Ketika Museum Belanda Pamerkan Dokumentasi Perjuangan Kemerdekaan Indonesia
Kamis, 10 Februari 2022 - 16:04 WIB
Pameran ini menampilkan benda-benda milik 23 saksi mata perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Salah satu pameran yang pedih adalah baju bekas peluru milik Tjokorda Rai Pudak, seorang pejuang kemerdekaan Indonesia berusia 42 tahun yang ditembak mati pada 9 Oktober 1946, sehari setelah dia ditangkap oleh milisi Bali yang didukung oleh pasukan Belanda.
Lainnya adalah lukisan cat air kecil Mohammad Toha, 11 tahun pada saat itu, yang mendokumentasikan pendaratan pasukan kolonial Belanda di kota Yogyakarta pada bulan Desember 1948.
Lukisan aquarelle, kecil sehingga tidak dapat ditemukan, menunjukkan pesawat pengebom Belanda di atas kota, pasukan terjun payung Belanda mendarat dan korban di pemakaman.
Juga dipamerkan adalah mantel pagi yang dibuat oleh wanita Belanda; Jeanne Van Leur-de Loos, dari peta sutra yang digunakan oleh tentara Inggris.
“Semakin Anda menceritakan kisah-kisah ini, semakin dekat Anda dengan masa lalu,” kata Bonnie Triyana, sejarawan Indonesia dan kurator tamu pameran tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, Belanda akhirnya mulai bergulat dengan warisan sejarah kolonialismenya.
Rijksmuseum tahun lalu menggelar pameran sejarah perbudakan Belanda.
Tetapi pendudukan Belanda selama tiga abad di Indonesia, yang dulu dikenal sebagai Hindia Belanda, khususnya tetap menjadi subjek yang lembut di Belanda.
Salah satu pameran yang pedih adalah baju bekas peluru milik Tjokorda Rai Pudak, seorang pejuang kemerdekaan Indonesia berusia 42 tahun yang ditembak mati pada 9 Oktober 1946, sehari setelah dia ditangkap oleh milisi Bali yang didukung oleh pasukan Belanda.
Lainnya adalah lukisan cat air kecil Mohammad Toha, 11 tahun pada saat itu, yang mendokumentasikan pendaratan pasukan kolonial Belanda di kota Yogyakarta pada bulan Desember 1948.
Lukisan aquarelle, kecil sehingga tidak dapat ditemukan, menunjukkan pesawat pengebom Belanda di atas kota, pasukan terjun payung Belanda mendarat dan korban di pemakaman.
Juga dipamerkan adalah mantel pagi yang dibuat oleh wanita Belanda; Jeanne Van Leur-de Loos, dari peta sutra yang digunakan oleh tentara Inggris.
“Semakin Anda menceritakan kisah-kisah ini, semakin dekat Anda dengan masa lalu,” kata Bonnie Triyana, sejarawan Indonesia dan kurator tamu pameran tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, Belanda akhirnya mulai bergulat dengan warisan sejarah kolonialismenya.
Rijksmuseum tahun lalu menggelar pameran sejarah perbudakan Belanda.
Tetapi pendudukan Belanda selama tiga abad di Indonesia, yang dulu dikenal sebagai Hindia Belanda, khususnya tetap menjadi subjek yang lembut di Belanda.
Lihat Juga :