Profil Chiang Kai-shek, Pendiri Pemerintahan Demokratis Taiwan

Jum'at, 19 Agustus 2022 - 07:35 WIB
Pergaulannya itu mengubah Chiang menjadi sosok republikanisme yang sangat revolusioner. Usai mendengar pecahnya Revolusi China di tahun 1911, Chiang kembali ke negaranya dan membantu pertempuran melawan Manchu.

Menurut Britannica, Chiang kembali berjuang dalam aksi revolusioner lainnya di tahun 1913 sampai 1916, dalam rangka melakukan perlawanan terhadap Yuan Shikai, sang presiden baru sekaligus calon kaisar China.

Pada tahun 1918, Ciang Kai-shek bergabung dengan Partai Nasionalis atau yang lebih dikenal dengan Kuomintang, milik Sun Yat-sen.

Dengan dukungan yang kuat dari Sun, Chiang langsung mendirikan akademi militer di wilayah Whampoa pada tahun 1924 dan mulai membangun tentara nasionalis, berdasarkan pengamatan yang ia lakukan ketika melakukan kunjungan ke Uni Soviet.

Setelah Sun meninggal dunia di tahun 1925, unsur-unsur yang ada di dalam KMT (Kuomintang) mulai sedikit demi sedikit berbenturan.

Chiang lalu sukses memimpin kampanye militer China dan melawan panglima perang Negeri Tirai Bambu itu.

Sekitar tahun 1928, Chiang Kai-shek mendirikan pusat pemerintahan baru di Nanking dan menjadikan dirinya sendiri sebagai Presiden Republik China.

Saat menjadi presiden, Chiang berusaha semaksimal mungkin untuk menjalankan pemerintahan dan melembagakan program reformasi yang sederhana.

Termasuk di dalamnya, reformasi pendidikan dan keuangan. Ia juga turut andil dalam kebangkitan konfusianisme.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!