Hidupkan Perundingan Perdamaian Palestina
Kamis, 03 Desember 2020 - 11:15 WIB
Wilayah Tepi Barat awalnya merupakan wilayah Yordania, termasuk Yerusalem Timur. Namun, kawasan itu jatuh ke tangan Israel setelah Yordania kalah dalam Perang Arab-Israel pada 1967. Saat itu, banyak warga Palestina bermigrasi menuju Yordania. Meski berbeda wilayah, Yordania memiliki hubungan darah dengan Palestina.
“Israel kini sedang berupaya memperluas pencaplokan wilayah dan mempercepat pembangunan pemukiman di kawasan jajahan di Tepi Barat,” ujar Raja Abdullah dan Abbas dalam pernyataan gabungan. Selama 5 tahun terakhir, Trump mengakui pembangunan itu merupakan tindakan yang sah dan tidak melanggar hukum internasional setelah banyak negara yang memprotes.
Abbas yang memutus hubungan dengan Trump sekitar tiga tahun lalu menilai Trump pro-Israel sehingga AS tidak layak lagi memediasi konflik Palestina-Israel. Dia kini akan pergi menuju Kairo, Mesir, untuk mencari dukungan pemulihan perundingan perdamaian sesuai dengan solusi dua negara. Palestina juga sempat meminta Rusia menjadi mediator, tapi ditolak dua kali oleh AS dan Israel. (Baca juga: Perkuliahan Tahun Depan Terapkan Campuran Tatap Muka dan Daring)
Upaya ini mendapatkan dukungan dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB, Antonio Guterres, mendesak pemerintah Palestina dan Israel untuk mencari titik temu dalam membangun perdamaian. Dia memperingatkan agar negara lain tidak memperkeruh suasana dan tetap menahan diri sehingga solusi dua negara berjalan lancar.
“Banyak faktor yang terus menggerus proses perundingan perdamaian, mulai dari perluasan pemukiman ilegal Israel, penggusuran rumah warga Palestina, dan kekerasan militer,” kata Guterres. “Pemimpin Palestina dan Israel memiliki tanggung jawab yang besar untuk mengawal rakyatnya dan mengeksplorasi setiap celah perdamaian demi mencapai perundingan yang adil dan damai.” (Muh Shamil)
“Israel kini sedang berupaya memperluas pencaplokan wilayah dan mempercepat pembangunan pemukiman di kawasan jajahan di Tepi Barat,” ujar Raja Abdullah dan Abbas dalam pernyataan gabungan. Selama 5 tahun terakhir, Trump mengakui pembangunan itu merupakan tindakan yang sah dan tidak melanggar hukum internasional setelah banyak negara yang memprotes.
Abbas yang memutus hubungan dengan Trump sekitar tiga tahun lalu menilai Trump pro-Israel sehingga AS tidak layak lagi memediasi konflik Palestina-Israel. Dia kini akan pergi menuju Kairo, Mesir, untuk mencari dukungan pemulihan perundingan perdamaian sesuai dengan solusi dua negara. Palestina juga sempat meminta Rusia menjadi mediator, tapi ditolak dua kali oleh AS dan Israel. (Baca juga: Perkuliahan Tahun Depan Terapkan Campuran Tatap Muka dan Daring)
Upaya ini mendapatkan dukungan dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB, Antonio Guterres, mendesak pemerintah Palestina dan Israel untuk mencari titik temu dalam membangun perdamaian. Dia memperingatkan agar negara lain tidak memperkeruh suasana dan tetap menahan diri sehingga solusi dua negara berjalan lancar.
“Banyak faktor yang terus menggerus proses perundingan perdamaian, mulai dari perluasan pemukiman ilegal Israel, penggusuran rumah warga Palestina, dan kekerasan militer,” kata Guterres. “Pemimpin Palestina dan Israel memiliki tanggung jawab yang besar untuk mengawal rakyatnya dan mengeksplorasi setiap celah perdamaian demi mencapai perundingan yang adil dan damai.” (Muh Shamil)
(ysw)
Lihat Juga :