Israel Ingin Hidup Normal dengan COVID-19 Meski Varian Delta Melanda
Selasa, 13 Juli 2021 - 15:20 WIB
Kementerian Kesehatan Israel menganjurkan lebih banyak dorongan untuk membendung infeksi. Demikian disampaikan Sharon Alroy-Preis, kepala kesehatan masyarakat di Kementerian Kesehatan Israel, kepada Kan Radio pada hari Minggu.
“Mungkin tidak akan ada peningkatan besar pada orang yang sakit parah, tetapi harga dari kesalahan seperti itu yang mengkhawatirkan kami,” katanya.
Baca juga: Baru Keluar Pintu Penjara, Rapper AS Tewas Diberondong 64 Peluru
Tetapi banyak ilmuwan lain yang mendukung strategi PM Bennett.
"Saya sangat mendukung pendekatan Israel," kata Nadav Davidovitch, direktur sekolah kesehatan masyarakat di Universitas Ben Gurion Israel, yang menggambarkannya sebagai "jalan emas" antara pelonggaran pembatasan Inggris dan negara-negara seperti Australia yang mengambil garis yang lebih keras.
Virus Tak Akan Berhenti
Lockdown terakhir Israel diberlakukan pada bulan Desember, sekitar seminggu setelah dimulainya salah satu program vaksinasi tercepat di dunia.
Jumlah kasus infeksi COVID-19 harian baru mencapai sekitar 450. Varian Delta, pertama kali diidentifikasi di India, sekarang mendominasi sekitar 90 persen dari kasus.
“Kami memperkirakan bahwa kami tidak akan mencapai gelombang tinggi kasus parah seperti pada gelombang sebelumnya,” kata Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan, Nachman Ash, pekan lalu.
"Tetapi jika kita melihat bahwa jumlah dan peningkatan kasus parah membahayakan sistem (kesehatan), maka kita harus mengambil langkah lebih lanjut.”
Sekitar 60 persen dari 9,3 juta penduduk Israel telah menerima setidaknya satu suntikan vaksin Pfizer/BioNtech. Pada hari Minggu, pemerintah mulai menawarkan suntikan ketiga kepada orang-orang dengan sistem kekebalan yang terganggu.
Ran Balicer, ketua panel ahli pemerintah untuk COVID-19, mengatakan Israel rata-rata memiliki sekitar lima kasus virus parah dan satu kematian per hari dalam seminggu terakhir, setelah dua minggu tanpa kematian terkait COVID-19.
“Mungkin tidak akan ada peningkatan besar pada orang yang sakit parah, tetapi harga dari kesalahan seperti itu yang mengkhawatirkan kami,” katanya.
Baca juga: Baru Keluar Pintu Penjara, Rapper AS Tewas Diberondong 64 Peluru
Tetapi banyak ilmuwan lain yang mendukung strategi PM Bennett.
"Saya sangat mendukung pendekatan Israel," kata Nadav Davidovitch, direktur sekolah kesehatan masyarakat di Universitas Ben Gurion Israel, yang menggambarkannya sebagai "jalan emas" antara pelonggaran pembatasan Inggris dan negara-negara seperti Australia yang mengambil garis yang lebih keras.
Virus Tak Akan Berhenti
Lockdown terakhir Israel diberlakukan pada bulan Desember, sekitar seminggu setelah dimulainya salah satu program vaksinasi tercepat di dunia.
Jumlah kasus infeksi COVID-19 harian baru mencapai sekitar 450. Varian Delta, pertama kali diidentifikasi di India, sekarang mendominasi sekitar 90 persen dari kasus.
“Kami memperkirakan bahwa kami tidak akan mencapai gelombang tinggi kasus parah seperti pada gelombang sebelumnya,” kata Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan, Nachman Ash, pekan lalu.
"Tetapi jika kita melihat bahwa jumlah dan peningkatan kasus parah membahayakan sistem (kesehatan), maka kita harus mengambil langkah lebih lanjut.”
Sekitar 60 persen dari 9,3 juta penduduk Israel telah menerima setidaknya satu suntikan vaksin Pfizer/BioNtech. Pada hari Minggu, pemerintah mulai menawarkan suntikan ketiga kepada orang-orang dengan sistem kekebalan yang terganggu.
Ran Balicer, ketua panel ahli pemerintah untuk COVID-19, mengatakan Israel rata-rata memiliki sekitar lima kasus virus parah dan satu kematian per hari dalam seminggu terakhir, setelah dua minggu tanpa kematian terkait COVID-19.
Lihat Juga :