Kematian Akibat Covid-19 Turun di Eropa, Sejumlah Negara Perlonggar Lockdown

Selasa, 28 April 2020 - 11:14 WIB
Namun, WHO menyatakan pasien sembuh tidak imun terhadap infeksi kedua. Karena itu, otoritas terkait di seluruh dunia diminta waspada agar tidak terjadi wabah Covid-19 gelombang kedua.

Wabah Covid-19 telah memaksa lebih dari separuh penduduk bumi mengisolasi diri di rumah dan menyebabkan resesi terburuk sejak be-berapa dekade terakhir. Sejauh ini total 203.000 orang telah tewas dalam lima bulan terakhir, separuh di antaranya merupakan penduduk Eropa.

Negara Eropa yang terdam-pak paling buruk, seperti Italia,Spanyol, Prancis, dan Inggris,melaporkan adanya perkem-bangan positif. Selain angka ke-matian menurun, angka pasienyang terinfeksi Covid-19 jugamulai melambat dibandingkandengan beberapa pekan lalu.

Di Swiss, salon, tempat spa,dan pusat perkebunan jugadiperbolehkan buka kembali.“Ya, bagus, tapi kami juga harusmulai membayar tagihan,” kataFlorian, manajer salon di Lau-sanne, Swiss. Dia menambah-kan, seluruh karyawannya akanmengenakan masker.

Saat ini perusahaan dan pemerintah dunia juga tidak bisa menghapus trauma akibat Covid-19. Beberapa pemerintah bahkan mengharuskan penduduknya memperoleh surat keterangan sehat sebelum bisa kembali bekerja atau pergi ke berbagai tempat.

“Saya berharap dapat memperoleh surat itu sehingga bisa menjenguk ibu saya,” kata Lothar Kopp, warga Berlin yang pernah terinfeksi Covid-19. (Muh Shamil)
(ysw)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!