Meski Jalin Hubungan dengan China, Mikronesia Jadi Pangkalan Militer Baru AS
Selasa, 31 Agustus 2021 - 14:00 WIB
Berbicara kepada Australian Broadcasting Corporation (ABC) setelah pertemuan tingkat tinggi, Panuelo mengatakan bahwa sementara negara kecil berpenduduk 58.000 orang itu mempertahankan hubungan diplomatik dengan China, dia tidak melihat pangkalan militer baru AS akan merusak hubungan tersebut.
“Freely Associated States [FAS atau Negara Asosiasi Bebas] adalah bagian dari tanah air, dan karenanya, kami dilindungi oleh Amerika Serikat,” katanya, mengacu pada pengaturan "negara klien khusus" di mana FSM, serta tetangga Palau dan Republik Kepulauan Marshall, mendapatkan akses ke bantuan federal AS dengan imbalan mengizinkan militer AS beroperasi di wilayah mereka dan meminta tanah untuk pangkalan.
Perjanjian 20 tahun antara AS dan negara-negara Pasifik itu akan diperbarui pada tahun 2024.
Kesepakatan untuk pendirian pangkalan militer baru AS itu mendapat respons publik Mikronesia.
“Setiap kali ada perubahan mendadak pada tanah, Anda memengaruhi identitas kami sebagai penduduk asli pulau,” kata Sam Illesugam, penduduk asli Mikronesia dari negara bagian Yap barat, kepada Public Radio International pekan lalu.
"Ini akan mengubah lanskap sosial pulau-pulau kita. Pulau kami sangat, sangat kecil. Segala jenis perubahan gaya hidup kita akan sangat memengaruhi kita," ujarnya.
Baca juga: Ini Penampakan Tentara Terakhir AS yang Tinggalkan Afghanistan
Posisi strategis Mikronesia dan pulau-pulau Pasifik tetangga tidak luput dari perhatian para pemikir pertahanan AS dalam beberapa tahun terakhir. Pada September 2019, sebuah laporan oleh Rand Corporation menyebut FASsebagai “jalan raya super proyeksi daya yang melintasi jantung Pasifik Utara ke Asia.”
“Freely Associated States [FAS atau Negara Asosiasi Bebas] adalah bagian dari tanah air, dan karenanya, kami dilindungi oleh Amerika Serikat,” katanya, mengacu pada pengaturan "negara klien khusus" di mana FSM, serta tetangga Palau dan Republik Kepulauan Marshall, mendapatkan akses ke bantuan federal AS dengan imbalan mengizinkan militer AS beroperasi di wilayah mereka dan meminta tanah untuk pangkalan.
Perjanjian 20 tahun antara AS dan negara-negara Pasifik itu akan diperbarui pada tahun 2024.
Kesepakatan untuk pendirian pangkalan militer baru AS itu mendapat respons publik Mikronesia.
“Setiap kali ada perubahan mendadak pada tanah, Anda memengaruhi identitas kami sebagai penduduk asli pulau,” kata Sam Illesugam, penduduk asli Mikronesia dari negara bagian Yap barat, kepada Public Radio International pekan lalu.
"Ini akan mengubah lanskap sosial pulau-pulau kita. Pulau kami sangat, sangat kecil. Segala jenis perubahan gaya hidup kita akan sangat memengaruhi kita," ujarnya.
Baca juga: Ini Penampakan Tentara Terakhir AS yang Tinggalkan Afghanistan
Posisi strategis Mikronesia dan pulau-pulau Pasifik tetangga tidak luput dari perhatian para pemikir pertahanan AS dalam beberapa tahun terakhir. Pada September 2019, sebuah laporan oleh Rand Corporation menyebut FASsebagai “jalan raya super proyeksi daya yang melintasi jantung Pasifik Utara ke Asia.”
Lihat Juga :