Krisis Parah, Sri Lanka Nyatakan Default Alias Gagal Bayar Utang
Selasa, 12 April 2022 - 22:50 WIB
Kementerian Keuangan mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa Sri Lanka telah menemukan dirinya dalam situasi yang mengerikan karena dampak pandemi COVID-19 dan dampak dari perang Rusia di Ukraina.
Menurut kementerian tersebut, kreditur negara kepulauan itu, termasuk pemerintah asing, bebas untuk memanfaatkan pembayaran bunga apa pun yang harus mereka bayar atau memilih pengembalian dalam rupee Sri Lanka.
Baca juga: Listrik Padam 13 Jam Tiap Hari, Rakyat Marah dan Coba Serbu Rumah Presiden Sri Lanka
Sri Lanka telah menyaksikan gelombang protes dengan kekerasan sejak pertengahan Maret ketika ribuan orang turun ke jalan untuk mengekspresikan kemarahan tentang kekurangan makanan dan bahan bakar di tengah rekor inflasi.
Kirisis ekonomi yang parah semakin diperburuk oleh krisis politik. Seminggu yang lalu, pemerintah negara itu telah mengundurkan diri, di mana Presiden Gotabaya Rajapaksa dan kakak laki-lakinya Perdana Menteri Mahinda Rajapaksa, yang bertahan dengan jabatan mereka dan berjuang untuk membentuk kabinet baru.
Menurut kementerian tersebut, kreditur negara kepulauan itu, termasuk pemerintah asing, bebas untuk memanfaatkan pembayaran bunga apa pun yang harus mereka bayar atau memilih pengembalian dalam rupee Sri Lanka.
Baca juga: Listrik Padam 13 Jam Tiap Hari, Rakyat Marah dan Coba Serbu Rumah Presiden Sri Lanka
Sri Lanka telah menyaksikan gelombang protes dengan kekerasan sejak pertengahan Maret ketika ribuan orang turun ke jalan untuk mengekspresikan kemarahan tentang kekurangan makanan dan bahan bakar di tengah rekor inflasi.
Kirisis ekonomi yang parah semakin diperburuk oleh krisis politik. Seminggu yang lalu, pemerintah negara itu telah mengundurkan diri, di mana Presiden Gotabaya Rajapaksa dan kakak laki-lakinya Perdana Menteri Mahinda Rajapaksa, yang bertahan dengan jabatan mereka dan berjuang untuk membentuk kabinet baru.
(min)
Lihat Juga :