Tak Mau Tarik Pasukan Zionis, Israel Justru Izinkan Tentara Maroko dan Uganda Berjaga di Rafah
Selasa, 28 Juli 2026 - 03:30 WIB
Israel izinkan tentara Maroko dan Uganda berjaga di Rafah. Foto/X
GAZA - Beberapa bulan setelah Dewan Keamanan PBB mendukung kerangka kerja komprehensif untuk mengakhiri perang genosida Israel di Gaza , kabinet keamanan Israel telah menyetujui proyek percontohan yang sangat terbatas untuk memungkinkan pasukan keamanan asing memasuki kantong sempit wilayah yang hancur tersebut.
Media Israel melaporkan pada hari Minggu bahwa apa yang disebut Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF), bagian dari "rencana perdamaian" 20 poin Presiden Amerika Serikat Donald Trump, akan mencakup 200 anggota dari negara-negara seperti Maroko dan Uganda yang akan ditempatkan di zona "uji coba" yang ditentukan di kota Rafah di selatan.
Meskipun para pejabat internasional menyambut baik langkah tersebut, para analis menggambarkan penempatan terbatas tersebut sebagai isyarat diplomatik yang diperhitungkan dengan sedikit efek praktis yang terjadi ketika proses perdamaian yang didukung AS sebagian besar telah terhenti dan ketika serangan mematikan Israel terus berlanjut.
“Netanyahu pergi ke Washington untuk mengatakan ‘tidak’ pada tuntutan yang lebih luas untuk penarikan pasukan” dari Jalur Gaza, kata Wissam Afifa, seorang analis politik yang berbasis di Gaza. “Sebaliknya, ia menawarkan alternatif ini: ‘Ambillah hidangan pembuka kecil ini, ambillah pencapaian kecil ini, dan bermainlah di ruang yang sangat terbatas ini.’”
Pasukan tersebut akan beroperasi dalam koordinasi penuh dengan militer Israel. Menurut kantor berita Israel Ynet, Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir adalah satu-satunya anggota kabinet yang menentang langkah tersebut, dengan alasan bahwa kelompok Palestina Hamas telah gagal memenuhi komitmennya untuk melucuti senjata dan bersikeras bahwa “solusi di Gaza adalah mendorong migrasi”.
Media Israel melaporkan pada hari Minggu bahwa apa yang disebut Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF), bagian dari "rencana perdamaian" 20 poin Presiden Amerika Serikat Donald Trump, akan mencakup 200 anggota dari negara-negara seperti Maroko dan Uganda yang akan ditempatkan di zona "uji coba" yang ditentukan di kota Rafah di selatan.
Meskipun para pejabat internasional menyambut baik langkah tersebut, para analis menggambarkan penempatan terbatas tersebut sebagai isyarat diplomatik yang diperhitungkan dengan sedikit efek praktis yang terjadi ketika proses perdamaian yang didukung AS sebagian besar telah terhenti dan ketika serangan mematikan Israel terus berlanjut.
Tak Mau Tarik Pasukan Zionis, Israel Justru Izinkan Tentara Maroko dan Uganda Berjaga di Rafah
1. Israel Ingin Memperkuat Fragmentasi Geografis Jalur Gaza
Alih-alih transisi sejati menuju perdamaian, mereka berpendapat, langkah ini adalah manuver politik yang dirancang untuk mengalihkan tekanan AS menjelang kunjungan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu ke Washington minggu ini, sekaligus memperkuat fragmentasi geografis Jalur Gaza.“Netanyahu pergi ke Washington untuk mengatakan ‘tidak’ pada tuntutan yang lebih luas untuk penarikan pasukan” dari Jalur Gaza, kata Wissam Afifa, seorang analis politik yang berbasis di Gaza. “Sebaliknya, ia menawarkan alternatif ini: ‘Ambillah hidangan pembuka kecil ini, ambillah pencapaian kecil ini, dan bermainlah di ruang yang sangat terbatas ini.’”
2. Pasukan Stabilisasi Gaza Bekerja Sama dengan Militer Israel
Harian Israel Haaretz melaporkan bahwa rencana awal mengantisipasi pengerahan 500 pasukan Maroko ke kamp pengungsi di kota tersebut. Pengurangan drastis menjadi hanya 200 pasukan mungkin menunjukkan bahwa kabinet politik-keamanan Israel telah memutuskan untuk membagi pengerahan menjadi tahapan yang lebih kecil dan terkontrol ketat.Pasukan tersebut akan beroperasi dalam koordinasi penuh dengan militer Israel. Menurut kantor berita Israel Ynet, Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir adalah satu-satunya anggota kabinet yang menentang langkah tersebut, dengan alasan bahwa kelompok Palestina Hamas telah gagal memenuhi komitmennya untuk melucuti senjata dan bersikeras bahwa “solusi di Gaza adalah mendorong migrasi”.
Lihat Juga :