Buru Mineral Langka, China Jelajahi Palung dan Antariksa

Rabu, 02 Desember 2020 - 07:23 WIB
China memang sudah lama mengembangkan kapal selam untuk laut dalam. Sebelumnya, China pernah mengembangkan Shenhai Yongshi yang mampu mengangkut tiga peneliti hingga kedalaman 10.000 meter. Pada Juni 2012 silam, China juga pernah memperkenalkan kapal selam laut dalam bernama Jialong, naga laut dalam legenda China. Jialong mampu menyelam hingga kedalaman 7.062 meter di Palung Mariana.

Berbeda dengan Vescovo, tujuan China tentunya bukan penelitian ilmiah. Ye Cong, kepala desainer kapal selama Fendouzhe, mengatakan tujuan utamanya adalah mencari sumber daya alam. “Dengan teknologi penyelaman canggih bisa membantu kita memahami ‘peta harta karun’ di laut dalam,” ujar Ye, kepada kantor berita Xinhua.

Harian People’s Daily, media yang menjadi corong Partai Komunis China , menyebutkan eksplorasi laut dalam itu sangat penting untuk memahami peta strategis internasional. (Baca juga: Covid-19 Bisa Sebabkan Gigi Penderita Tanggal)

“Sebagai contoh, Jepang telah menemukan sumber daya alam langka di Samudra Pasifik di mana itu memiliki cadangan 1.000 kali lebih banyak dibandingkan di tanah,” demikian tulis People’s Daily.

Mereka menyebutkan, lautan menjadi tatanan baru dunia. “Jika kita mengeksplorasi dunia ini, pihak lain akan mengeksplorasinya,” ungkap media tersebut.

China memang kerap berburu rare earth (tanah jarang) yang disebut sebagai hal paling esensial untuk produk berteknologi tinggi seperti sistem radar dan misil. Beijing memang berusaha mengusai dan mendominasi tanah jarang tersebut. Pada Juli lalu, Pemerintah China meningkatkan kuota untuk meningkatkan penambahan rare earth sebanyak 140.000 ton.

Melansir China Daily, pengusaha China juga berinvestasi di perusahaan rare earth di Greenland seiring dengan peningkatan ekonomi di kawasan Artik tersebut. Tapi, kompetisi untuk perebutan rare earth juga terjadi di seluruh dunia. (Baca juga: Moeldoko Ungkap Sulitnya Menumpas Kelompok MIT Pimpinan Ali Kalora)

Pada 2018, para peneliti Jepang menjadi pengubah permainan setelah menemukan pulau kecil bernama Minamitori di Samudra Pasifik. Di pulau tersebut mengandung jutaan ton rare earth yang sangat bernilai di dekat lumpur laut dalam. Pada tahun yang sama, Reuters melaporkan, India menyiapkan USD1 miliar untuk pencarian sumber daya di bawah laut untuk menemukan rare earth atau mineral yang bisa diekstrak.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!