AS akan Jual Drone Tempur Grey Eagle ke Ukraina, Bisa Bawa Rudal Hellfire
Kamis, 02 Juni 2022 - 11:18 WIB
MQ-1C Gray Eagle sedang menjalankan misi di udara. Foto/us army
WASHINGTON - Di tengah konflik yang sedang berlangsung, Ukraina telah menggunakan berbagai sistem udara tak berawak (drone) jarak pendek yang lebih kecil untuk melawan angkatan bersenjata Rusia dan republik Donbass.
Bayraktar-TB2 Turki dan AeroVironment RQ-20 Puma AE adalah dua di antaranya. Beberapa drone jatuh ke tangan Rusia dalam kondisi sempurna, saat tentara Ukraina lari menyelamatkan diri.
“Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden berencana mengirim Ukraina empat drone MQ-1C Gray Eagle yang dapat dilengkapi dengan rudal Hellfire untuk digunakan di medan perang melawan Rusia,” papar laporan Reuters pada Rabu (1/6/2022).
Baca juga: Inilah Kehebatan Artileri Roket HIMARS yang Dikirim AS ke Ukraina
Sumber yang dirahasiakan di Gedung Putih mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa penjualan drone buatan General Atomics itu mungkin masih ditolak oleh Kongres, dan ada kemungkinan perubahan kebijakan pada menit terakhir yang menyabotase rencana tersebut, yang dilaporkan sedang ditinjau di Pentagon selama beberapa pekan.
Baca juga: Anggota Parlemen Rusia Ungkap Cara Operasi ke Ukraina Berakhir
Penjualan tersebut dikatakan signifikan karena ini adalah pertama kalinya sistem canggih AS yang dapat digunakan kembali yang mampu melakukan banyak serangan dikerahkan terhadap Rusia di wilayah operasi militer khusus.
Bayraktar-TB2 Turki dan AeroVironment RQ-20 Puma AE adalah dua di antaranya. Beberapa drone jatuh ke tangan Rusia dalam kondisi sempurna, saat tentara Ukraina lari menyelamatkan diri.
“Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden berencana mengirim Ukraina empat drone MQ-1C Gray Eagle yang dapat dilengkapi dengan rudal Hellfire untuk digunakan di medan perang melawan Rusia,” papar laporan Reuters pada Rabu (1/6/2022).
Baca juga: Inilah Kehebatan Artileri Roket HIMARS yang Dikirim AS ke Ukraina
Sumber yang dirahasiakan di Gedung Putih mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa penjualan drone buatan General Atomics itu mungkin masih ditolak oleh Kongres, dan ada kemungkinan perubahan kebijakan pada menit terakhir yang menyabotase rencana tersebut, yang dilaporkan sedang ditinjau di Pentagon selama beberapa pekan.
Baca juga: Anggota Parlemen Rusia Ungkap Cara Operasi ke Ukraina Berakhir
Penjualan tersebut dikatakan signifikan karena ini adalah pertama kalinya sistem canggih AS yang dapat digunakan kembali yang mampu melakukan banyak serangan dikerahkan terhadap Rusia di wilayah operasi militer khusus.
Lihat Juga :