AS Pertahankan Kepemimpinan Sains
Kamis, 16 Juli 2020 - 10:07 WIB
loading...
A
A
A
Kebijakan pembatalan pengusiran mahasiswa asing juga merupakan langkah mengejutkan. Pada persidangan yang digelar pada Selasa (14/7) waktu setempat, Hakim Distrik Allison Burroughs di Massachusetts menyebutkan Pemerintah AS dan dua kampus elite AS telah mencapai kesempatan. “Pemerintah AS menarik aturan baru dan kembali pada status quo,” katanya. Sidang itu hanya berlangsung empat menit.
Namun, seorang pejabat senior Departemen Keamanan Dalam Negeri menyatakan pemerintah masih berniat menerbitkan aturan dalam beberapa pekan mendatang mengenai nasib mahasiswa asing yang bertahan di AS dengan menjalani kuliah online. “Detail mengenai aturan itu masih didiskusikan,” ujar pejabat yang enggan disebutkan namanya, dilansir Reuters. (Baca juga: Neraca Dagang Juni Diprediksi Surplus, tapi Lebih Kontet)
Koalisi pemerintah negara bagian AS yang juga mengajukan gugatan hukum menyebutkan pemerintahan Trump telah bertindak sepihak. Trump telah menjadikan kesehatan mahasiswa dan komunitas semakin berisiko. “Di tengah krisis ekonomi dan kesehatan publik, kita tidak butuh pemerintah federal membahayakan warga AS dan membuang waktu dengan kebijakan yang berbahaya,” ucap Jaksa Agung Negara Bagian California Xavier Becerra.
Sebelumnya, dua kampus paling bergengsi di AS, Universitas Harvard dan Massachusetts Institute of Technology (MIT), mengajukan gugatan hukum dan meminta pengadilan untuk membatalkan peraturan yang mengancam mahasiswa internasional akan dideportasi. Aksi dua kampus itu juga didukung koalisi kampus AS.
Gugatan diajukan kepada Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) yang sebelumnya menyatakan pelajar asing yang kegiatan belajar mengajarnya pindah menuju kelas online akibat wabah virus corona Covid-19 harus pulang ke negara asalnya. Baik Harvard dan MIT menilai kebijakan ICE berjalan tanpa indikasi telah mempertimbangkan kesehatan siswa, staf pengajar, staf universitas, atau komunitas dan meninggalkan ratusan ribu mahasiswa internasional tanpa pilihan pendidikan di AS.
Biaya kuliah dari mahasiswa internasional menjadi sumber pendapatan utama bagi universitas. Departemen Pendidikan AS menyebutkan, lebih dari 20% pendapatan kampus berasal dari biaya kuliah mahasiswa. Apalagi, mahasiswa internasional harus membayar kuliah lebih mahal dibandingkan mahasiswa asal AS. Mahasiswa internasional bisa membayar kuliah dua kali lipat dibandingkan mahasiswa AS.
Namun, seorang pejabat senior Departemen Keamanan Dalam Negeri menyatakan pemerintah masih berniat menerbitkan aturan dalam beberapa pekan mendatang mengenai nasib mahasiswa asing yang bertahan di AS dengan menjalani kuliah online. “Detail mengenai aturan itu masih didiskusikan,” ujar pejabat yang enggan disebutkan namanya, dilansir Reuters. (Baca juga: Neraca Dagang Juni Diprediksi Surplus, tapi Lebih Kontet)
Koalisi pemerintah negara bagian AS yang juga mengajukan gugatan hukum menyebutkan pemerintahan Trump telah bertindak sepihak. Trump telah menjadikan kesehatan mahasiswa dan komunitas semakin berisiko. “Di tengah krisis ekonomi dan kesehatan publik, kita tidak butuh pemerintah federal membahayakan warga AS dan membuang waktu dengan kebijakan yang berbahaya,” ucap Jaksa Agung Negara Bagian California Xavier Becerra.
Sebelumnya, dua kampus paling bergengsi di AS, Universitas Harvard dan Massachusetts Institute of Technology (MIT), mengajukan gugatan hukum dan meminta pengadilan untuk membatalkan peraturan yang mengancam mahasiswa internasional akan dideportasi. Aksi dua kampus itu juga didukung koalisi kampus AS.
Gugatan diajukan kepada Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) yang sebelumnya menyatakan pelajar asing yang kegiatan belajar mengajarnya pindah menuju kelas online akibat wabah virus corona Covid-19 harus pulang ke negara asalnya. Baik Harvard dan MIT menilai kebijakan ICE berjalan tanpa indikasi telah mempertimbangkan kesehatan siswa, staf pengajar, staf universitas, atau komunitas dan meninggalkan ratusan ribu mahasiswa internasional tanpa pilihan pendidikan di AS.
Biaya kuliah dari mahasiswa internasional menjadi sumber pendapatan utama bagi universitas. Departemen Pendidikan AS menyebutkan, lebih dari 20% pendapatan kampus berasal dari biaya kuliah mahasiswa. Apalagi, mahasiswa internasional harus membayar kuliah lebih mahal dibandingkan mahasiswa asal AS. Mahasiswa internasional bisa membayar kuliah dua kali lipat dibandingkan mahasiswa AS.
Lihat Juga :