Kabur dari Keganasan Junta, Warga Myanmar Minta Perlindungan Milisi
Kamis, 18 Maret 2021 - 22:37 WIB
"Beberapa adalah pemimpin pemogokan, beberapa terlibat dalam CDM (pembangkangan sipil), staf pemerintah ... polisi pembelot serta militer dan kemudian juga beberapa anggota parlemen (anggota parlemen) dan dokter," tuturnya seperti dikutip dari Reuters, Kamis (18/3/2021).
Dia mengatakan sejumlah kecil pengungsi juga mencari perlindungan lebih jauh ke utara, di perbatasan dengan negara bagian Shan, di wilayah yang dikuasai oleh milisi etnis lain.
Lebih dari dua lusin kelompok etnis bersenjata aktif di perbatasan Myanmar, dan KNU termasuk di antara mereka yang mengutuk kudeta tersebut dan berjanji untuk mendukung perlawanan.
Baca juga: Horornya Yangon Jadi Medan Perang, Sudah 200 Lebih Tewas di Myanmar
Padoh Saw Taw Nee mengatakan perjanjian gencatan senjata dengan pemerintah sebelum kudeta menjadi "lumpuh".
"Kami sangat mendukung gerakan CDM dan demonstrasi rakyat," katanya, menggemakan seruan agar Myanmar menjadi federasi demokratis.
Dia mengatakan sejumlah kecil pengungsi juga mencari perlindungan lebih jauh ke utara, di perbatasan dengan negara bagian Shan, di wilayah yang dikuasai oleh milisi etnis lain.
Lebih dari dua lusin kelompok etnis bersenjata aktif di perbatasan Myanmar, dan KNU termasuk di antara mereka yang mengutuk kudeta tersebut dan berjanji untuk mendukung perlawanan.
Baca juga: Horornya Yangon Jadi Medan Perang, Sudah 200 Lebih Tewas di Myanmar
Padoh Saw Taw Nee mengatakan perjanjian gencatan senjata dengan pemerintah sebelum kudeta menjadi "lumpuh".
"Kami sangat mendukung gerakan CDM dan demonstrasi rakyat," katanya, menggemakan seruan agar Myanmar menjadi federasi demokratis.
Lihat Juga :