Kisah Taryat Suratman, Pengusaha Pertama RI yang Buka Pabrik di Ethiopia

Sabtu, 10 Oktober 2020 - 15:06 WIB
"Produk kita, B-29, sebenarnya masuk Ethiophia, trading, pertama tahun 1990. Trading mempelajari market ternyata potensinya sangat besar. Saat itu populasi Ethiopia 80 juta jiwa," ujarnya.

B-29, kata dia, diproduksi di Indonesia. "Perjalanan ke Djibouti 21 hari, kemudian ditambah 2 minggu ke Ethiopia," ujarnya.

Dubes Basnur mengatakan Ethiophia merupakan negara yang tidak punya laut sehingga tidak mempunyai pelabuhan. "Jadi semua barang masuk melalui Djibouti," katanya.

Taryat mengatakan dia datang ke Ethippia tahun 2002."Sudah ada bagunan untuk pabrik, kemudian meng-install mesin dan produksi. Pabrik joint Indonesia dan Ethiopia berdiri," ujarnya.

Pengusaha ini becerita tentang kondisi Ethiopia saat itu."Kala itu jalanan kecil, sempit, tapi tidak macet. Kendaraan sedikit. Keledai jadi alat transportasi, bahkan mendominasi jalan, menjadi andalan transportasi produk kita. Tak ada rotan akar pun jadi," paparnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!