM Inggris...
Setelah Mundur, PM Inggris Starmer Incar Sekjen NATO
Bantah Militernya Melemah,...
Bantah Militernya Melemah, Iran Klaim Selalu Membuat Terobosan yang Tak Diprediksi Musuh
Infografis
5 Rudal Paling Mematikan...
5 Rudal Paling Mematikan di Dunia, Satan II Rusia Bisa Hancurkan Banyak Kota Sekaligus
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved