Ulama Turki Fethullah Gulen Kecam Aksi Kekerasan di Prancis

Rabu, 04 November 2020 - 05:41 WIB
"Saya ingin mengungkapkan secara terbuka, bahwa kenyataan ketika para pelaku pelanggaran pada dua peristiwa ini menggunakan argumen-argumen Islami sebagai slogan-slogan agama, lebih membuat kesedihan saya semakin dalam," ujarnya lagi.

Menurutnya, dapat dipahami bahwa kaum muslimin yang meyakini dan menghormati semua nabi dan rasul yang datang dan pergi sejak zaman Nabi Adam. Umat Muslim mengharapkan adanya sikap penghormatan dari lawan bicaranya terhadap Nabi Muhammad SAW.

Sebuah hal khusus yang dapat dipahami jika ada rasa terganggu saat mendapati ungkapan dan tindakan tak pantas terhadap Nabi Muhammad dan tentu saja selalu ada cara-cara positif untuk mengungkapkan perasaan terganggu ini pada dasar, diplomasi dan aturan-aturan hukum kemanusiaan.

"Dalam hal ini, sampai kapan pun terlibat dalam kekerasan sama sekali tak bisa disetujui," katanya. Gulen saat ini masih tinggal di pengasingan di Amerika Serikat (AS). Dia dimusuhi rezim Erdogan dengan dituduh sebagai salah satu dalang kudeta yang gagal beberapa tahun lalu. Gulen telah berkali-kali membantah tuduhan itu.

Apapun keyakinannya, manusia adalah seorang makhluk yang terhormat; dan kehidupan manusia adalah sesuatu yang mulia. "Meremehkan kemuliaan kehidupan manusia ini, sama sekali tak bisa dipantaskan untuk dikaitkan baik pada Islam maupun pada kemanusiaan," katanya.

Ditegaskannya, kekasaran dan kebrutalan bukanlah jalan nabi. Terutama apapun sebabnya, kekasaran dan kebrutalan bukanlah jalan para nabi dan sekalipun terkelabui di balik kiswah agama sekalipun hal itu tak mungkin dipandang sebagai sebuah aktivitas yang akan dikabulkan oleh Islam.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!