Raja Salman Sembunyi di Istana Gurun Arab Saudi 482 Hari, Ada Apa?

Kamis, 09 Desember 2021 - 12:42 WIB
Putra Mahkota Arab Saudi secara historis memiliki kekuatan besar, tetapi MBS telah melampaui banyak pendahulunya dalam hal ambisi dan pengaruh.

Namun, sebagian alasan MBS tidak menghadapi oposisi publik terhadap pemerintahannya adalah karena ia telah menindak mereka.

Pada akhir 2017, lusinan bangsawan ditangkap dan ditahan di hotel Ritz-Carlton Riyadh sebagai bagian dari gerakan “anti-korupsi” yang dipimpin oleh MBS.

Pada tahun 2020, Mohammed bin Nayef, mantan putra mahkota, ditangkap dan ditempatkan di bawah tahanan rumah. Para bangsawan yang dianggap memiliki hubungan dengan Mohammed bin Nayef, seperti Pangeran Faisal bin Abdullah al-Saud dan Putri Basmah binti Saud, telah menghilang dari mata publik selama lebih dari setahun.

Pada Agustus 2020, Saad al-Jabri, mantan pejabat tinggi intelijen Saudi yang dekat dengan Mohammed bin Nayef, menuduh MBS mengirim regu pembunuh ke Kanada untuk membunuhnya dua tahun sebelumnya. Namun, tuduhan itu dibantah MBS.

Dua minggu sebelum tanggal al-Jabri mengatakan MBS mencoba membunuhnya, sekelompok agen negara Saudi membunuh jurnalis pembangkang Jamal Khashoggi di Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki.

Badan Intelijen Pusat (CIA) Amerika Serikat kemudian menyimpulkan bahwa MBS kemungkinan memerintahkan pembunuhan terhadap Khashoggi.

Sebagai akibat dari pembunuhan Khashoggi, Presiden AS Joe Biden secara efektif menurunkan "pangkat" MBS, dengan mengatakan pada Februari bahwa rekan Biden adalah Raja Salman. Dengan logika itu, ketika MBS menjadi raja, dia akan menjadi setara secara diplomatik dengan presiden AS.

Terlepas dari reaksi internasional terhadap tindakan kerasnya, semua tanda menunjukkan MBS akan mulus naik takhta ketika Raja Salman meninggal suatu saat.

"Saya tidak berharap akan ada perlawanan," kata Hakyel.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!