Kuliah Online, Mahasiswa Asing di AS Terancam Dideportasi
Selasa, 07 Juli 2020 - 22:47 WIB
Pemerintahan Trump telah membuat serangkaian perubahan pada sistem imigrasi AS, dengan mengutip pandemi virus Corona yang telah mengakibatkan pembatasan petak imigran untuk datang ke negara itu.
Bulan lalu, Gedung Putih mengeluarkan pengumuman imigrasi yang secara dramatis membatasi imigrasi legal ke AS mengirim ratusan orang dan dunia usaha ke dalam perselisihan terkait rencana masa depan mereka.
Dalam pengumuman tersebut, pemerintah berpendapat bahwa "keadaan luar biasa" yang ditimbulkan oleh virus Corona memaksa penangguhan vias berbasis pekerjaan. Tetapi advokat imigran, industri dan para ahli mengatakan pemerintah mengambil keuntungan dari pandemi untuk melakukan perubahan imigrasi dan memajukan agendanya untuk memangkas imigrasi ilegal.
Pengumuman ini, seperti perubahan yang mendahuluinya, juga dapat mengakibatkan banyak siswa asing yang telah membayar uang sekolah untuk harus kembali ke negara asal mereka.
Menurut Lembaga Kebijakan Migrasi, sebuah lembaga think tank yang berbasis di Washington, sekitar 1,2 juta siswa yang termasuk dalam visa yang terkena dampak terdaftar dan tercatat di lebih dari 8.700 sekolah di seluruh negeri pada Maret 2018.
Bulan lalu, Gedung Putih mengeluarkan pengumuman imigrasi yang secara dramatis membatasi imigrasi legal ke AS mengirim ratusan orang dan dunia usaha ke dalam perselisihan terkait rencana masa depan mereka.
Dalam pengumuman tersebut, pemerintah berpendapat bahwa "keadaan luar biasa" yang ditimbulkan oleh virus Corona memaksa penangguhan vias berbasis pekerjaan. Tetapi advokat imigran, industri dan para ahli mengatakan pemerintah mengambil keuntungan dari pandemi untuk melakukan perubahan imigrasi dan memajukan agendanya untuk memangkas imigrasi ilegal.
Pengumuman ini, seperti perubahan yang mendahuluinya, juga dapat mengakibatkan banyak siswa asing yang telah membayar uang sekolah untuk harus kembali ke negara asal mereka.
Menurut Lembaga Kebijakan Migrasi, sebuah lembaga think tank yang berbasis di Washington, sekitar 1,2 juta siswa yang termasuk dalam visa yang terkena dampak terdaftar dan tercatat di lebih dari 8.700 sekolah di seluruh negeri pada Maret 2018.
(ber)
Lihat Juga :