Pompeo: AS Setujui Penjualan 50 Jet Tempur Siluman F-35 ke UEA
Rabu, 11 November 2020 - 01:14 WIB
Jika para anggota Kongres AS menentang kesepakatan itu, mereka memiliki waktu 30 hari untuk menghasilkan resolusi guna memblokir penjualan, meskipun dua pertiga dari anggota Kongres akan diperlukan untuk mengesampingkan veto presiden.
Pemberitahuan informal tentang kesepakatan itu telah diberikan kepada Kongres bulan lalu. (Baca juga: Tak Senang F-35, Israel Incar Jet Tempur Siluman F-22 Raptor Eksklusif )
Laporan niat AS untuk menjual F-35 ke Abu Dhabi mulai muncul pada Agustus, beberapa hari setelah UEA setuju untuk menormalisasi hubungan dengan Israel menyusul negosiasi yang ditengahi oleh Gedung Putih. Itu mengejutkan di Israel, terutama untuk lembaga keamanan negara, yang telah dikecualikan Netanyahu dari negosiasi dengan Abu Dhabi.
Sampai saat itu, AS telah menolak permintaan dari negara-negara di Timur Tengah untuk membeli F-35 terutama karena kekhawatiran bahwa penjualan tersebut akan merusak keunggulan militer kualitatif (QME) Israel, yang secara undang-undang diwajibkan oleh Amerika Serikat untuk memastikan tetap utuh meskipun ada penjualan senjata Amerika di kawasan tersebut.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah berulang kali membantah bahwa dia memberikan persetujuan untuk penjualan F-35 AS ke UEA, serta kendaraan udara tak berawak (drone) canggih dan senjata lainnya, sebagai bagian dari kesepakatan normalisasi hubungan, atau bahwa ada negosiasi rahasia untuk itu. Hal ini telah dipertanyakan secara terbuka oleh Menteri Pertahanan Benny Gantz.
Pada pertemuan Senin Komite Urusan Luar Negeri dan Pertahanan Knesset untuk membahas kesepakatan senjata, anggota komite Nitzan Horowitz—pemimpin partai Meretz—menuduh Netanyahu selama ini mengetahui bahwa F-35 AS akan diberikan ke UEA.
Pemberitahuan informal tentang kesepakatan itu telah diberikan kepada Kongres bulan lalu. (Baca juga: Tak Senang F-35, Israel Incar Jet Tempur Siluman F-22 Raptor Eksklusif )
Laporan niat AS untuk menjual F-35 ke Abu Dhabi mulai muncul pada Agustus, beberapa hari setelah UEA setuju untuk menormalisasi hubungan dengan Israel menyusul negosiasi yang ditengahi oleh Gedung Putih. Itu mengejutkan di Israel, terutama untuk lembaga keamanan negara, yang telah dikecualikan Netanyahu dari negosiasi dengan Abu Dhabi.
Sampai saat itu, AS telah menolak permintaan dari negara-negara di Timur Tengah untuk membeli F-35 terutama karena kekhawatiran bahwa penjualan tersebut akan merusak keunggulan militer kualitatif (QME) Israel, yang secara undang-undang diwajibkan oleh Amerika Serikat untuk memastikan tetap utuh meskipun ada penjualan senjata Amerika di kawasan tersebut.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah berulang kali membantah bahwa dia memberikan persetujuan untuk penjualan F-35 AS ke UEA, serta kendaraan udara tak berawak (drone) canggih dan senjata lainnya, sebagai bagian dari kesepakatan normalisasi hubungan, atau bahwa ada negosiasi rahasia untuk itu. Hal ini telah dipertanyakan secara terbuka oleh Menteri Pertahanan Benny Gantz.
Pada pertemuan Senin Komite Urusan Luar Negeri dan Pertahanan Knesset untuk membahas kesepakatan senjata, anggota komite Nitzan Horowitz—pemimpin partai Meretz—menuduh Netanyahu selama ini mengetahui bahwa F-35 AS akan diberikan ke UEA.
Lihat Juga :